Bisnis.com, CIREBON - Industri perhotelan di Kota Cirebon, Jawa Barat, tengah berada di fase suram. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) gabungan hotel bintang dan nonbintang pada September 2025 hanya mencapai 38,47%.
Angka ini nyaris stagnan dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 38,46%, naik tipis 0,01 poin saja.
Secara tahunan, penurunan jauh lebih tajam. TPK September 2025 merosot 8,58 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 47,05%. Kondisi ini menandakan daya serap pasar terhadap jasa akomodasi di Cirebon terus melemah sepanjang 2025.
Plt Kepala BPS Kota Cirebon, Ujang Mauludin, mengungkapkan tren penurunan tersebut sudah terlihat sejak awal tahun. Ia menilai sektor perhotelan belum sepenuhnya pulih pascapandemi dan masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan domestik.
“Hotel-hotel di Cirebon mulai kehilangan momentum karena kegiatan wisata maupun bisnis belum menggeliat seperti sebelumnya,” ujar Ujang dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (5/11/2025).
Berdasarkan data bulanan, TPK tertinggi dalam setahun terakhir terjadi pada Desember 2024 sebesar 49,85%, seiring dengan libur Natal dan Tahun Baru.
Namun, sejak awal 2025, tren terus menurun hingga mencapai titik terendah pada Februari 2025 di angka 29,51%. Setelah sempat naik ke kisaran 42% pada pertengahan tahun, okupansi kembali melemah di Agustus dan September.
Ujang menjelaskan, faktor utama penurunan TPK antara lain sepinya wisatawan domestik, berkurangnya agenda konferensi dan pertemuan bisnis, serta meningkatnya biaya perjalanan.
Harga bahan bakar yang naik dan terbatasnya kegiatan promosi pariwisata ikut menekan tingkat hunian kamar.
“Cirebon masih kalah bersaing dengan kota lain di Jawa Barat yang gencar menggelar event wisata dan bisnis. Akibatnya, permintaan kamar hotel tidak mampu tumbuh,” katanya.
Kalah Saing dengan Penginapan Daring dan Homestay
Selain itu, Ujang menyoroti pergeseran pola konsumsi wisatawan. Munculnya penginapan daring dan homestay dengan tarif lebih rendah membuat banyak pelancong beralih dari hotel konvensional.
Fenomena ini berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan hotel menengah dan besar.
“Wisatawan sekarang lebih pragmatis. Mereka mencari penginapan murah dan fleksibel,” tambahnya.
Pelemahan sektor perhotelan ikut berimbas pada ekonomi daerah. Pendapatan pajak hotel yang menjadi salah satu sumber utama kas daerah diperkirakan turun signifikan.
Industri pendukung seperti katering, transportasi wisata, hingga UMKM kuliner juga ikut tertekan karena berkurangnya tamu yang menginap.
Menurut Ujang, upaya pemulihan industri perhotelan membutuhkan strategi kolaboratif antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas pariwisata. Ia menilai Cirebon memiliki potensi kuat di sektor heritage, kuliner, dan wisata religi, namun belum tergarap maksimal.
“Pemerintah perlu memanfaatkan momentum konektivitas dengan Bandara Kertajati dan jalur tol Trans Jawa untuk menarik lebih banyak wisatawan,” ucapnya.
BPS mencatat, sejak kuartal II 2025, tingkat hunian hotel di Cirebon konsisten di bawah 45%. Kondisi ini menunjukkan belum adanya dorongan kuat dari sisi permintaan. Tanpa langkah strategis, Ujang memperkirakan industri perhotelan di wilayah ini akan terus menghadapi tekanan hingga akhir tahun.
“Dibutuhkan program promosi yang berkelanjutan serta penyelenggaraan kegiatan berskala nasional agar pergerakan wisatawan kembali meningkat. Jika tidak, kontribusi sektor hotel terhadap perekonomian lokal akan semakin kecil,” tutupnya.