Bisnis.com, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai memacu pengembangan infrastruktur perangkat keras untuk menyambut era jaringan komunikasi nirkabel generasi keenam (6G).
Riset tersebut berfokus pada perancangan antena mikrostrip berdimensi ekstra kecil serta pemanfaatan satelit orbit rendah. Persiapan teknologi secara mandiri ini dinilai esensial agar Indonesia siap menghadapi komersialisasi jaringan 6G yang diproyeksikan hadir pada 2030.
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi BRIN Yohanes Galih Adhiyoga mengatakan perancangan antena single layer dan multilayer sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan ruang pada perangkat masa depan.
Desain tersebut harus diperhitungkan secara matang karena satu telepon seluler akan memuat berbagai macam antena sekaligus.
“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat,” kata Yohanes dikutip dari siaran resmi, Sabtu (7/3/2026).
Selain perangkat seluler, tim periset turut mengadopsi konsep teknologi Starlink melalui pengembangan sistem phased array untuk komunikasi satelit. Sistem mutakhir ini memungkinkan arah pancaran sinyal bergerak mengikuti lintasan satelit secara elektronik, tanpa memerlukan pergerakan komponen mekanis.
Seluruh proses fabrikasi dan pengujian komponen dilakukan di laboratorium BRIN menggunakan perangkat yang mampu mengukur frekuensi hingga 110 gigahertz.
Inisiatif riset domestik tersebut merespons langsung dinamika kompetisi global yang bergerak cepat menuju era 6G. Berbeda dengan jaringan generasi kelima (5G) yang menggunakan spektrum millimeter-wave, 6G akan beroperasi pada pita frekuensi sub-terahertz hingga terahertz.
Lompatan frekuensi ini memaksa pelaku industri global mengembangkan material canggih jenis metakomposit guna menghasilkan transmisi sinyal dan bandwidth yang optimal.
Secara teknis, jaringan 6G ditargetkan mencapai tingkat latensi mikrodetik, atau seribu kali lipat lebih cepat dibandingkan batas latensi 5G. Berdasarkan proyeksi para pakar industri, kecepatan transfer data 6G berpotensi menembus hingga satu terabit per detik pada kondisi ideal.
Kemampuan transmisi ekstrem tersebut membuka peluang bagi layanan baru bernilai tinggi, seperti video holografik dan sistem kontrol jarak jauh industri yang presisi secara real-time.
Dari sisi operasional dan ekonomi, era 6G diprediksi akan mengubah orientasi bisnis para operator telekomunikasi global. Ke depan, arsitektur 6G akan dirancang ulang untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan korporasi dan kawasan industri.
Fokus baru tersebut menitikberatkan pada peningkatan keandalan, otomatisasi tingkat tinggi, serta integrasi bawaan dengan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan komputasi tepi (edge computing).
Model layanan yang menggabungkan fungsi komunikasi murni dengan komputasi ini diyakini memiliki nilai jual komersial yang jauh lebih kuat.
Saat ini, teknologi 6G masih murni berada dalam fase penelitian tanpa adanya standar global yang mengikat. Kendati demikian, persaingan ekonomi dan geopolitik antarnegara telah memanas, tecermin dari tingginya investasi untuk mengamankan paten dan mendominasi pasar.