JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap 21 April nama Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan.
Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi dimaknai ulang.
Sosok pahlawan nasional yang menjadi pelopor emansipasi dan pemberdayaan perempuan itu terus hidup dalam perjalanan banyak perempuan Indonesia hari ini.
Dok. BCA Direktur Keuangan PT Bank Central Asia Tbk Vera Eve Lim.Sudah satu setengah abad berlalu sejak Kartini lahir, kini nilai emansipasi itu tetap hidup dan menjadi pedoman bagi banyak perempuan Indonesia.
Vera Eve Lim, "Kartini" di dunia perbankan Tanah Air
Berkat nilai-nilai yang diwariskan Kartini, kini tidak sedikit perempuan Indonesia berhasil mengisi posisi strategis di berbagai bidang, termasuk industri perbankan.
Ada masanya industri perbankan dipandang sebagai industri yang didominasi oleh laki-laki.
Jabatan di level eksekutif mustahil rasanya bisa diduduki oleh perempuan.
Tapi kini di puncak kepemimpinan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA, berdiri Vera Eve Lim sebagai Direktur Keuangan yang memegang peran penting dalam mengelola triliunan rupiah transaksi dan merumuskan berbagai keputusan strategis.
Perbankan tak cuma angka, tapi perlu hati
Bagi Vera yang telah menduduki posisi ini sejak 2018, industri perbankan tidak hanya soal laporan keuangan atau strategi korporasi semata.
Lebih dari itu, dia melihat perbankan sebagai bisnis yang memerlukan hati.
"Bagi saya, perbankan merupakan bisnis yang memerlukan hati, dikelola dengan angka dan integritas, serta harus senantiasa dijalankan dengan menjaga ketat kepercayaan orang lain," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (20/4/2026).
DOK. BCA PT Bank Central Asia Tbk (BCA), emiten berkode BBCA.Namun pandangan itu tidak lahir dalam semalam.
Lebih dari tiga dekade perjalanan karier di industri keuangan membentuk cara Vera memandang dunia perbankan.
Dia memulai langkahnya dari posisi staf di bidang akuntansi dan keuangan, sebelum akhirnya menapaki berbagai jenjang hingga mencapai posisi strategis di salah satu bank swasta terbesar di Indonesia.
Namun, bagi Vera, perjalanan tersebut bukan sekadar soal kenaikan jabatan.
Keberhasilan, menurutnya, tidak ditentukan oleh seberapa cepat seseorang mencapai posisi tertentu, melainkan oleh konsistensi dalam menjaga integritas dan profesionalisme di setiap tahapnya.
Tak mudah dobrak pandangan maskulinitas di industri perbankan
Dia mengakui, tidak mudah memang mendobrak pandangan industri perbankan lebih cocok untuk laki-laki.
Namun dia berhasil membuktikan bahwa kompetensi seseorang tidak ditentukan oleh gender.
"Hal tersebut justru menghadirkan tantangan tersendiri. Cara saya mengatasinya adalah dengan fokus pada kinerja, menjaga integritas, berupaya menghasilkan keputusan-keputusan yang terukur dan memberikan hasil nyata," ucapnya.
Apa yang dilakukan Vera, tanpa disadari, sejalan dengan semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini bahwa perempuan bisa membuka kesempatan, bukan sekadar menuntut pengakuan.
Tangkapan layar Zoom Direktur BCA Vera Eve Lim saat konferensi pers, Selasa (27/1/2026).
Emansipasi tak cuma samakan kedudukan
Bagi Vera, emansipasi tidak lagi dimaknai sebagai upaya menyamakan kedudukan dengan laki-laki.
Lebih dari itu, dia melihatnya sebagai kesetaraan kesempatan bagi setiap individu untuk memilih peran dan berkembang tanpa dibatasi stigma.
"Menurut saya, emansipasi berarti kebebasan dan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk memilih peran baik sebagai ibu, profesional, atau pemimpin, tanpa memandang atau dibatasi stigma," kata Vera.
Di lingkungan BCA, nilai tersebut diwujudkan dalam sistem meritokrasi.
Penilaian kinerja, promosi jabatan, hingga pengembangan karier didasarkan pada kompetensi dan kontribusi, bukan gender atau latar belakang.
Pendekatan ini turut tecermin dari komposisi sumber daya manusia di BCA dimana 61,4 persen karyawan dalam posisi manajerial menengah ke atas adalah perempuan.
"Penerapan nilai-nilai emansipasi di BCA sejalan dengan growth mindset yang kami miliki. BCA secara konsisten mendorong seluruh insan BCA untuk tidak pernah berhenti menumbuhkan kompetensi, konsisten belajar dan menambah pengalaman, serta bersikap resilien dalam menghadapi tantangan," ungkapnya.
Ruang karier kian terbuka, tapi masih ada peran ganda
Meski kini ruang berkarier semakin terbuka bagi perempuan, namun Vera tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih dihadapi perempuan, terutama terkait peran ganda.
Di satu sisi, perempuan dituntut untuk berkembang dalam karier.
Di sisi lain, tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga tetap melekat.
Tekanan untuk mampu menjalankan keduanya secara sempurna kerap menjadi beban tersendiri.
Selain peran ganda, imposter syndrome juga menghambat perempuan.
Sebab kondisi ini kerap membuat kaum hawa ragu untuk mengambil risiko atau tampil dengan gagasan untuk menempati posisi tertentu.
Karena itu, Vera mengingatkan agar perempuan tidak terjebak dalam standar yang terlalu tinggi terhadap diri sendiri.
"Pesan saya bagi perempuan adalah, jangan mencoba menjadi ‘superwoman’ yang harus sempurna dalam segala hal. Penting bagi perempuan untuk mencari dan memiliki support system yang sehat agar terus berdaya," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang