Bisnis.com, JAKARTA – Dalam kajian sosiologi, interaksi sosial disebut sebagai bentuk paling dasar dari proses sosial. Tanpa interaksi sosial, kehidupan bersama, kelompok, hingga kebudayaan tidak mungkin terbentuk.
Melalui interaksi sosial, individu saling memengaruhi, menyesuaikan diri, dan membangun pola hubungan yang kemudian berkembang menjadi keluarga, organisasi, lembaga sosial, hingga sistem nilai dalam masyarakat. Berikut penjelasan lengkap yang diambil dari buku Sosiologi karya Bernardus Raho serta berbagai jurnal yang relevan.
Apa Itu Interaksi Sosial?
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara dua orang atau lebih, di mana tindakan salah satu pihak memengaruhi dan dipengaruhi oleh tindakan pihak lain. Beberapa ahli mendefinisikan interaksi sosial sebagai berikut.
Soerjono Soekanto: interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.
Gerungan/Walgito: interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik antarindividu, di mana masing-masing pihak saling memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku pihak lain.
Gillin & Gillin: interaksi sosial adalah hubungan antara dua atau lebih individu, di mana perilaku individu yang satu mempengaruhi perilaku individu lainnya.
Ciri-Ciri Interaksi Sosial
Interaksi sosial tidak sekadar orang berada di tempat yang sama. Ada beberapa ciri yang membuat suatu hubungan dapat disebut sebagai interaksi sosial, di antaranya:
1. Pelakunya lebih dari satu orang
Terjadi antara individu–individu, individu–kelompok, atau kelompok–kelompok.
2. Ada komunikasi dan penggunaan simbol
Tidak hanya lewat kata-kata, tetapi juga gestur, ekspresi wajah, bahasa tubuh, maupun simbol-simbol lain yang dimaknai bersama.
3. Ada kontak sosial
Kontak bisa langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (melalui telepon, media sosial, surat, atau perantara).
4. Ada tujuan atau maksud tertentu
Misalnya ingin bekerja sama, menegur, menolak, menyelesaikan masalah, atau bahkan mempertahankan kepentingan tertentu. Tujuan ini bisa disadari pelaku, atau hanya terbaca oleh pengamat.
5. Ada dimensi waktu
Interaksi selalu terjadi dalam alur waktu, pengalaman masa lalu memengaruhi cara orang bereaksi saat ini dan membentuk hubungan di masa depan.
Selama unsur-unsur tersebut terpenuhi, interaksi sosial dianggap terjadi, bahkan ketika tidak ada percakapan langsung tetapi kedua pihak sadar akan kehadiran satu sama lain dan saling memengaruhi perasaan atau tindakan.
Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Gillin & Gillin yang kemudian ditegaskan oleh Soerjono Soekanto, sedikitnya ada dua syarat utama terjadinya interaksi sosial:
1. Kontak Sosial (Social Contact)
Secara harfiah, “kontak” berarti “bersama-sama menyentuh”. Namun dalam sosiologi, kontak sosial tidak harus berupa sentuhan fisik. Kontak sosial dapat berupa:
- Antarindividu
Misalnya murid berbicara dengan guru, anak belajar kebiasaan dari orang tua, dua teman saling menyapa.
- Individu dengan kelompok
Misalnya seseorang menyesuaikan diri dengan norma organisasi, warga mematuhi aturan lingkungan, atau karyawan mengikuti kebijakan perusahaan.
- Kelompok dengan kelompok
Misalnya dua partai politik berkoalisi atau bersaing, dua organisasi bekerja sama dalam sebuah program.
Kontak sosial dapat bersifat:
- Positif, mengarah pada kerja sama.
- Negatif, mengarah pada pertentangan atau bahkan tidak berlanjut menjadi hubungan lebih jauh.
Dilihat dari cara terjadinya, kontak sosial dapat dibedakan menjadi:
- Primer, terjadi secara langsung, tatap muka.
- Sekunder, melalui perantara, baik orang lain maupun media (telepon, pesan singkat, media sosial, dan sebagainya).
2. Komunikasi
Komunikasi adalah proses menyampaikan dan menafsirkan makna melalui kata-kata, sikap, gerak tubuh, atau simbol lain, yang kemudian memunculkan reaksi dari pihak lain.
Melalui komunikasi, sikap dan perasaan individu atau kelompok menjadi diketahui pihak lain dan dijadikan dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Di sinilah muncul berbagai bentuk hubungan sosial: kerja sama, kesalahpahaman, konflik, kompromi, hingga perdamaian. Tanpa kontak sosial dan komunikasi, interaksi sosial tidak akan terjadi.
