Bisnis.com, JAKARTA - Di era yang dipenuhi tekanan produktivitas dan distraksi tanpa henti, banyak orang mulai mempertanyakan ulang makna bahagia. Apakah kebahagiaan benar-benar soal pencapaian, atau justru tentang cara kita memaknai hidup sehari-hari?
Buku Ajaran Bahagia dari Jawa karya Paksi Raras Alit hadir sebagai salah satu bacaan penting di tengah kondisi tersebut. Buku ini tidak hanya mengajak pembaca untuk memperlambat langkah, tetapi juga menuntun untuk menengok kembali nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini terpinggirkan oleh arus modernitas.
Melalui pendekatan yang reflektif, buku ini menyusun kembali ajaran-ajaran hidup leluhur Jawa sebagai panduan dalam memahami kebahagiaan secara lebih utuh. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, keseimbangan, dan penerimaan diri ditawarkan sebagai alternatif atas cara pandang yang terlalu berorientasi pada pencapaian.
Di era ketika banyak orang mencari jawaban ke luar, buku ini justru mengingatkan bahwa kebahagiaan kerap berakar dari dalam diri. Oleh karena itu, membaca buku ini menjadi penting, bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai upaya untuk menata ulang cara hidup agar lebih selaras dan bermakna.
Tak dapat dimungkiri, modernitas menghadirkan berbagai kemudahan sekaligus melahirkan standar hidup yang terus bergerak tanpa titik akhir. Individu seakan didorong untuk terus mencapai lebih banyak hal, tanpa ruang yang cukup untuk memahami kebutuhan diri yang sesungguhnya. Dalam kondisi tersebut, kebahagiaan kerap bergeser menjadi target yang sulit dicapai dan terus menjauh.
Pada konteks inilah ajaran leluhur Jawa menemukan relevansinya, bukan sekadar sebagai romantisasi masa lalu, melainkan sebagai pengingat akan sumber kebahagiaan yang bersifat internal.
Selama berabad-abad, nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa telah teruji dalam menjaga harmoni dan ketenteraman, sekaligus menawarkan cara pandang yang lebih seimbang dalam menjalani kehidupan.
Buku ini menguraikan nilai-nilai luhur secara sistematis, sekaligus mengaitkannya dengan konteks kehidupan masa kini. Salah satu yang disorot adalah ajaran tentang keluwesan, yang terangkum dalam falsafah ngono yo ngono, ning aja ngono (begitu ya begitu, tetapi tidak demikian).
Dalam tradisi Jawa, ajaran tersebut menjadi landasan dalam menempatkan diri di tengah relasi sosial. Ilustrasi yang kerap digunakan adalah ngelmu pring atau ilmu bambu. Bambu mampu bergerak mengikuti arah angin, tetapi tetap akarnya tidak berubah.
Analogi ini menggambarkan bahwa manusia idealnya bersikap fleksibel dalam berinteraksi, tanpa kehilangan prinsip dasar yang dipegang.
Hingga saat ini, nilai tersebut tetap hidup dan menemukan relevansinya dalam berbagai medium populer. Hal ini terlihat, antara lain, dalam lagu keroncong “Ajining Dhiri Saka Kedaling Lathi” yang dipopulerkan oleh Paksi Band pada 2023, serta single “Ngono yo Ngono, Ning Aja Ngono” yang dirilis oleh Slank pada tahun yang sama, yang mengangkat kembali pesan keluwesan dalam kehidupan sosial.
Selain itu, buku ini juga mengulas falsafah alon-alon asal kelakon yang relevan di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, terutama sejak hadirnya era industrialisasi yang menekankan efisiensi dan percepatan produksi. Padahal, jauh sebelum itu, manusia, termasuk masyarakat Jawa, memiliki ritme hidup yang lebih santai dan tidak terikat pada tekanan waktu seperti saat ini.
Namun demikian, sikap santai tersebut tidak dimaknai sebagai bentuk kemalasan, melainkan sebagai cerminan pola hidup yang selaras dengan alam serta tidak sepenuhnya tunduk pada logika waktu industrial.
Selain itu, buku ini juga mengangkat berbagai falsafah lain yang tak kalah menarik, seperti aja gege mangsa (tidak mendahului waktu yang telah ditentukan), sing waras ngalah (kebijaksanaan dalam mengalah), serta samadya (hidup dalam kecukupan), yang seluruhnya menawarkan perspektif alternatif dalam menjalani kehidupan modern.
Falsafah-falsafah tersebut menawarkan cara pandang yang lebih tenang, reflektif, dan humanis dalam menyikapi kehidupan. Nilai-nilai ini menghadirkan perspektif yang tidak semata berorientasi pada kecepatan dan pencapaian, melainkan pada pemahaman diri dan keseimbangan hidup.