KUR BRI sukses mendorong UMKM di Kabanjahe, Karo, Sumut naik kelas. Dari usaha es buah bertransformasi menjadi laundry express. - Bagian all [551] url asal
KARO, iNews.id - Peluang usaha sekecil apapun bisa membuahkan hasil bila dijalani dengan tekad dan kerja keras. Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Sari Handayani Daulay (39), seorang pelaku usaha wanita asal Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Perjalanan bisnis Sari dimulai pada 2015. Dia memulai usaha sederhana dengan membuat es buah dan menjualnya keliling kampung maupun menitipkannya di kedai-kedai kecil sekitar wilayah Karo. Dari usaha sederhana tersebut, Sari mulai melihat peluang lain yaitu jualan mainan anak yang saat itu belum tersedia di daerahnya.
“Awalnya hanya jualan es buah, tapi saya melihat banyak anak-anak di sini yang sulit mendapatkan mainan. Akhirnya saya mulai jualan mainan eceran untuk membantu ekonomi keluarga,” ujar Sari, Kamis (22/1/2026).
Namun, peluang baru itu tidak datang tanpa tantangan. Salah satunya kewajiban memenuhi minimal pengambilan barang agar mendapatkan harga lebih murah dari distributor. Kesulitan modal sempat menghambat pertumbuhan usahanya.
Kesulitan itu perlahan teratasi ketika seorang petugas BRI datang mengunjungi rumah-rumah di lingkungannya. Dari pertemuan itulah Sari mengenal Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
“Jadi ada petugas BRI yang mungkin tahu saya punya usaha, lalu ditawari KUR BRI. Saya dijelaskan apa itu KUR dan persyaratannya dan dari situ saya tertarik mencoba,” tutur dia.
Proses pengajuan KUR terbilang mudah. Pengajuan pertama memberi pinjaman sebesar Rp5 juta, yang kemudian setelah pelunasan meningkat menjadi Rp25 juta pada pengajuan kedua. Dana ini langsung digunakan Sari untuk memperluas usaha, mulai dari merekrut pegawai hingga merintis peluang usaha lain.
Saat pandemi Covid-19 melanda, Sari melihat kebutuhan baru di masyarakat yaitu pendampingan belajar anak yang tidak bisa mengikuti sekolah tatap muka. Dari sinilah lahir bimbingan belajar yang didirikan sendiri.
Tak hanya itu, Sari juga mengembangkan usaha laundry express, yang didukung pinjaman BRI sebesar Rp100 juta pada 2023.
Kini, roda usaha Sari bergerak semakin stabil. Usaha mainan anak kini dilanjutkan oleh sang adik, sementara Sari fokus mengembangkan bimbingan belajar dan laundry express yang semakin ramai pelanggan.
“KUR sangat membantu, terutama di awal menjalankan usaha. Kemajuan bisnis saya sekarang ini tentu berkat KUR BRI. Proses pencairan dana juga cepat, sekitar 3-4 hari. Sebelumnya, kalau pinjam uang di sini kan ke rentenir, duitnya nggak bisa muter, malah habis buat bayar utang. Kalau di BRI bunganya ringan, jadi sebagai pemilik usaha nggak merasa berat,” jelasnya.
Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan KUR BRI ditujukan untuk membantu pelaku UMKM agar semakin produktif. Pembiayaan KUR memberikan dampak nyata terhadap penguatan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.
“Kisah dari Sari Handayani Daulay menjadi salah satu contoh dengan pendanaan KUR, pelaku UMKM di daerah bisa terus berkembang usahanya. Kami juga terus memberikan pendampingan kepada dan pemberdayaan bagi pelaku usaha untuk bisa naik kelas”, kata dia.
Dia menambahkan, KUR BRI bukan hanya sekedar instrumen pembiayaan, tetapi katalis yang mampu menggerakan ekonomi rakyat. Langkah ini merupakan peran BRI dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan UMKM menjadi penopang utamanya.
Hingga Desember 2025, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp178,08 triliun kepada 3,8 juta debitur. Penyaluran KUR BRI didominasi oleh sektor produksi, yang mencakup pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa lainnya, dengan porsi sebesar 64,49 persen dari total penyaluran KUR BRI.
Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp80,09 triliun atau setara 44,97 persen, dari keseluruhan KUR yang telah disalurkan. Capaian ini merefleksikan komitmen BRI dalam memperkuat sektor riil.
SEMARANG, iNews.id - Kehilangan pekerjaan tak membuat seorang Heddy Pamungkas, warga Karang Kebon Utara, Semarang, menyerah dengan keadaan. Untuk memiliki sumber penghasilan baru, Heddy memilih membuka usaha kuliner yang dinamai Angkringan Moses.
Berkat ketekunannya dan dukungan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, usahanya dapat terus tumbuh, pelanggan bertambah, dan ekonomi keluarga ikut terbantu.
Menurutnya, usaha angkringan memiliki prospek yang baik karena banyak peminatnya walapun memiliki banyak rintangan.
“Saat itu memang lagi ramai dan menurut saya bisa untuk usaha jangka panjang. Usaha ini memiliki potensi yang besar namun tak luput dari sejumlah tantangan seperti hujan, karena kami jualan di pinggir jalan raya. Selain itu, kadang ada saja orang yang nakal (mengganggu),” katanya, dikutip Minggu (11/1/2026).
Dari sisi pelanggan pun tak menentu. Lalu lintas jalan besar tidak selalu berbanding lurus dengan pembeli. Meski begitu, lokasi strategis dekat hotel justru menjadi peluang baru Angkringan Moses untuk memperluas segmen pelanggan dari yang sekadar lewat hingga tamu hotel.
“Perkembangannya, pelanggan baru selalu ada. Tapi yang namanya jualan, ya tidak pasti setiap hari. Untuk penjualan harian, lancar, meskipun kadang ada sedikit penurunan. Alhamdulillah masih bisa dibilang lancar,” imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, Heddy mulai merasakan ada banyak kebutuhan yang harus segera dia penuhi. Atas saran tetangga, Heddy memberanikan diri untuk mengajukan KUR BRI. Dengan proses yang cepat dan tanpa jaminan tambahan, Heddy berhasil menerima dana KUR sebesar Rp15 juta. Dana KUR tersebut digunakan sepenuhnya untuk mengembangkan angkringannya.
“Saya mengenal KUR BRI dari tetangga yang menyarankan saya untuk mencoba mengajukan KUR. Prosesnya cepat, satu hari langsung selesai. Malam itu saya pengajuan dan disurvei, besoknya saya diminta ke kantor, tanda tangan dan langsung cair. Dana KUR saya gunakan untuk pengadaan kerupuk, tambah meja, dan mengganti perkakas-perkakas yang sudah lama,” ujarnya.
Dampak bantuan KUR langsung terasa. Fasilitas Angkringan Moses menjadi lebih rapih, gerobak lebih bagus, dan peralatan baru membuat tampilan lebih menarik, terutama bagi pelanggan hotel yang melewati lokasi usahanya.
Bagi Heddy, KUR BRI bukan sekadar tambahan modal, tetapi juga penyelamat usaha kecil seperti dirinya. Dia juga menyadari bahwa KUR memiliki manfaat besar, sehingga dia pun aktif merekomendasikan KUR BRI kepada rekan-rekannya yang sedang merintis usaha.
“Sangat membantu, terutama untuk pedagang kecil seperti saya. KUR ini sangat membantu karena tanpa jaminan dan prosesnya cepat, tidak berbelit-belit. Banyak teman-teman saya yang dulu ragu. Saya bisa menjelaskan bahwa KUR itu bagus dan sangat membantu pedagang kecil,” tambahnya.
Pada kesempatan berbeda, Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa dengan pembiayaan yang memadai dan akses permodalan yang lebih mudah melalui KUR, pelaku usaha memiliki kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kapasitas usahanya, membuka lapangan kerja dan memperkuat daya saing ekonomi daerah.
“BRI senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, terutama pada sektor-sektor produktif. Kisah pelaku usaha Angkringan ini menjadi contoh nyata dukungan KUR dalam mendorong perekonomian masyarakat dan menjadi kisah inspiratif yang dapat ditiru oleh pelaku usaha lainnya,” kata Dhanny.
