Menanti mimpi menjadi nyata. Itulah harapan yang tersirat dari berbagai kalangan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, seiring rencana Pemerintah Provinsi Jawa ... [1,343] url asal
Cianjur (ANTARA) - Menanti mimpi menjadi nyata. Itulah harapan yang tersirat dari berbagai kalangan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, seiring rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai pembangunan jalur Puncak II pada 2026 sebagai solusi kemacetan di jalur Puncak.
Selama ini masyarakat Cianjur utara, terutama pelaku usaha, kerap kesulitan memenuhi permintaan pasar besar di Jabodetabek yang menuntut pengiriman tepat waktu agar sayuran dan bunga hias tetap segar. Namun kemacetan berjam-jam di jalur Puncak membuat mereka sering menanggung kerugian.
Berbagai upaya dilakukan, termasuk memilih jalur alternatif seperti Puncak II dan Jonggol. Namun pilihan itu belum menjadi solusi karena jarak tempuh lebih panjang dan kondisi jalan masih buruk.
Karena itu, mereka berharap pembangunan jalur Puncak II dapat dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat agar menjadi solusi utama mengatasi kemacetan di jalur Puncak, terutama bagi pemasok sayur mayur dan bunga hias.
Jika jalan sepanjang 62 kilometer yang membentang di Kabupaten Bogor dan Cianjur itu terbangun, waktu dan jarak tempuh akan jauh lebih singkat. Para pelaku usaha pun dapat memenuhi pesanan hingga empat kali sehari secara pulang-pergi.
Harapan agar jalur alternatif utama segera terwujud terus disampaikan para pelaku usaha setiap tahun. Mereka ingin memiliki jalur ekonomi yang bebas macet, baik saat libur panjang maupun hari biasa ketika kepadatan kendaraan tetap terjadi di sepanjang jalur utama Puncak.
Pemandangan alam di Jalur Puncak II di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dapat memanjakan mata pengendara yang melintas .ANTARA/Ahmad Fikri. (Ahmad Fikri)
Mimpi berlibur ke Cianjur tanpa terjebak macet segera mendekati kenyataan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan pembangunan Jalur Puncak II mulai berjalan tahun ini sebagai solusi kepadatan di Jalur Puncak sekaligus membuka kembali akses wisata menuju kawasan pegunungan, air terjun, hingga pantai selatan terpanjang di Jawa Barat.
Harapan itu disambut pelaku usaha di Cianjur utara, termasuk pedagang sayur di Kampung Panagan, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Nunut Sauki (49). Setiap hari ia mengirim lebih dari 12 ton sayuran ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, namun kerap merugi akibat terjebak macet berjam-jam di Jalur Puncak.
“Kami tidak pernah lelah berharap Jalur Puncak II segera terwujud agar pengiriman pesanan bisa tepat waktu tanpa harus terjebak macet belasan jam,” katanya.
Menurut Sauki, selama dua dekade terakhir kawasan wisata Pacet, Cipanas, dan Sukaresmi perlahan kehilangan pengunjung karena wisatawan enggan menghadapi kemacetan saat menuju maupun pulang dari Puncak-Cianjur.
Padahal, kawasan Puncak-Cipanas pernah menjadi tujuan wisata favorit wisatawan domestik dan mancanegara. Hotel, vila, rumah makan, hingga restoran selalu ramai setiap akhir pekan. Kini, banyak usaha di sepanjang jalur utama tutup akibat sepinya pengunjung.
“Sekarang hotel, rumah makan, dan restoran banyak yang bangkrut karena pembeli terus berkurang, termasuk kios sayur milik warga,” ujar Sauki.
Harapan masyarakat Cianjur mulai menemukan titik terang setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pembangunan Jalur Puncak II terus diupayakan agar segera rampung dan bisa dimanfaatkan masyarakat paling lambat 2027.
Menurut Dedi, jalur alternatif tersebut diharapkan mampu mengurai kemacetan di kawasan Puncak-Cianjur sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama sektor pariwisata.
“Target kami Jalur Puncak II sudah bisa dimanfaatkan tahun depan sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan kendaraan di kawasan Puncak,” katanya.
One way jadi solusi
Kepadatan kendaraan di Jalur Puncak setiap akhir pekan dan libur panjang membuat Polres Cianjur dan Bogor rutin memberlakukan rekayasa lalu lintas, termasuk sistem satu arah atau one way. Namun antrean kendaraan tetap kerap mengular hingga lebih dari 12 kilometer hanya dalam hitungan menit.
