Bisnis.com, Jakarta — Pasar teknologi global tengah menghadapi tekanan rantai pasokan yang signifikan akibat pergeseran fokus industri semikonduktor menuju dukungan beban kerja kecerdasan artifisial (AI).
Para pembeli komputer pribadi (PC) dan operator pusat data kini dihadapkan pada kenaikan harga perangkat serta keterbatasan pasokan komponen vital.
Laporan terbaru dari firma analis Omdia, Context, dan Counterpoint Research mengungkapkan terjadinya "pukulan ganda" bagi industri tahun ini berupa kelangkaan memori dan unit pemrosesan pusat (CPU).
Situasi ini memaksa vendor perangkat keras menaikkan biaya bagi konsumen dan korporasi di tengah persaingan sengit memperebutkan kapasitas produksi.
Menurut Cloud and Datacenter Market Snapshot dari Omdia, server pusat data tahun ini menghadapi tantangan berat berupa kendala pasokan CPU yang terjadi bersamaan dengan kekurangan memori.
Omdia memperkirakan harga CPU server berpotensi meningkat antara 11% hingga 15% sebagai konsekuensi langsung dari kekurangan pasokan tersebut.
Analis Omdia menilai kendala ini sebagian disebabkan oleh kompleksitas teknis dalam memindahkan volume produksi melintasi node proses yang berbeda, seperti 3 nm atau 5 nm.
Selain itu, hasil produksi yang lebih rendah dari perkiraan turut memperburuk ketersediaan komponen di pasar.
Namun, risiko terbesar bagi struktur biaya operasional justru datang dari sektor memori. Biaya DRAM diperkirakan akan meningkat hampir dua kali lipat pada kuartal ini, sementara memori flash NAND yang digunakan dalam penyimpanan solid-state diproyeksikan naik lebih dari 30%.
Samsung Electronics dan SK hynix bahkan dilaporkan menaikkan harga memori server hingga 70%pada kuartal ini.
Dampak kenaikkan harga mulai terasa seiring menipisnya inventaris lama. Data pasar Inggris menunjukkan harga rata-rata desktop konsumen di tingkat distributor naik hampir 8% secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp12,9 juta pada lima minggu pertama 2026.
Senior Retail Analyst Context James Bates menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena manufaktur memprioritaskan produksi untuk infrastruktur pusat data AI. Kapasitas produksi dialihkan dari komponen kelas konsumen menuju produk bermargin tinggi.
"Produsen mengalihkan kapasitas dari memori dan penyimpanan kelas konsumen menuju High-Bandwidth Memory (HBM) dan penyimpanan canggih yang diperlukan untuk beban kerja AI berskala besar," kata Bates dilansir dari The Register, Jumat (6/2/2026).
Data Counterpoint Research mencatat harga memori telah melonjak 80 hingga 90% tahun ini dibandingkan kuartal IV tahun sebelumnya. Komponen kunci seperti DRAM, NAND, dan HBM tercatat mencapai rekor harga tertinggi baru.
Situasi pasokan yang kritis ini memaksa merek-merek PC besar untuk mempertimbangkan langkah strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan Nikkei Asia menyebutkan bahwa HP, Dell, Acer, dan Asus sedang menjajaki opsi mengambil pasokan cip memori dari produsen China.
HP dan Dell dilaporkan telah mulai melakukan kualifikasi cip dari ChangXin Memory Technologies (CXMT). Perusahaan itu mengantisipasi jika prospek pasar tidak membaik pada pertengahan tahun ini.
Efek domino dari kelangkaan memori ini juga mulai menghantam industri ponsel pintar dengan estimasi kenaikan harga 6 hingga 8%. Perusahaan seperti Qualcomm dan Arm telah memperingatkan potensi perlambatan penjualan dan pendapatan royalti akibat kurangnya memori yang cukup untuk perangkat konsumen.
Permintaan untuk server AI secara khusus terlihat sangat masif. Omdia memperkirakan setidaknya 71.000 rak server dengan beban IT lebih dari 100 kW akan dikirimkan tahun ini, sebagian besar didorong oleh sistem terintegrasi NVL72 dari Nvidia.