JAKARTA, iNews.id - Bank Mandiri terus menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor produktif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
Melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), bank berkode saham BMRI ini secara aktif memperluas akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi pilar utama perekonomian nasional.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Presiden Prabowo, khususnya dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ketahanan ekonomi nasional.
Sepanjang 2025, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp40,99 triliun kepada 355.658 pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Dari sisi kualitas, portofolio KUR Bank Mandiri tetap terjaga di level optimal, dengan tingkat kredit bermasalah di bawah 1 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan, penyaluran ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah, perbankan, dan sektor usaha dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi berbasis rakyat.
“Dukungan KUR ini bukan hanya tentang pembiayaan, tetapi juga tentang pemberdayaan. Melalui akses modal yang lebih luas, kami ingin membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas produksi, memperluas lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya saing. Inilah wujud Sinergi Majukan Negeri yang kami jalankan secara berkelanjutan,” ujar Riduan dalam keterangan resminya, Kamis (8/1/2025).
Penyaluran KUR bank dengan logo pita emas itu juga menjadi selaras dengan fokus pemerintah untuk membangun ekonomi kerakyatan. Hal ini terefleksikan dari penyaluran KUR sepanjang 2025 yang didominasi oleh sektor produksi sebesar 61,54 persen atau senilai Rp25,13 triliun.
Secara rinci, sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan nasional menyerap pembiayaan sebesar Rp12,75 triliun atau setara 31,23 persen dari total penyaluran KUR Bank Mandiri.
Selanjutnya, sektor jasa produksi tercatat sebesar Rp8,76 triliun atau 21,45 persen, sektor industri pengolahan Rp3,03 triliun atau 7,43 persen, serta sektor perikanan sebesar Rp562 miliar atau 1,38 persen.
“Melalui skema pembiayaan yang berkelanjutan ini, kami berkomitmen untuk berperan aktif dalam mendorong pergerakan perekonomian nasional, khususnya pada sektor produksi,” kata Riduan.
Lebih lanjut, dalam upaya menjaga kualitas penyaluran KUR, Bank Mandiri menerapkan pendekatan pembiayaan berbasis ekosistem yang terintegrasi dengan nasabah turunan wholesale, khususnya pada sektor-sektor produksi unggulan di berbagai daerah.
Melalui strategi closed-loop, sinergi antara nasabah wholesale, pelaku UMKM, dan mitra usaha dalam satu rantai nilai terus dioptimalkan guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
Selain itu, Bank Mandiri konsisten melayani kebutuhan transaksi harian dan pembayaran angsuran debitur KUR melalui Mandiri Agen (Agen Laku Pandai Mitra Bank Mandiri) yang tersebar di berbagai ekosistem bisnis pelaku UMKM.
Program ini turut dibarengi dengan edukasi layanan keuangan dan literasi digital agar pelaku usaha dapat mengelola keuangan secara inklusif dan modern.
Ke depan, Bank Mandiri siap mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi penyaluran KUR pada tahun 2026. Komitmen tersebut dijalankan melalui penguatan strategi pembiayaan berbasis ekosistem, lewat sinergi antar Mandiri Group yang terintegrasi.
Riduan menilai, program yang diorkestrasi oleh pemerintah ini diyakini dapat memberikan nilai tambah bagi kinerja perseroan.
Dengan pertumbuhan bisnis yang sejalan dengan penguatan sektor riil, Bank Mandiri diharapkan dapat terus meningkatkan daya saing, memperkuat fundamental usaha, serta tumbuh secara berkelanjutan sebagai bank nasional yang unggul.
“Melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah serta dukungan ekosistem yang terdigitalisasi, kami memastikan penyaluran KUR dapat dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. UMKM yang tangguh akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan menjadi fondasi bagi ketahanan pangan, serta kesejahteraan nasional,” ucapnya.
JAKARTA, iNews.id - Bank Mandiri terus menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor produktif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
Melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), bank berkode saham BMRI ini secara aktif memperluas akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi pilar utama perekonomian nasional.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Presiden Prabowo, khususnya dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ketahanan ekonomi nasional.
Sepanjang 2025, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR sebesar Rp40,99 triliun kepada 355.658 pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Dari sisi kualitas, portofolio KUR Bank Mandiri tetap terjaga di level optimal, dengan tingkat kredit bermasalah di bawah 1 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan, penyaluran ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah, perbankan, dan sektor usaha dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi berbasis rakyat.