Faktor-Faktor yang Mendasari Interaksi Sosial
Sejumlah faktor turut mendorong terjadinya interaksi sosial, antara lain:
Imitasi
Dorongan untuk meniru perilaku orang lain. Secara positif, imitasi membantu individu belajar norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Identifikasi
Proses di mana seseorang ingin menjadi mirip atau sama dengan orang lain atau kelompok tertentu. Identifikasi lebih mendalam dibanding imitasi dan dapat membentuk kepribadian.
Sugesti
Pengaruh yang datang dari individu atau kelompok yang dianggap berwibawa, sehingga pandangan atau pendapatnya mudah diterima.
Motivasi
Dorongan dari dalam diri atau dari orang lain yang mengarahkan tindakan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu.
Simpati
Perasaan tertarik dan peduli terhadap orang atau kelompok lain, yang mendorong keinginan untuk mendekat dan berhubungan.
Empati
Kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain secara lebih mendalam, sehingga menumbuhkan kedekatan dan mendorong interaksi yang lebih intens.
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Dalam sosiologi, bentuk-bentuk interaksi sosial umumnya dibedakan menjadi dua kelompok besar: proses asosiatif (mengarah pada penyatuan) dan proses disosiatif (mengarah pada perbedaan atau pertentangan).
1. Proses Asosiatif
a. Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama adalah usaha bersama antara individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang dianggap penting bagi semua pihak. Bentuknya dapat berupa kerukunan, gotong royong, dan tolong-menolong, kerja sama bisnis (joint-venture), dan koalisi antara organisasi atau kelompok.
b. Akomodasi (Accommodation)
Akomodasi adalah proses atau keadaan di mana pihak-pihak yang semula bertentangan berusaha meredakan konflik dan mencapai keseimbangan hidup bersama. Bentuknya dapat berupa mediasi, kompromi, arbitrase, toleransi, dan lain-lain.
c. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial lanjutan ketika perbedaan antarindividu atau kelompok berangsur berkurang, dan lahir kesatuan sikap dan tindakan berdasarkan kepentingan bersama.
d. Akulturasi (Acculturation)
Akulturasi terjadi ketika suatu kelompok menerima unsur-unsur budaya asing dan mengolahnya ke dalam budaya sendiri tanpa menghilangkan kepribadian budaya asal.
2. Proses Disosiatif
a. Persaingan (Competition)
Terjadi ketika individu atau kelompok berlomba mencapai tujuan tertentu tanpa menggunakan kekerasan, misalnya persaingan ekonomi, persaingan jabatan, atau kompetisi prestasi di sekolah.
b. Kontravensi (Contravention)
Tahap antara persaingan dan konflik terbuka, ditandai ketidakpuasan tersembunyi, penolakan halus, atau manuver taktis terhadap pihak lain.
c. Pertentangan atau Konflik (Conflict)
Terjadi ketika individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan dengan menantang pihak lain, bahkan menggunakan ancaman atau kekerasan. Konflik bisa bersifat pribadi, rasial, kelas sosial, politik, hingga internasional.
Menariknya, konflik tidak selalu negatif. Dalam batas tertentu, konflik dapat memperkuat solidaritas internal sebuah kelompok, mendorong perubahan, dan memicu penyesuaian struktur sosial baru.
Contoh Interaksi Sosial dalam Kehidupan Sehari-Hari
Berbagai teori di atas dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari, antara lain:
- Kerja sama:
Siswa mengerjakan tugas kelompok, warga melakukan gotong royong, tim kerja menyusun proyek bersama.
- Akomodasi:
Dua tetangga yang sempat berselisih lalu berdamai melalui musyawarah, atau kelompok yang berbeda pandangan sepakat menjaga ketertiban bersama.
- Asimilasi dan akulturasi:
Pendatang belajar bahasa dan adat setempat, perpaduan budaya lokal dan global dalam musik, kuliner, maupun fesyen.
- Persaingan:
Perusahaan berlomba menarik pelanggan, pelajar memperebutkan peringkat, dan kandidat bersaing dalam pemilihan organisasi.
- Konflik:
Perdebatan tajam dalam rapat organisasi, konflik kepentingan di tempat kerja, atau ketegangan antar kelompok akibat perbedaan nilai. (Angela Merici Andriani Uto Keraf)