Bisnis.com, JAKARTA — Film biografi Michael mencatat debut spektakuler di box office Amerika Utara dengan pendapatan USD97 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Capaian ini sekaligus memecahkan rekor sebagai pembukaan terbesar untuk film biografi musik.
Keberhasilan tersebut kemudian melampaui capaian film sejenis sebelumnya di genre yang sama. Film produksi Lionsgate ini mengungguli Straight Outta Compton dengan USD60,2 juta atau sekitar Rp933 miliar serta Bohemian Rhapsody dengan USD51 juta atau sekitar Rp790 miliar.
Tidak hanya di pasar domestik, performa film ini juga berlanjut kuat di pasar internasional. Film tersebut meraup USD120,4 juta atau sekitar Rp1,86 triliun dari luar Amerika Utara, sehingga total pembukaan global mencapai USD217,4 juta atau sekitar Rp3,37 triliun.
Melihat capaian itu, Ketua Lionsgate, Adam Fogelson, menyebut hasil tersebut sudah terlihat sejak awal proses promosi. Da menilai respons penonton datang dari berbagai kalangan yang menunjukkan ketertarikan tinggi.
“Sejak awal, semua sinyal menunjukkan hal ini mungkin terjadi,” ujarnya dikutip dalam ABC News, Selasa (28/4/2026).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa keterlibatan penonton tidak hanya berasal dari satu segmen tertentu. Hal itu dinilai menjadi faktor penting yang mendorong lonjakan penonton di akhir pekan pembukaan.
“Kami melihat keterlibatan besar dari berbagai segmen penonton yang bisa diidentifikasi,” tambahnya.
Di balik pencapaiannya, film ini mengangkat perjalanan Michael Jackson sebagai sosok legendaris di industri musik dunia. Namun, kisah tersebut juga tidak lepas dari sorotan publik terkait kontroversi yang pernah mengiringi perjalanan hidupnya.
Dalam proses produksinya, film ini sempat menghadapi tantangan yang cukup besar, terutama pada bagian akhir cerita. Sejumlah adegan harus dipotong karena berkaitan dengan kesepakatan hukum lama, sehingga memerlukan pengambilan ulang dengan biaya sekitar USD50 juta atau sekitar Rp775 miliar.
Menanggapi hal tersebut, Adam Fogelson menegaskan bahwa proses produksi tidak berlangsung dalam kondisi panik. Dia menyebut situasi tersebut justru menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan perhitungan matang.
“Saya tidak sepakat jika disebut kami panik,” terangnya.
Dia kemudian menambahkan bahwa kondisi tersebut membuka peluang untuk menyusun cerita dengan pendekatan berbeda. Menurutnya, tim produksi tetap melihat kesempatan di tengah kendala yang ada.
“Ini memang situasi yang unik dan menantang, tetapi memberi peluang untuk menceritakan kisah yang lebih luas,” tegasnya.
Sementara itu, meski sempat mendapat ulasan negatif dari kritikus dengan skor 38 persen di Rotten Tomatoes, respons penonton justru menunjukkan hal berbeda. Film ini bahkan memperoleh nilai “A-” dari CinemaScore yang mencerminkan kepuasan audiens.
Menjelang musim film musim panas, analis Comscore, Paul Dergarabedian, menilai momentum perilisan menjadi salah satu faktor penting. Dia melihat minat penonton meningkat seiring dengan periode tersebut.
“Secara alami orang ingin menikmati film di bioskop,” ujarnya.
Dia juga menilai penempatan jadwal rilis film ini sangat strategis dalam menarik perhatian publik. Hal ini membuat film mampu menjangkau penonton dalam jumlah besar sejak awal penayangan.
“Film ini diposisikan dengan sangat baik menjelang musim film musim panas,” jelasnya.
Sebagai informasi tambahan, performa box office Hollywood secara keseluruhan juga menunjukkan tren positif pada musim semi tahun ini. Sejumlah film lain seperti Project Hail Mary dan The Super Mario Galaxy Movie turut mencatatkan pendapatan yang tinggi.
Dalam daftar box office akhir pekan di Amerika Utara, Film Michael masih berada di posisi teratas dengan selisih yang cukup jauh. Sementara itu, film The Super Mario Galaxy Movie menempati posisi kedua dengan USD21,2 juta atau sekitar Rp328 miliar.
Berikut daftar 10 besar box office akhir pekan di Amerika Utara:
- Michael — USD97 juta atau sekitar Rp1,5 triliun
- The Super Mario Galaxy Movie — USD21,2 juta atau sekitar Rp328 miliar
- Project Hail Mary — USD13,2 juta atau sekitar Rp204 miliar
- Lee Cronin's The Mummy — USD5,6 juta atau sekitar Rp86 miliar
- The Drama — USD2,6 juta atau sekitar Rp40 miliar
- Hoppers — USD1,9 juta atau sekitar Rp29 miliar
- You, Me & Tuscany — USD1,5 juta atau sekitar Rp23 miliar
- Over Your Dead Body — USD1,4 juta atau sekitar Rp21 miliar
- Mother Mary — USD1,2 juta atau sekitar Rp18 miliar
- American Youngboy — USD1,2 juta atau sekitar Rp18 miliar