“Dukungan KUR ini bukan hanya tentang pembiayaan, tetapi juga tentang pemberdayaan. Melalui akses modal yang lebih luas, kami ingin membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas produksi, memperluas lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya saing. Inilah wujud Sinergi Majukan Negeri yang kami jalankan secara berkelanjutan,” ujar Riduan dalam keterangan resminya, Kamis (8/1/2025).
Penyaluran KUR bank dengan logo pita emas itu juga menjadi selaras dengan fokus pemerintah untuk membangun ekonomi kerakyatan. Hal ini terefleksikan dari penyaluran KUR sepanjang 2025 yang didominasi oleh sektor produksi sebesar 61,54 persen atau senilai Rp25,13 triliun.
Secara rinci, sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan nasional menyerap pembiayaan sebesar Rp12,75 triliun atau setara 31,23 persen dari total penyaluran KUR Bank Mandiri.
Selanjutnya, sektor jasa produksi tercatat sebesar Rp8,76 triliun atau 21,45 persen, sektor industri pengolahan Rp3,03 triliun atau 7,43 persen, serta sektor perikanan sebesar Rp562 miliar atau 1,38 persen.
“Melalui skema pembiayaan yang berkelanjutan ini, kami berkomitmen untuk berperan aktif dalam mendorong pergerakan perekonomian nasional, khususnya pada sektor produksi,” kata Riduan.
Lebih lanjut, dalam upaya menjaga kualitas penyaluran KUR, Bank Mandiri menerapkan pendekatan pembiayaan berbasis ekosistem yang terintegrasi dengan nasabah turunan wholesale, khususnya pada sektor-sektor produksi unggulan di berbagai daerah.
Melalui strategi closed-loop, sinergi antara nasabah wholesale, pelaku UMKM, dan mitra usaha dalam satu rantai nilai terus dioptimalkan guna meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan bisnis.
Selain itu, Bank Mandiri konsisten melayani kebutuhan transaksi harian dan pembayaran angsuran debitur KUR melalui Mandiri Agen (Agen Laku Pandai Mitra Bank Mandiri) yang tersebar di berbagai ekosistem bisnis pelaku UMKM.
Program ini turut dibarengi dengan edukasi layanan keuangan dan literasi digital agar pelaku usaha dapat mengelola keuangan secara inklusif dan modern.
Ke depan, Bank Mandiri siap mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi penyaluran KUR pada tahun 2026. Komitmen tersebut dijalankan melalui penguatan strategi pembiayaan berbasis ekosistem, lewat sinergi antar Mandiri Group yang terintegrasi.
Riduan menilai, program yang diorkestrasi oleh pemerintah ini diyakini dapat memberikan nilai tambah bagi kinerja perseroan.
Dengan pertumbuhan bisnis yang sejalan dengan penguatan sektor riil, Bank Mandiri diharapkan dapat terus meningkatkan daya saing, memperkuat fundamental usaha, serta tumbuh secara berkelanjutan sebagai bank nasional yang unggul.
“Melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah serta dukungan ekosistem yang terdigitalisasi, kami memastikan penyaluran KUR dapat dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. UMKM yang tangguh akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas dan menjadi fondasi bagi ketahanan pangan, serta kesejahteraan nasional,” ucapnya.
JAKARTA, iNews.id - Tangannya sibuk mengaduk secangkir kopi yang akan disuguhkan ke pelanggan, Sabtu (29/11/2025) malam. Bunyi gesekan antara sendok dan cangkir terdengar lembut di tengah riuh rendah pengunjung yang memadati salah satu warmindo di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan (Jaksel) itu.
Sesekali, Utayana beranjak ke kompor di pojok dapur warung. Panci berisi air mendidih memasak 12 porsi mi instan secara bersamaan, lengkap dengan telur dan sayuran. Dia pun sesekali mengaduk mi tersebut agar matang merata.
Malam itu, Warung Asep, warmindo milik Utayana, memang ramai. Bangku-bangku hampir penuh. Tawa dan percakapan pengunjung warung saling bersahutan.
