Bisnis.com, JAKARTA - Kasus hantavirus kembali disorot setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengonfirmasi infeksi di kapal pesiar Samudra Atlantik pada April 2026 yang menewaskan satu orang. Virus dari tikus ini menular lewat paparan kotoran atau urine yang terhirup dan dapat memicu gangguan pernapasan hingga gagal ginjal.
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Virus ini hidup secara alami di tubuh hewan tanpa menimbulkan gejala, namun dapat menyebabkan penyakit serius ketika menginfeksi manusia. Penularan umumnya terjadi melalui paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terkontaminasi virus.
Mekanisme Penularan yang Perlu Diwaspadai
Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa jalur utama penularan hantavirus adalah melalui inhalasi aerosol. Artinya, virus dapat masuk ke tubuh ketika seseorang menghirup partikel halus dari urine atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu.
Selain melalui udara, penularan juga bisa terjadi saat seseorang menyentuh permukaan yang terkontaminasi, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata. Dalam kasus tertentu, gigitan tikus juga berpotensi menjadi jalur infeksi. Meski demikian, penularan antarmanusia sangat jarang terjadi dan hanya terbatas pada strain tertentu seperti virus Andes.
Lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk, termasuk ruang yang lama tidak dibuka atau area dengan populasi tikus tinggi, menjadi lokasi dengan risiko penularan paling besar.
Kronologi Dari Indonesia hingga Kapal Pesiar
Di Indonesia, kasus hantavirus tergolong jarang namun tetap mendapat perhatian. Hingga pertengahan 2025, Kementerian Kesehatan mencatat delapan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang tersebar di beberapa wilayah seperti DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Seluruh kasus masih dalam pemantauan dan belum memenuhi kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB).
Salah satu pasien di Bandung Barat dilaporkan telah sembuh setelah menjalani perawatan intensif. Pemerintah juga terus melakukan pelacakan kontak serta edukasi kepada masyarakat guna mencegah penyebaran lebih lanjut.
Sementara itu, kasus internasional terbaru terjadi di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi adanya dua kasus hantavirus di kapal tersebut.
Kasus pertama melibatkan seorang penumpang, disusul oleh kasus kedua seorang wanita asal Belanda yang meninggal pada 27 April. Selain itu, seorang warga negara Inggris yang terinfeksi telah dievakuasi dan menjalani perawatan intensif di Johannesburg, Afrika Selatan.
Situasi di kapal semakin kompleks dengan adanya dua anggota kru yang mengalami gejala pernapasan, satu dalam kondisi ringan dan satu lainnya cukup berat. Total sekitar 150 orang masih berada di kapal saat kasus tersebut teridentifikasi, sehingga pengawasan kesehatan dilakukan secara ketat.
Gejala dan Perkembangan Penyakit
Infeksi hantavirus memiliki dua bentuk utama, yaitu HFRS yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.
Pada fase awal, gejala sering kali menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Seiring waktu, kondisi dapat memburuk dengan munculnya gejala lanjutan seperti nyeri perut, mual, hingga gangguan fungsi ginjal pada HFRS.
Pada HPS, gejala dapat berkembang menjadi lebih serius dalam beberapa hari, termasuk batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru yang berujung pada gagal napas. Dalam kondisi berat, dapat terjadi kebocoran pembuluh darah yang menyebabkan edema paru dan hipoksia.
Tingkat fatalitas penyakit ini cukup tinggi. HPS memiliki angka kematian sekitar 38–40 persen, sedangkan HFRS berkisar hingga 6 persen tergantung tingkat keparahan dan penanganan medis.
Diagnosis dan Penanganan
Diagnosis hantavirus dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan riwayat paparan, gejala klinis, serta tes laboratorium seperti serologi dan PCR untuk mendeteksi keberadaan virus. Pada kasus yang melibatkan paru-paru, pemeriksaan pencitraan seperti rontgen atau CT scan juga diperlukan.
Hingga saat ini, belum tersedia antivirus atau vaksin khusus untuk hantavirus. Penanganan difokuskan pada terapi suportif, seperti pemberian oksigen, penggunaan ventilator, serta pengelolaan cairan tubuh secara ketat.
Pada kasus HFRS yang berat, pasien mungkin memerlukan dialisis akibat gangguan ginjal. Sementara itu, teknologi lanjutan seperti ECMO dapat digunakan pada pasien HPS dengan kondisi kritis.
Meski tergolong penyakit serius, hantavirus dinilai memiliki potensi kecil untuk menjadi pandemi global. Hal ini disebabkan oleh pola penularannya yang tidak mudah menyebar antar manusia, melainkan lebih banyak melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat.
Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di wilayah dengan populasi tikus tinggi dan sanitasi lingkungan yang kurang baik.
Upaya Pencegahan yang Efektif
Pencegahan menjadi langkah paling penting dalam menghadapi hantavirus. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta memastikan makanan disimpan dalam wadah tertutup.
Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, disarankan menggunakan alat pelindung seperti masker dan sarung tangan. Ruangan yang lama tertutup juga perlu diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Selain itu, penting untuk tidak menyentuh tikus secara langsung dan membersihkan kotorannya menggunakan disinfektan. Edukasi masyarakat terkait risiko paparan juga menjadi kunci dalam menekan potensi penyebaran.
Hantavirus merupakan penyakit yang jarang terjadi, namun memiliki risiko fatal yang tinggi jika tidak ditangani dengan cepat. Gejala awal yang menyerupai flu sering kali membuat infeksi ini terlambat terdeteksi, padahal kondisi dapat memburuk dalam waktu singkat.
Dengan belum adanya pengobatan spesifik, pencegahan melalui kebersihan lingkungan dan pengendalian hewan pengerat menjadi strategi utama. Deteksi dini dan akses cepat ke layanan kesehatan sangat menentukan peluang kesembuhan pasien.