Kemacetan panjang terutama terjadi saat libur keagamaan dan arus balik Lebaran. Pengendara bahkan bisa terjebak berjam-jam saat hendak kembali ke kota asal. Tidak jarang jalur menuju Puncak-Cipanas ditutup mulai dari Tugu Lampu Gentur-By Pass Cianjur ketika antrean kendaraan sudah lumpuh total.
Petugas kemudian mengarahkan kendaraan ke jalur alternatif Jonggol dan Sukabumi. Sistem satu arah memang kerap dimanfaatkan wisatawan agar lebih cepat sampai tujuan, namun kebijakan itu tidak selalu efektif ketika volume kendaraan membludak.
Setahun lalu, macet total di kawasan Puncak-Cianjur membuat ribuan kendaraan tidak bergerak selama lebih dari 24 jam. Kondisi baru kembali normal pada hari berikutnya.
Kemacetan berkepanjangan itu juga menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah wisatawan ke kawasan Puncak-Cianjur. Banyak wisatawan memilih berlibur ke Bogor atau Bandung demi menghindari antrean panjang.
Di sisi lain, Jalur Puncak II masih dianggap sebagai solusi alternatif meski kondisinya belum layak digunakan. Banyak pengendara tetap nekat melintas meski jalan rusak, minim rambu dan lampu penerangan, serta rawan bencana.
Karena buruknya infrastruktur, Polres Cianjur setiap tahun tidak merekomendasikan Jalur Puncak II sebagai jalur utama maupun alternatif mudik Lebaran. Pengendara dari dan menuju Jabotabek akhirnya lebih diarahkan melalui jalur Jonggol dan Sukabumi yang dinilai lebih aman dilalui.
Jalur Puncak II di Desa Batulawang, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sudah diperbaiki Pemkab Cianjur, sambil menunggu perbaikan bersama Pemprov Jabar dan pemerintah pusat .ANTARA/Ahmad Fikri. (Ahmad Fikri)
Puncak II jadi solusi macet tahun 2027
Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terus mendorong terwujudnya pembangunan jalur Puncak II dengan target pada 2027 jalur alternatif tersebut sudah dapat dilalui kendaraan, termasuk saat arus mudik, guna mengurai kemacetan di kawasan Puncak.
Target tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang siap membantu pembangunan.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengatakan Pemkab Cianjur dalam beberapa tahun terakhir telah memperbaiki jalan sepanjang 17 kilometer dengan cor beton untuk mendukung percepatan pembangunan jalur tersebut.
Menurut dia, keberadaan jalur alternatif Puncak II diharapkan menjadi solusi bagi pendatang agar lebih cepat sampai ke Cianjur tanpa harus terjebak kemacetan di jalur Puncak. Selain itu, jalur tersebut juga akan mempermudah distribusi hasil bumi ke pasar-pasar besar di Jabodetabek.
Jika pembangunan jalur Puncak II selesai sesuai rencana, jalur ini akan menjadi akses baru yang lebih efektif bagi berbagai kalangan, mulai dari wisatawan menuju kawasan wisata Puncak-Cianjur hingga pelaku usaha yang mendistribusikan pesanan.
Sesuai janji Gubernur Jawa Barat, pembangunan jalur Puncak II diharapkan segera dimulai dan dapat tuntas pada akhir 2026 atau tahun depan. Dengan demikian, saat terjadi lonjakan kendaraan di jalur Puncak, Puncak II dapat menjadi jalur alternatif utama.
Bupati menilai keberadaan jalur Puncak II juga diproyeksikan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di wilayah utara Cianjur.
“Terutama pelaku usaha di kawasan Puncak-Cipanas berharap pembangunan jalur Puncak II segera terwujud. Hal itu akan memudahkan distribusi pesanan seperti sayur mayur, bunga hias, dan hasil bumi lainnya ke pasar di Jabodetabek,” katanya.
Kehadiran jalur Puncak II dinantikan berbagai kalangan, terutama pelaku usaha di wilayah utara Cianjur mulai dari perhotelan, rumah makan, restoran, hingga petani dan pemasok sayur mayur serta bunga hias yang rutin mengirim pesanan ke Jabodetabek.