Meski begitu, raut wajah pria berusia 53 tahun itu tetap menunjukkan aura kegembiraan. Tak sedikit pun terlihat lelah. Pantas saja, omzetnya bulan ini ternyata tengah melejit.
"Alhamdulillah, (warung) lagi ramai," ujar Utayana saat ditemui iNews.id.
Namun, perjalanan hidup Utayana tak selalu semanis malam itu. Ketika pandemi Covid-19 menggulung banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beberapa tahun lalu, Warung Asep ikut limbung.
Demi menyambung hidup istri dan tiga putranya, Utayana harus memutar segala daya yang dia punya lantaran sepi pengunjung. Saat badai belum benar-benar reda, cobaan lain datang.
Putra sulungnya, Farhan Cahyana Kusnadi yang kala itu tengah menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Institut Pesantren Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masih memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Belum lagi, Utayana juga harus memenuhi kebutuhan putra keduanya, Muhammad Nico Fadilah yang masih duduk di bangku kelas XI Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Babakan Assalafie Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, dan putra bungsunya Fauzan Aulia Triana, siswa kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Jihadiyah, Jaksel.
Di saat yang sama, lahan yang disewa Utayana untuk mendirikan warung selama 23 tahun dijual pemiliknya. Pemilik baru membangun rumah di atas lahan tersebut. Praktis, warung kecil milik Utayana harus tutup. Begitu pula sumber pendapatannya.
Setahun berselang, secercah asa muncul. Utayana mendapat tempat baru untuk berjualan tak jauh dari lokasi yang lama. Dia memulai segalanya dari awal untuk membangun kembali warung dan harapannya.
Atas saran dari rekannya, Utayana memberanikan diri mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) melalui PT Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pinjaman yang diajukannya sebesar Rp60 juta.
"Bismillah aja bisa setor, dari nabung hasil warung sedikit-sedikit," tuturnya.
Dana itu digunakan sebagai modal awal untuk menghidupkan lagi usahanya yang sempat terpuruk. Sedikit demi sedikit, warung itu kembali bernyawa.
Dari situlah, pelan-pelan usahanya bangkit. Tidak hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, namun juga menjadi penopang pendidikan ketiga putranya.
Utayana merupakan satu dari banyaknya pelaku UMKM yang merasakan manfaat nyata dari program KUR BRI. Bank pelat merah itu berhasil menghadirkan akses pemodalan yang inklusif bagi UMKM untuk terus berdaya demi pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan pihaknya terus berupaya memperkuat lini pemberdayaan UMKM. Dia mengatakan kemudahan memperoleh modal merupakan salah satu kunci menjaga perkembangan usaha di tingkat akar rumput.
"KUR BRI mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor strategis. Kami percaya bahwa pembiayaan yang tepat sasaran akan memperkuat kontribusi sektor riil terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Hery.
Tak sekadar instrumen pembiayaan, dia menekankan KUR merupakan langkah penting mendorong pelaku UMKM lebih tangguh dan produktif.
"Dalam menjalankan peran sebagai penggerak ekonomi di akar rumput, BRI terus memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui pemberdayaan hingga perluasan akses pasar agar pembiayaan semakin berdampak nyata terhadap pertumbuhan dan keberlanjutan usaha,” ucap Hery.
Hingga akhir Oktober 2025, BRI tercatat telah menyalurkan KUR senilai Rp147,2 triliun. Dana itu disalurkan kepada 3,2 juta debitur.
Capaian itu setara 83,2 persen dari pagu KUR BRI 2025 sebesar Rp177 triliun dengan perincian Rp160 triliun dialokasikan untuk KUR Mikro atau kredit di bawah Rp100 juta, sementara Rp17 triliun disiapkan untuk KUR Kecil dengan nilai pinjaman Rp100 juta sampai Rp500 juta.
Total dana yang dialokasikan tahun ini pun meningkat dari distribusi awal senilai Rp175 triliun, seiring meningkatnya permintaan pembiayaan produktif dari pelaku UMKM.
BRI juga senantiasa menunjukkan komitmennya mendorong KUR sebagai motor penggerak perekonomian serta pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pada Selasa (21/10/2025) lalu, BRI menggelar Akad Massal KUR di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).
