Bisnis.com, JAKARTA — Kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik dilaporkan mengalami dugaan wabah hantavirus. Tiga penumpang meninggal dunia dan seorang warga Inggris dirawat dalam kondisi serius.
Kapal milik Oceanwide Expeditions itu kini berada di lepas pantai Cape Verde. Sebanyak 149 orang dari 23 negara masih berada di dalam kapal.
Dilansir dari BBC News, dua kasus hantavirus telah terkonfirmasi, yakni pada seorang warga Inggris berusia 69 tahun yang kini dirawat intensif di Johannesburg dan pada seorang perempuan asal Belanda yang meninggal dunia. Sementara itu, penyebab kematian dua penumpang lainnya masih dalam penyelidikan.
Peristiwa ini bermula ketika seorang penumpang jatuh sakit di atas kapal dan meninggal pada 11 April. Setelah kapal sempat bersandar di Saint Helena pada 24 April, jenazah korban diturunkan, sementara istrinya yang juga turun dari kapal kemudian dilaporkan meninggal saat perjalanan pulang.
Beberapa hari kemudian, pada Senin (27/4), seorang penumpang asal Inggris mengalami kondisi kritis dan harus di evakuasi medis ke South Africa. Hingga kini, pasien tersebut disebut dalam kondisi kritis namun stabil setelah teridentifikasi terinfeksi varian hantavirus.
Di tengah situasi itu, seorang penumpang asal Jerman kembali meninggal dunia pada Sabtu lalu. Pihak operator kapal menyatakan penyebab kematian korban masih belum dapat dipastikan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini ikut memantau perkembangan kasus tersebut. WHO juga tengah menyelidiki lima kasus suspek lain, termasuk seorang awak kapal asal Inggris yang mengalami gejala gangguan pernapasan.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Henri P. Kluge, menegaskan bahwa infeksi hantavirus memang jarang terjadi. Namun dia menyebut risiko penularan ke masyarakat luas masih rendah karena virus ini tidak mudah menular antar manusia.
“Hantavirus memang dapat menyebabkan gejala berat pada sebagian kasus, tetapi tidak mudah menular dari orang ke orang. Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” ujarnya dikutip dalam BBC News, Selasa (5/5/2026).
Menteri Kesehatan Afrika Selatan, Aaron Motsoaledi, menjelaskan pasien asal Inggris saat ini hanya mendapatkan perawatan suportif karena belum ada obat khusus untuk hantavirus. Petugas kesehatan juga sedang melakukan pelacakan terhadap orang-orang yang sempat melakukan kontak erat dengan pasien tersebut.
“Seperti virus pada umumnya, hantavirus belum memiliki pengobatan spesifik sehingga pasien diberikan terapi sesuai gejala dan dukungan medis semaksimal mungkin,” terangnya.
Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat atau rodensia.
Kemenkes menjelaskan tikus menjadi reservoir utama virus dari genus Orthohantavirus. Di Indonesia, jenis tikus yang terkonfirmasi membawa virus ini antara lain tikus got, tikus rumah, tikus sawah, hingga mencit rumah yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar manusia.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan air liur, urine, atau kotoran tikus. Virus juga dapat masuk melalui debu halus yang terkontaminasi lalu terhirup melalui hidung, mulut, atau mengenai mata dan luka terbuka di kulit.
Hingga saat ini, Kemenkes menyebut penularan hantavirus dari manusia ke manusia belum pernah dilaporkan di Indonesia. Karena itu, pengendalian hewan pengerat masih menjadi langkah utama untuk mencegah penyebaran penyakit ini.
Secara klinis, Kemenkes membagi penyakit ini ke dalam dua bentuk utama, yakni Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah strain Seoul Virus yang umumnya menimbulkan gejala tipe HFRS.
Berikut gejala hantavirus yang perlu diwaspadai:
- Demam dan Sakit Kepala
Gejala awal biasanya mirip infeksi virus pada umumnya. Penderita dapat mengalami demam yang disertai sakit kepala, badan lemas, dan rasa tidak nyaman pada tubuh.
- Nyeri Punggung dan Nyeri Perut
Keluhan ini sering muncul bersamaan dengan demam. Pada sebagian kasus, nyeri dapat disertai mual dan nafsu makan menurun.
- Mata Kemerahan dan Ruam
Kemenkes menyebut sebagian penderita juga bisa mengalami kemerahan pada mata dan ruam di kulit. Gejala ini perlu diwaspadai bila muncul setelah kontak dengan lingkungan yang banyak tikus.
- Gangguan Pernapasan dan Ginjal
Pada tahap lebih lanjut, penyakit dapat berkembang menjadi lebih berat. Penderita berisiko mengalami gangguan pernapasan, penurunan produksi urine, hingga gangguan fungsi ginjal.
Selain mengenali gejalanya, Kemenkes juga menekankan pentingnya pencegahan dari lingkungan rumah. Langkah ini dinilai penting karena reservoir hantavirus di Indonesia tersebar di berbagai habitat, mulai dari rumah, sawah, ladang, hingga hutan.
Berikut langkah pencegahan hantavirus:
- Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
- Gunakan alat pelindung saat membersihkan area yang dilewati tikus
- Bersihkan kotoran tikus dengan disinfektan
- Jangan menyentuh tikus secara langsung
- Rajin mencuci tangan