Bisnis.com, JAKARTA—PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba lebih dari 40% pada 2025 seiring dengan peningkatan harga CPO.
SSMS meraih pendapatan sebesar Rp14,81 triliun pada 2025, tumbuh 42,9% dibandingkan sebelumnya Rp10,37 triliun. Seiring dengan kenaikan pendapatan, laba bruto meningkat 57,8% menjadi Rp5,17 triliun dari Rp3,28 triliun pada 2024.
SSMS pun mencatatkan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,16 triliun, meningkat 41,6% dari Rp819,53 miliar 2024. Sejalan dengan pertumbuhan laba, laba per saham dasar (earnings per share) naik menjadi Rp121,86 dari sebelumnya Rp86,04 pada tahun 2024.
Perseroan juga menunjukkan perubahan signifikan pada struktur posisi keuangan, yang dipengaruhi oleh aktivitas akuisisi anak usaha baru (PT Sawit Mandiri Lestari) pada 2025.
Total aset SSMS mengalami kenaikan sebesar 14,4% menjadi Rp13,58 triliun dari Rp11,87 triliun di akhir 2024. Total liabilitas meningkat menjadi Rp10,64 triliun, naik 18,4% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp8,99 triliun.
Hal ini terutama didorong oleh kenaikan utang bank jangka panjang. Adapun total ekuitas perseroan tumbuh tipis 1,9% menjadi Rp2,94 triliun dibandingkan Rp2,88 triliun pada tahun sebelumnya.
Di sisi lain, posisi kas dan setara kas akhir tahun mengalami penurunan sebesar 25,9% menjadi Rp874,06 miliar dari posisi awal Rp1,18 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk aktivitas investasi, termasuk akuisisi entitas anak.
Direktur Utama SSMS Jap Hartono sebelumnya menilai prospek industri kelapa sawit nasional tetap positif seiring meningkatnya kebutuhan minyak nabati global, dukungan program biodiesel, serta perbaikan tata kelola industri.
“Meski dihadapkan pada dinamika harga CPO dan tantangan global, industri sawit masih menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia,” paparnya dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).
Dalam menghadapi fluktuasi harga CPO, SSMS terus memperkuat efisiensi operasional dan optimalisasi produktivitas kebun guna menjaga daya saing dan kinerja perusahaan.
Strategi pengendalian biaya dan pengelolaan operasional yang terintegrasi menjadi fokus utama perseroan dalam merespons perkembangan industri. SSMS juga secara konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
"Penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi landasan SSMS dalam mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan," ujarnya.
Jap Hartono menyampaikan dengan strategi yang adaptif dan fondasi bisnis yang solid, SSMS optimistis dapat terus menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan serta berkontribusi positif terhadap perkembangan industri sawit nasional.