Kegiatan itu diikuti 800.000 debitur dari berbagai daerah. Sejumlah pelaku UMKM hadir langsung di lokasi, sementara sebagian lainnya mengikuti acara secara daring dari daerahnya masing-masing.
Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan KUR menjadi instrumen penting untuk melahirkan wirausaha baru, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Dia mengatakan langkah itu sejalan dengan Asta Cita Ketiga yakni penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pengembangan kewirausahaan yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
“Tahun ini pemerintah akan mendorong dan menargetkan penyaluran KUR bisa mencapai Rp300 triliun dan tentu harapannya usaha-usaha produktif biasanya mempekerjakan tiga sampai lima tenaga kerja. Tentu ini akan menambah jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor entrepreneurship,” ujar Airlangga.
Secara keseluruhan, pemerintah telah menyalurkan KUR senilai Rp240,09 triliun kepada 4,07 juta pelaku UMKM hingga 31 Oktober 2025. Jumlah itu mencakup 83,77 persen dari target Rp286,61 triliun.
Airlangga menekankan pemerintah terus memperluas akses pembiayaan bagi sektor usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. KUR menjadi sarana utama bagi pelaku UMKM mengakses pemodalan untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas usaha.
"Ini membuktikan KUR tidak hanya memberikan akses pembiayaan, tapi benar-benar mendorong usaha produktif untuk tumbuh dan naik kelas," ujar Airlangga.
Pada 2026, pemerintah menetapkan target penyaluran KUR sebesar Rp295 triliun. Dari jumlah tersebut, ditargetkan sebanyak 65 persen penyaluran menyasar sektor-sektor produksi.
Dengan kebijakan yang tidak membatasi frekuensi akses pembiayaan murah, Airlangga menekankan tidak ada alasan lagi bagi UMKM untuk tak naik kelas dan bersaing.
"Dengan kebijakan yang tepat dan pelaksanaan yang konsisten, kami yakin program-program ini akan terus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan," ucap Airlangga.
JAKARTA, iNews.id – Di balik rindangnya pepohonan Ragunan, tepat di sisi Kebun Binatang Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terdapat sebuah surga kecil bagi para pencinta tanaman hias: Taman Anggrek Ragunan. Di antara deretan pedagang, satu nama berkilau paling terang yaitu Anggrek Rangga, milik seorang pengusaha muda yang kisahnya mampu menyentuh hati siapa pun: Rangga Ferdiansyah.
Begitu melangkah masuk ke area tersebut, kios Anggrek Rangga langsung mencuri perhatian. iNews.id pun berkesempatan menyambangi tempat itu dan disambut Rangga yang tengah sibuk menata koleksi anggreknya.
“Saya di sini menjual berbagai jenis anggrek, ada anggrek bulan, dendrobium, dan banyak lagi,” ujarnya, sembari tersenyum penuh percaya diri.
Namun perjalanan menuju titik ini bukanlah jalan mulus. Rangga memulai semuanya pada tahun 2015 sebagai karyawan biasa di sebuah toko anggrek.
Dari pegawai, ia kemudian dipercaya menjadi supir pengantaran anggrek. Bertahun-tahun bekerja, Rangga tidak hanya mengantar bunga, ia juga mengantarkan mimpinya sendiri. Sampai akhirnya, pada 2021, sang pemilik toko melihat tekadnya dan memberikan tawaran emas: “Buka usahamu sendiri.”
“Saya sudah hampir 10 tahun di dunia anggrek. Dari karyawan, jadi driver, dan akhirnya diberi kesempatan mencoba buka usaha sendiri,” kenangnya.
Modal awal Rangga hanyalah tabungan dan keberanian. Omzet yang didapat habis untuk operasional, membuat perkembangan usahanya berjalan pelan.
Namun Rangga tak menyerah. Ia tahu, mimpi besar butuh dukungan kuat. Di titik itulah ia mulai melirik lembaga perbankan. Pilihan akhirnya jatuh kepada bank yang paling dikenal bersahabat dengan UMKM: BRI.
Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI, usaha Rangga mengalami lonjakan besar. Ia tidak lagi harus memesan dalam jumlah kecil; kini ia mampu mengambil hingga 500 tangkai anggrek dua kali seminggu langsung dari kebun! Stok melimpah, pelanggan pun semakin puas.
