Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengelola jejaring restoran cepat saji KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) masih berkutat dengan kerugian pada tahun ini. FAST optimistis pada 2026 mampu berbalik untung.
Berdasarkan laporan keuangannya, FAST masih membukukan rugi bersih sebesar Rp239,58 miliar per kuartal III/2025, meskipun ruginya susut 56,99% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan rugi bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp557,08 miliar.
Direktur Fast Food Indonesia Wachjudi Martono mengatakan pada keseluruhan tahun ini, FAST pun diproyeksikan masih merugi dengan total Rp329 miliar. Adapun, proyeksi rugi FAST pada 2025 menyusut dibandingkan 2024 sebesar Rp798 miliar. FAST kemudian diproyeksikan mampu meraup untung pada 2026.
"Di dalam forecast kami, kami akan bukukan laba di tahun 2026," kata Wachjudi dalam public expose pada Jumat (28/11/2025).
Menurutnya terdapat peluang pemulihan kondisi ekonomi pada 2026 didorong oleh upaya pemerintah, seperti dengan stimulus serta penggunaan dana daerah agar efektif sampai ke masyarakat. Di sisi lain, FAST tetap memandang adanya tantangan yang mengadang pada tahun depan di antaranya penurunan daya beli masyarakat.
Adapun, FAST menyiapkan sejumlah strategi guna meraup kinerja bisnis positif di antaranya mendongkrak kepuasan pelanggan, dominasi yang berfokus pada produk ayam, hingga menambah gerai baru.
Direktur Fast Food Indonesia Dio May Avico mengatakan FAST masih mencatatkan kinerja rugi pada tahun ini didorong oleh sejumlah faktor.
"Penyebab rugi dari perseroan adalah menurunnya daya beli, impact boikot masih terasa sampai 2025, dan adanya perubahan referensi ke makanan lebih sehat," kata Dio.
FAST memang masih berkutat dengan masalah boikot yang berdampak terhadap kinerja keuangan. Boikot terhadap produk KFC terjadi seiring dengan konflik di Timur Tengah. KFC dinilai oleh masyarakat mendukung Israel dan memicu boikot global.
Akan tetapi, menurutnya rugi FAST kian menyusut didukung sejumlah langkah seperti pengendalian biaya operasional hingga optimalisasi rantai pasok.
Suntikan Dana
Di tengah upayanya itu, FAST pun mendapatkan dukungan dari pemegang sahamnya. Perseroan telah melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement sebanyak Rp80 miliar.
Fast Food menerbitkan 533,33 juta saham baru dengan harga pelaksanaan Rp150 per lembar. Dari jumlah tersebut, Grup Salim melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) mengambil bagian sebanyak 266,66 juta.
Dengan aksi ini, porsi kepemilikan Indoritel di FAST meningkat sebesar 1,67%, dari sebelumnya 35,84% menjadi 37,51%.
Sisanya akan diambil Gelael melalui PT Gelael Pratama. Hal itu membuat porsi kepemilikannya meningkat dari 40% menjadi 41,18%.
Sementara investor lain seperti BBH Luxembourg akan berkurang dari 7,9% jadi 6,97%. Lalu, masyarakat dari 16,18% jadi 14,27% dan saham treasuri dari 0,08% jadi 0,07%.
Dana yang diperoleh FAST dari penerbitan saham, Rp52 miliar akan digunakan untuk pembelian persediaan dan pembayaran beberapa kewajiban lancar. Sisanya, yaitu Rp28 miliar akan dimanfaatkan untuk biaya operasional efisiensi karyawan.
Selain private placement, FAST juga mendapat kucuran dana dari divestasi anak usahanya, PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI).
FAST menjual sebagian kepemilikan JAI ke PT Shankara Fortuna Nusantara (SFN). SFN merupakan perusahaan milik anak taipan Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam yang bergerak di bidang perdagangan besar daging ayam dan daging ayam olahan, termasuk daging ayam yang diawetkan.
Berdasarkan struktur pemegang saham, SFN dimiliki oleh Putra Rizky Bustaman dengan porsi kepemilikan 45%, Liana Saputri 45%, dan Bani Adityasuny Ismiarso 10%.
Liana Saputri merupakan anak Haji Isam. Sementara Putra Rizky Bustaman merupakan suami Liana atau menantu Haji Isam. Mereka mendirikan Shankara Fortuna Nusantara akhir tahun lalu.
Berdasarkan kesepakatan, FAST menjual sebanyak 41.877 lembar ke SFN. Fast Food meraup dana hingga Rp54,44 miliar dari penjualan saham seri A tersebut.
Setelah divestasi, kepemilikan saham FAST di Jagonya Ayam menjadi terdilusi, dari semula sebesar 70% menjadi 55%.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.