Harapan tersebut mendapat dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat yang mendorong pembangunan jalur Puncak II dapat terealisasi pada 2027. Kehadiran jalur ini dinilai mampu mendorong pembangunan dan meningkatkan perekonomian di wilayah utara Cianjur.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Abdul Karim, mengatakan jalur Puncak II menjadi solusi utama untuk mengatasi kemacetan di jalur Puncak, terutama saat libur panjang akhir pekan dan hari besar keagamaan.
Karena itu, dalam setiap rapat bersama dinas terkait di tingkat provinsi hingga pusat, pihaknya terus menyatakan dukungan agar pembangunan segera direalisasikan sehingga pengembangan berbagai sektor, termasuk pariwisata, dapat terus meningkat.
"Terlebih Gubernur Jawa Barat menyatakan anggaran pembangunan jalur Puncak II sudah dialokasikan pada 2027, sehingga kami akan terus mengawal hingga pembangunan terwujud,” katanya.
Ia menjelaskan pembangunan jalur Puncak II sangat dinantikan masyarakat Cianjur dan Bogor karena dinilai dapat mempersingkat waktu tempuh, terutama saat akhir pekan, sehingga masyarakat dapat lebih cepat sampai tanpa terjebak kemacetan.
Bagi pelaku usaha seperti pemasok sayur mayur, bunga hias, dan usaha lainnya, keberadaan jalur Puncak II juga akan mempermudah distribusi pesanan ke berbagai pasar di Jakarta hingga Tangerang, Banten.
Wisatawan pun diyakini tidak akan ragu datang berlibur ke kawasan Puncak-Cianjur karena tersedia jalur alternatif yang dapat dilalui tanpa harus terjebak antrean panjang berjam-jam saat kembali ke kota asal.
Jalur Puncak II sudah lama digagas sehingga perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dengan memperbaiki jalan kabupaten yang rusak agar terkoneksi langsung dengan jalur tersebut.
Perbaikan jalan kabupaten yang terhubung dengan Puncak II dapat dipercepat sehingga saat Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai pembangunan tahun depan, akses penunjangnya sudah dalam kondisi layak.
One way diterapkan di Tol Cipali saat arus balik Lebaran 2026 untuk mengurai kepadatan menuju Jakarta, bersifat situasional sesuai diskresi kepolisian. [474] url asal
Bisnis.com, CIREBON- Rekayasa lalu lintas sistem satu arah (one way) kembali diberlakukan di sepanjang ruas Tol Cipali, Jawa Barat pada arus balik Lebaran 2026. Kebijakan ini diterapkan untuk mengurai kepadatan kendaraan yang mengarah ke Jakarta, seiring meningkatnya volume lalu lintas pascalibur panjang Idulfitri.
Per Jumat (27/3/2026) atau H+6 Lebaran, tepatnya pukul 10.08 WIB, arus one way menuju Jakarta resmi dibuka mulai dari KM 188 Palimanan hingga KM 70 ruas Jakarta–Cikampek.
Penerapan ini bersifat situasional dan dilakukan berdasarkan diskresi kepolisian di lapangan, dengan mempertimbangkan kondisi arus kendaraan secara real time.
Sustainability Management & Corporate Communications Department Head Astra Tol Cipali, Ardam Rafif Trisilo, mengatakan, rekayasa lalu lintas ini merupakan langkah strategis untuk menjaga kelancaran arus balik, terutama di titik-titik rawan kepadatan.
“Pemberlakuan one way ini bertujuan untuk mengurai lonjakan kendaraan menuju arah Jakarta yang terus meningkat pada periode arus balik. Skema ini bersifat dinamis, mengikuti kondisi lalu lintas di lapangan,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, koordinasi intensif terus dilakukan antara pengelola tol dengan pihak kepolisian guna memastikan rekayasa berjalan efektif tanpa mengganggu keselamatan pengguna jalan. Selain itu, pemantauan dilakukan secara berkala melalui sistem traffic monitoring dan petugas di lapangan.
Lonjakan volume kendaraan pada H+6 Lebaran disebut menjadi salah satu faktor utama diberlakukannya kembali sistem satu arah.
Banyak pemudik yang memilih kembali ke wilayah Jabodetabek pada akhir masa libur, sehingga memicu peningkatan signifikan di ruas Tol Cipali yang menjadi jalur utama penghubung Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Dalam kondisi tersebut, penerapan one way dinilai sebagai langkah paling efektif untuk memaksimalkan kapasitas jalan. Dengan mengalihkan seluruh lajur ke satu arah, distribusi kendaraan menjadi lebih merata dan potensi kemacetan panjang dapat ditekan.
