Bisnis.com, JAKARTA – Intel Corporation (Intel) mengumumkan inisiatif untuk memproduksi Unit Pemrosesan Grafis (GPU) guna menantang dominasi Nvidia Corporation.
CEO Intel Lip-Bu Tan mengatakan perusahaan akan mulai memproduksi jenis chip baru yang popularitasnya melonjak berkat rival mereka, Nvidia. Inisiatif ini dinilai krusial mengingat posisi GPU yang kini menjadi komponen vital dalam ekosistem teknologi global.
"Perusahaan berencana mengembangkan strategi berdasarkan permintaan dan kebutuhan pelanggan," kata Tan dikutip dari TechCrunch, Kamis (5/2/2026).
Tan menjelaskan bahwa GPU merupakan prosesor yang lebih terspesialisasi dibandingkan CPU yang biasanya diproduksi oleh Intel. Komponen ini digunakan untuk tugas-tugas berat seperti pelatihan model kecerdasan artifisial (AI) yang sedang booming dan grafis gim.
Pergeseran fokus ke GPU didorong oleh kebutuhan infrastruktur pusat data (data center) modern. GPU telah menjadi tulang punggung AI karena arsitektur inti masif paralelnya mampu mempercepat operasi aljabar linier pada jaringan saraf tiruan.
Arsitektur ini memungkinkan pelatihan model yang lebih cepat dan throughput yang lebih tinggi untuk inferensi. Hal ini menyebabkan penyedia layanan komputasi awan (cloud) dan perusahaan rintisan (startup) lebih memilih membangun kluster berbasis GPU dibandingkan CPU.
Guna memastikan keberhasilan proyek ini, Intel telah menunjuk jajaran kepemimpinan teknis baru. Proyek ini akan diawasi oleh Wakil Presiden Eksekutif dan General Manager Grup Pusat Data Intel, Kevork Kechichian
Kechichian direkrut pada September lalu bersama sejumlah insinyur berprofil tinggi lainnya. Selain itu, Intel juga merekrut Eric Demers, mantan Senior Vice President of Engineering Qualcomm, pada Januari untuk memperkuat tim pengembangan.
Para analis pasar sepakat bahwa Nvidia saat ini memegang kendali mutlak atas sektor ini. Data dari Omdia dan Mercury Research mengestimasi pangsa pasar Nvidia untuk GPU pusat data dan akselerator AI berada jauh di atas 80%.
Dominasi tersebut ditopang oleh perangkat keras unggulan seperti H100 dan ekosistem perangkat lunak yang matang. Hasil benchmark MLPerf dari MLCommons juga secara rutin menempatkan Nvidia di peringkat teratas untuk kinerja pelatihan dan inferensi.
Bagi pelaku industri, kehadiran alternatif kredibel selain Nvidia diharapkan dapat memperluas pasokan dan menekan harga. Saat ini, akselerator premium sering dijual dengan harga di atas US$25.000 atau sekitar Rp419 juta per unit melalui pengecer.
Masuknya Intel juga berpotensi mengubah dinamika kompetisi yang melibatkan AMD dengan lini produk Instinct-nya. Kehadiran vendor ketiga dapat membantu menormalisasi perangkat lunak multi-vendor dan mengurangi ketergantungan pada ekosistem CUDA milik Nvidia.
Jika eksekusi berjalan lancar, skala manufaktur dan keahlian pengemasan (packaging) Intel dapat menjadi tuas untuk menyeimbangkan pasar yang terkendala rantai pasok. Namun, risiko kegagalan tetap membayangi jika Intel tidak mampu membangun dukungan pengembang perangkat lunak yang kuat.