Tak berhenti di situ, Rangga juga memanfaatkan QRIS BRI sebagai metode pembayaran. Praktis, cepat, dan memudahkan para pembeli yang kini lebih banyak melakukan transaksi digital.
Keberhasilan Rangga bukanlah kisah tunggal. Ini adalah bagian dari komitmen besar BRI dalam memberdayakan UMKM, mendorong ekonomi rakyat, memperkuat daya saing pelaku usaha, sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan melalui pendekatan yang inklusif.
Wakil Direktur Utama BRI, Agus Noorsanto, menegaskan bahwa UMKM adalah tulang punggung portofolio bisnis BRI. Melalui pembinaan, digitalisasi, dan penguatan kapasitas, BRI memastikan pelaku usaha seperti Rangga dapat berkembang produktif dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian.
"Berbagai program pemberdayaan UMKM yang telah dilakukan oleh BRI tidak hanya menjadi wujud komitmen sosial BRI dalam memperkuat fondasi ekonomi rakyat, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kinerja bisnis perusahaan," ujarnya dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Dari seorang karyawan toko hingga menjadi ikon anggrek Ragunan, Rangga adalah bukti hidup bahwa akses permodalan yang tepat dapat mengubah masa depan. Dan di setiap tangkai anggrek yang mekar di tokonya, terselip kisah bahwa mimpi rakyat kecil bisa tumbuh besar ketika dirawat oleh lembaga yang peduli: BRI.
Tepat di samping Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, terdapat spot menarik tersembunyi alias hidden gem. Tempat tersebut diberi nama Kampoeng Gallery - Bagian all [507] url asal
JAKARTA, iNews.id - Tepat di samping Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, terdapat spot menarik tersembunyi alias hidden gem. Tempat tersebut diberi nama Kampoeng Gallery.
Kampoeng Gallery menjual berbagai barang antik buku, piringan hitam, kaset, poster, kamera lawas, jam antik hingga perhiasan vintage.
Di tengah-tengah area Kampoeng Gallery juga terdapat kedai kopi retro yang membuat tempat ini semakin artistik.
Ivan Moningka mendirikan Kampoeng Gallery sejak sekitar tahun 2010. Perjalanannya menuju dunia bisnis ini dimulai dari hobinya sejak akhir 1980-an. Saat itu, dia kerap berburu buku bekas di kawasan Kwitang.
Lambat laun, rumahnya dipenuhi barang-barang antik hingga istrinya mulai mempertanyakan tumpukan koleksi tersebut. Dari sanalah Ivan mulai memilah dan akhirnya menjual sebagian koleksi, sebelum mendirikan Kampoeng Gallery.
"Akhirnya saya dagang di sini. Waktu dagang di sini, responsnya juga luar biasa. Ternyata yang minatnya banyak anak muda," kata Ivan kepada iNews.id beberapa waktu lalu.
Modal Bank
Meski awalnya dibangun dari modal pribadi bersama sang istri, Ivan menyadari usahanya membutuhkan sokongan modal lebih besar. Namun, dia sempat ragu apakah usaha barang antik dapat memperoleh kredit dari bank.
Keraguan itu terjawab pada 2018, ketika Bank Rakyat Indonesia (BRI) menyetujui permohonannya untuk mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Saya sudah pakai (KUR dari) BRI 2018,” ujar Ivan.
Dia mengaku tidak menyangka bisnis kreatifnya dilirik perbankan. Menurutnya, BRI ternyata menilai langsung usaha dan interaksi pengunjung.
“Dari sisi bank, sangat mendukung. Bank itu yang penting dia bagaimana (niat) untuk membangun usaha. Namanya KUR, kan ada," kata Ivan.
Menurut mantan karyawan perusahaan periklanan ini, persetujuan kredit juga diberikan tanpa berbelit.
“Melihat respons orang-orang yang datang, interaksinya, sudah langsung di-ACC saya,” ujarnya.
BRI Salurkan KUR Rp147,2 Triliun ke 3,2 Juta UMKM
Melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), BRI menegaskan kontribusi dalam mendukung agenda Asta Cita, terutama pilar penciptaan lapangan kerja berkualitas dan penguatan kewirausahaan masyarakat.
