Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memulai kick-off imunisasi campak bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan sebagai langkah menekan penularan. Program ini ditujukan kepada ratusan ribu tenaga kesehatan di 14 provinsi dengan kasus tertinggi dan resmi dimulai pada Jumat (10/4/2026).
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, mengatakan imunisasi ini penting karena tenaga kesehatan merupakan kelompok berisiko tinggi. Dia menegaskan langkah ini menjadi bagian dari upaya pencegahan agar penularan tidak semakin meluas.
“Kementerian Kesehatan berupaya melindungi tenaga medis karena mereka adalah kelompok yang sangat berisiko. Imunisasi ini menjadi langkah penting untuk mencegah penularan,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (10/4/2026).
Program imunisasi MR (Measles-Rubella) ini mencakup 39.212 tenaga medis, 223.150 tenaga kesehatan, serta 28.321 dokter umum dan dokter gigi internship. Pelaksanaan dilakukan di rumah sakit dan fasilitas kesehatan tempat mereka bekerja.
Adapun ketentuan vaksin dua dosis tidak perlu tambahan, satu dosis ditambah satu, dan belum imunisasi diberikan dua dosis. Program ini juga melibatkan sejumlah rumah sakit di Indonesia.
Direktur Utama RSUP Adam Malik, dr. Zainal Safri, mengatakan pihaknya telah mulai melaksanakan vaksinasi bagi tenaga kesehatan. Ia menilai langkah ini penting karena kasus campak masih ditemukan.
“Di rumah sakit kami masih ditemukan kasus campak, sehingga imunisasi ini sangat penting. Kami juga sudah mulai melakukan vaksinasi kepada tenaga kesehatan hari ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Kemenkes mencatat kasus campak mulai menurun dalam beberapa pekan terakhir. Tren penurunan ini menjadi indikator awal bahwa pengendalian mulai berjalan.
Andi menjelaskan penurunan terlihat konsisten dari minggu ke minggu, meski kewaspadaan tetap diperlukan. Kasus yang semula tinggi di awal tahun kini menurun signifikan hingga pekan ke-13.
“Jika kita lihat pada minggu pertama jumlah kasus masih tinggi, dan pada minggu ke-13 sudah turun menjadi 195 kasus. Ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Sebagai informasi, pada awal 2026 kasus campak mencapai 2.220 kasus dari 2.932 suspek. Namun, angka tersebut berangsur turun hingga April meski sempat naik kembali pada minggu ke-9.
Memasuki minggu ke-13, jumlah kasus turun drastis menjadi 300 suspek dan 195 kasus. Kondisi ini menunjukkan tren mulai terkendali.
Penurunan juga terjadi di sejumlah provinsi seperti Aceh, Sumatra Utara, hingga Jawa Barat. Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan agar daerah tidak lengah karena kasus masih ada.
“Di Jawa Barat misalnya, kasus sempat tinggi di awal tahun, tetapi sekarang sudah menurun. Namun demikian, kita tetap harus waspada karena kasus masih ada,” tambah Andi.