Bisnis.com, JAKARTA--Sutradara Jepang Lee Sang-il kembali dengan Kokuho, sebuah drama yang menyusup ke balik gemerlap panggung kabuki. Film ini bukan sekadar merekam tradisi, tetapi turut juga membongkar struktur kekuasaan yang menopangnya.
Kokuho mendapatkan nominasi Academy Awards dalam kategori Best Makeup and Hairstyling. Di bioskop Indonesia Kokuho sudah dapat disaksikan sejak 18 Februari 2026, meskipun tidak semua bioskop memutar film ini.
Setelah dikenal lewat Rage (2016), Lee tetap konsisten menghadirkan citraan melalui kisah personal. Kali ini, dia memilih dunia kabuki sebagai arena konflik. Sebuah ruang yang tampak anggun, tetapi sesungguhnya keras dan hierarkis.
Kabuki adalah teater tradisional Jepang yang lahir pada awal abad ke-17 pada era Edo. Bentuk seni ini menggabungkan drama, tari, dan musik dalam pertunjukan yang penuh stilisasi dengan riasan yang tebal.
Awalnya, kabuki dimainkan oleh perempuan, tetapi kemudian dilarang karena dianggap memicu moralitas. Sejak saat itu, peran perempuan digantikan oleh aktor laki-laki, termasuk lewat tradisi onnagata yang memerankan tokoh wanita.
Kokuho diadaptasi dari karya Shuichi Yoshida dengan judul yang sama. Skenarionya ditulis oleh Satoko Okudera dengan struktur yang cukup rapi. Adaptasi ini menjaga kedalaman psikologis sekaligus memperluas tafsir visualnya.
Kisahnya mengikuti dua pemuda, Kikuo dan Shun. Mereka tumbuh dalam orbit kabuki yang disiplin dan nyaris feodal. Persahabatan mereka perlahan berubah menjadi kompetisi yang sunyi namun mematikan sejak awal karier mereka.
Kikuo adalah putra seorang bos yakuza yang menemukan pelarian dalam seni. Bakatnya alami dan menyala, tetapi dia tak memiliki garis keturunan kabuki. Di dunia yang memuja darah keturunan dia selalu berada di luar pagar.
Sebaliknya, Shun adalah pewaris sah keluarga kabuki ternama. Dia memikul ekspektasi generasi sebelumnya dengan tubuh dan wajahnya sendiri. Beban itu menjadikannya rapuh sekaligus ambisius untuk menruskan trah keluarga.
Melalui dua tokoh ini, Lee membenturkan kasta darah dan meritokrasi. Film ini mempertanyakan apakah bakat murni cukup untuk menembus sistem tertutup. Atau justru tradisi hanya melanggengkan elitisme yang dibungkus estetika.
Tradisi onnagata yang dimunculkan juga menjadi lapisan kritik lain dalam fulm berdurasi 3 jam ini. Tubuh laki-laki dipoles menjadi citra feminin yang ideal dan terkendali. Namun perempuan nyata justru tersingkir dari panggungnya sendiri.
Tokoh-tokoh perempuan seperti Harue, Akiko, dan Ayano hadir sebagai saksi bisu. Mereka menopang sistem, tetapi jarang mendapat ruang untuk menentukan arah. Kebahagiaan mereka kerap dikorbankan demi reputasi dan ambisi laki-laki.
Di titik ini, Kokuho seakan melampaui kisah seni pertunjukan. Film ini membaca kabuki sebagai metafora Jepang modern yang masih bergulat dengan konservatisme. Pelestarian budaya kerap dibayar dengan pembungkaman individu.
Secara visual, Lee menghadirkan komposisi panggung yang megah namun intim. Kamera bergerak hati-hati, menyorot tatapan dan jeda. Setiap pertunjukan terasa seperti duel batin yang terselubung meski sejumlah adegan kadangkala repetitif.
Durasi film 3 jam membuat penonton dituntut fokus dengan berbagai lompatan waktu dari dekade 1960-an sampai 2014. Narasi yang dihadirkan acapkali juga membuat mereka mengira film telah mencapi puncak sebelum benar-benar selesai.
Pada akhirnya, Kokuho adalah tragedi tentang harga sebuah warisan. Tradisi memang memberi identitas, tetapi juga dapat merampas kebebasan. Lee Sang-il mengingatkan bahwa kemegahan budaya sering berdiri di atas pengorbanan yang tak pernah benar-benar selesai.