Hingga penghujung Oktober 2025, total penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp147,2 triliun kepada 3,2 juta pelaku usaha. Capaian ini merefleksikan realisasi sebesar 83,2 persen dari total kuota KUR BRI tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp177 triliun.
Besarnya realisasi tersebut juga dipicu oleh meningkatnya kebutuhan pembiayaan produktif dari UMKM di berbagai wilayah, yang membuat alokasi awal BRI, semula Rp175 triliun, ditingkatkan menjadi Rp177 triliun.
Adapun pagu KUR BRI 2025 mencakup Rp160 triliun untuk KUR Mikro (pembiayaan di bawah Rp100 juta) serta Rp17 triliun untuk KUR Kecil (pembiayaan Rp100 juta hingga Rp500 juta).
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi menekankan, BRI akan terus mendukung program prioritas pemerintah, termasuk penyaluran KUR sebagai wujud implementasi Asta Cita dalam memperkuat UMKM. Langkah ini sekaligus menjadi dorongan bagi sektor riil dan penciptaan lapangan kerja di berbagai wilayah.
“BRI terus mendorong pertumbuhan sektor UMKM agar tetap sehat dan berkelanjutan sebagai tulang punggung perekonomian nasional. BRI juga memastikan program KUR berjalan optimal dengan sisa kuota sebesar Rp29,8 triliun yang siap disalurkan hingga akhir tahun 2025 untuk mendukung pertumbuhan dan pemberdayaan pengusaha UMKM di seluruh Indonesia,” ujar Hery, Jumat (21/11/2025).
Sementara itu, kisah Kampoeng Gallery membuktikan bahwa hobi bisa menjadi bisnis yang berkelanjutan, terlebih jika didukung akses pembiayaan yang tepat.
BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,84 juta debitur hingga September 2025. Penyaluran terbanyak ke sektor produksi. - Bagian all [321] url asal
JAKARTA, iNews.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus memperkuat peran strategisnya dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Salah satunya melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Hingga akhir September 2025, BRI telah mencatat penyaluran KUR sebesar Rp130,2 triliun kepada 2,84 juta debitur, atau setara 74,40% dari total alokasi KUR BRI tahun 2025 sebesar Rp175 triliun.
Penyaluran KUR BRI hingga akhir September 2025 didominasi oleh sektor produksi, yang mencakup pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, dan jasa lainnya, dengan porsi sebesar 64,31% dari total penyaluran. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp58,37 triliun atau setara 44,83% dari keseluruhan KUR yang telah disalurkan BRI.
Capaian ini merefleksikan komitmen BRI dalam memperkuat sektor riil dan menjaga ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menegaskan pembiayaan KUR memiliki dampak nyata terhadap penguatan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah. Hery menyampaikan KUR BRI ditujukan untuk membantu pelaku UMKM agar semakin produktif.
“Kami percaya bahwa KUR bukan sekedar instrumen pembiayaan, tetapi katalis yang mampu menggerakan ekonomi rakyat. Dengan penyaluran KUR, BRI berupaya mendorong UMKM naik kelas sehingga kontribusinya terhadap perekonomian nasional semakin besar. Langkah ini merupakan peran BRI dalam memperkuat pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan UMKM menjadi penopang utamanya”, ungkap Hery Gunardi dalam keterangannya, Senin (27/10/2025).
Penyaluran KUR BRI terhadap sebaran rumah tangga secara konsisten meningkat dari tahun ke tahun. Hingga akhir September 2025, sekitar 18 dari setiap 100 rumah tangga tercatat telah mengakses fasilitas KUR BRI.
Angka ini meningkat dibandingkan jangkauan pada 2022 dan 2023 yang mencapai 14 rumah tangga dan 15 rumah tangga. Secara kumulatif, sejak 2015 hingga September 2025, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp1.387 triliun kepada 45,5 juta penerima.
“Capaian ini menjadi bukti nyata peran BRI dalam mendorong pembiayaan produktif secara konsisten. Ke depan, BRI akan terus berkomitmen menjadi mitra utama bagi UMKM Indonesia untuk tumbuh berkelanjutan,” pungkas Hery.