Meski demikian, Ardam menegaskan keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan rekayasa ini. Ia mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mematuhi aturan dan arahan petugas selama sistem one way berlangsung.
“Pengguna jalan diharapkan tidak berpindah jalur secara mendadak, menjaga jarak aman, serta tidak menggunakan fasilitas putar balik atau u-turn selama one way diterapkan. Kepatuhan ini penting untuk menghindari potensi kecelakaan,” katanya.
Selain itu, pengguna jalan juga diminta memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima sebelum memasuki ruas tol. Kesiapan bahan bakar, kondisi ban, serta fisik pengemudi menjadi faktor penting untuk mendukung perjalanan yang aman dan lancar.
Astra Tol Cipali juga mengingatkan agar pengendara memanfaatkan rest area secara bijak dan tidak berlama-lama, mengingat tingginya kebutuhan ruang istirahat bagi pemudik lain. Pengaturan waktu istirahat yang efisien dinilai dapat membantu menjaga kelancaran arus kendaraan secara keseluruhan.
Hingga siang hari, arus lalu lintas di ruas Tol Cipali terpantau padat namun tetap bergerak. Petugas gabungan dari kepolisian dan pengelola tol terus bersiaga di sejumlah titik untuk mengantisipasi kepadatan lanjutan serta memastikan rekayasa berjalan sesuai rencana.
Pemberlakuan one way ini diperkirakan akan terus berlangsung menyesuaikan dengan perkembangan volume kendaraan menuju Jakarta. Jika terjadi penurunan arus, tidak menutup kemungkinan sistem akan kembali dinormalisasi secara bertahap.
BPJN Sumbar buka jalur Lembah Anai 2 lajur 24 jam H-10 hingga H+10 Lebaran untuk kelancaran arus mudik, dengan posko siaga dan alat berat antisipasi longsor. [295] url asal
Bisnis.com, PADANG - Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatra Barat terus melakukan percepatan penanganan darurat di kawasan Lembah Anai pascabencana banjir dan longsor yang terjadi sejak 28 November lalu.
Kepala BPJN Sumbar Elsa Putra Friandi mengatakan penanganan itu dilakukan untuk memastikan konektivitas jalur utama tetap terjaga, khususnya menjelang arus mudik lebaran.
"Jadi hingga saat ini, ruas jalan yang sebelumnya sempat terputus telah kembali tersambung," ucap Elsa dalam keterangan resmi, Selasa (10/3/2026).
Dia menjelaskan bahwa progres penanganan secara keseluruhan saat ini telah mencapai sekitar 44%. Sementara itu, pekerjaan bore pile sebagai bagian dari penguatan struktur telah mencapai sekitar 78%.
"Penanganan permanen di lokasi tersebut ditargetkan dapat rampung pada Juli 2026," tutur dia.
Dia menambahkan, untuk mendukung kelancaran arus mudik dan balik Lebaran, BPJN Sumbar akan membuka akses jalan di kawasan Lembah Anai menjadi 2 lajur mulai H-10 hingga H+10 Lebaran.
Oleh karena itu, selama periode tersebut, jalan akan dibuka 24 jam untuk kendaraan roda 4, dengan pengaturan lalu lintas mengikuti ketentuan dari pihak kepolisian dan dinas perhubungan.
Selain itu, BPJN juga turut mendirikan posko lebaran yang siaga selama 24 jam di sekitar lokasi. Sejumlah alat berat juga akan disiagakan guna mengantisipasi risiko longsoran.
"Apabila terjadi material longsor yang menutup badan jalan, tim di lapangan siap melakukan pembersihan secara cepat agar lalu lintas tetap dapat berjalan," sebutnya.
Terkait kondisi Jembatan Margayasa, lanjutnya, hasil kajian teknis menunjukkan bahwa jembatan tersebut tidak mengalami kerusakan signifikan akibat bencana yang terjadi sebelumnya.
Mulai H-10 lebaran, kedua jembatan di kawasan tersebut dapat dilewati oleh kendaraan guna mendukung kelancaran mobilitas masyarakat selama periode mudik dan arus balik.
Menurutnya melalui berbagai langkah percepatan ini, Kementerian PU bersama BPJN Sumbar berkomitmen menjaga aksesibilitas dan keselamatan pengguna jalan, khususnya pada jalur strategis yang menghubungkan wilayah di Sumbar.