Bisnis.com, JAKARTA — PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memberikan pernyataan resmi terkait dengan jejak investasi Google, tata kelola perusahaan, hingga informasi berkaitan dengan pendiri Gojek, Nadiem Makarim.
Manajemen GOTO merilis pernyataan setelah sebelumnya perwakilan perusahaan menjadi salah satu saksi dalam sidang kasus Chromebook di PN Jakarta Pusat.
Manajemen mengatakan Nadiem telah melepaskan seluruh jabatannya di perseroan pada 2019 usai menjabat Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.
“Oleh karena itu, kami mengambil momentum ini untuk memberikan penjelasan terkait perjalanan kami, dari perusahaan rintisan menjadi perusahaan teknologi besar,” tulis Manajemen GOTO dalam situs resmi, dikutip Kamis (26/2/2026).
Manajemen menjelaskan awal mula investasi Google di perusahaan pada 2017. Upaya tanam modal tersebut dilakukan seiring dengan pertumbuhan bisnis dan peluang eksposur terhadap ekonomi digital Indonesia.
Google juga terus berpartisipasi dalam beberapa putaran pendanaan berikutnya bersama banyak investor global lainnya. Sebagian besar investasi Google, dilakukan sebelum 2019 saat Nadiem belum ditunjuk sebagai menteri.
Manajemen GOTO juga menegaskan bahwa investasi Google tidak pernah dilakukan secara terpisah atau eksklusif, dan selalu menjadi bagian dari putaran pendanaan bersama dengan investor lainnya. Google juga tidak pernah menjadi pemegang saham mayoritas maupun pemegang saham pengendali Perseroan.
Perjanjian Pengambilbagian Saham (Shares Subscription Agreement) selalu disetujui dan ditandatangani oleh setiap investor dalam setiap investasi. Hal ini sejalan dengan prosedur standar operasional (Standard Operating Procedure/SOP) bagi perusahaan yang sedang melakukan penggalangan dana.
GOTO juga menjelaskan soal kepemilikan saham, perseroan menegaskan bahwa tidak pernah membeli kembali saham perseroan sendiri (share buyback) dari Google. Namun, terdapat dua transaksi saat perusahaan melakukan pembelian saham perusahaan lain dari Google.
Pertama, pada Mei 2021, ketika Gojek dan Tokopedia bergabung menjadi GOTO. Saat itu, GOTO membeli saham Tokopedia dari Google, yang merupakan salah satu pemegang saham Tokopedia. Proses serupa juga dilakukan antara Perseroan dengan pemegang saham Tokopedia lainnya.
Kedua, pada Oktober 2021, perusahaan membeli saham entitas teknologi keuangan, PT Dompet Karya Anak Bangsa (DKAB), dari beberapa investor, termasuk Google. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari restrukturisasi yang perlu dilakukan oleh Perseroan jelang Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offering/IPO).
“Dalam kedua transaksi tersebut, para investor memutuskan untuk menginvestasikan kembali dana yang diperoleh dengan membeli saham baru GOTO,” tulis manajemen.
Selain itu, hubungan perseroan dengan Google juga telah terjalin sebelum adanya investasi, karena perusahaan menjadi pengguna layanan Google sejak 2015 melalui pembelian layanan infrastruktur komputasi awan (cloud), penggunaan layanan peta (maps), dan periklanan digital.
Lebih lanjut, manajemen juga menjelaskan bahwa pada awalnya berdiri PT Gojek Indonesia (GI) yang dibentuk pada 2010 sebagai entitas operasional awal Gojek, dengan status sebagai Perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Saat itu, operasional GI sebagian besar didanai melalui penggalangan utang karena belum menghasilkan laba.
Pada 2015, bisnis ini telah berkembang melampaui model operasi call center awal, menjadi bisnis teknologi melalui peluncuran aplikasi Gojek. Oleh karena itu, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB), dibentuk sebagai entitas Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) di tahun yang sama.
AKAB menaungi aplikasi dan teknologi, sementara GI terus fokus dalam kegiatan yang mendukung operasional untuk mitra pengemudi.
Dalam rangka persiapan IPO pada 2021, AKAB perlu memperoleh kendali penuh atas GI, yang masih menaungi beberapa operasional Gojek. Oleh karena itu, AKAB melakukan pengambil bagian atas saham baru yang diterbitkan oleh GI, bukan dengan membeli saham yang sudah dimiliki oleh pemegang saham yang ada.
Saat itu, GI telah mengakumulasi jumlah utang sebesar Rp809 miliar kepada AKAB guna membiayai operasionalnya. GI kemudian menggunakan dana hasil penerbitan saham baru untuk melunasi utang tersebut sepenuhnya.
“Tidak ada pemegang saham, termasuk Nadiem, yang menerima hasil dari transaksi tersebut. Seluruh transaksi terjadi hanya antara PT AKAB dan PT GI, dan dilakukan secara profesional serta transparan,” tulis manajemen GOTO.
Pada November 2021, nama AKAB diubah menjadi PT GOTO Gojek Tokopedia. Setelah IPO, status Perseroan berubah dari PMA menjadi PMDN sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Di sisi lain, di bulan Oktober 2019, sebelum Nadiem mengemban jabatan publik, dia mengundurkan diri dari posisinya di GOTO dan tidak lagi memegang peran apapun di dalam Grup GOTO.
Nadiem yang saat itu masih memegang saham mengambil langkah lebih lanjut untuk memisahkan kepentingannya di Perseroan dari tanggung jawabnya sebagai menteri. Kemudian, dia memberikan Surat Kuasa (Power of Attorney) atas hak suara sahamnya kepada Co-founders lainnya, yang melanjutkan jalannya bisnis Perseroan dan grup Perseroan.