Bisnis.com, JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mengumumkan perombakan manajemen, dengan Patrick Walujo yang mengundurkan diri sebagai CEO dan akan mengangkat Hans Patuwo sebagai CEO baru. Lalu, apakah pergantian manajemen ini menjadi tanda merger semakin dekat?
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan pergantian CEO memang tidak otomatis berarti merger. Akan tetapi, untuk kasus GOTO, menurutnya wajar jika pasar mulai berspekulasi.
“Investor besar seperti SoftBank, Alibaba, dan Provident sudah lama mendorong struktur yang lebih ramping, dan merger atau akuisisi selalu dianggap jalan pintas untuk memangkas biaya dan memperkuat posisi,” ucap Liza, Senin (24/11/2025).
Menurut Liza, Hans Patuwo yang akan menjadi CEO baru merupakan tipe operator, bukan deal-maker seperti Patrick. Biasanya, lanjut Liza, apabila operator maju ke kursi nomor satu, hal tersebut menjadi tanda bahwa urusan strategi besar mungkin sudah diselesaikan di belakang layar oleh dewan dan para pemegang saham besar.
“Masuknya nama-nama lama yang kuat seperti Andre Soelistyo dan Santoso Kartono ke jajaran komisaris juga bikin puzzle-nya semakin menarik. Perubahan konfigurasi dewan seperti ini sering muncul sebelum sebuah langkah strategis dilepas ke publik,” tuturnya.
Liza juga menuturkan memang belum terdapat bukti apapun, tapi pasar membaca apabila pemegang saham besar mulai merapikan formasi, kemungkinan ada agenda besar yang sedang disiapkan.
Liza melanjutkan, dalam konteks GOTO, yaitu dengan kondisi perusahaan yang sedang mencari profit berkelanjutan, pasar cenderung melihat strategic merger atau partnership sebagai hal positif.
Adapun Liza menjelaskan merger secara umum memiliki dampak baik jika menghilangkan tumpang tindih biaya operasional atau redundancies, memperkuat bargaining power terhadap platform pembayaran, mitra logistik, merchant, dan sebagainya. Lalu meningkatkan skala ekonomi, menggabungkan user base dan data, dan menghemat cash burn yang merupakan masalah utama GoTo sejak IPO.
Merger dapat berpotensi buruk jika mengundang pengawasan dari regulator persaingan usaha, integrasi kultur & teknologi sulit, brand equity berkurang, dan proses integrasi memakan waktu dan biaya tinggi.
“Business wise, merger bagi GOTO umumnya positif, terutama untuk efisiensi biaya, memperbaiki struktur margin, dan memperkuat daya saing di pasar on-demand dan e-commerce,” ucapnya.
Sebagai informasi, pagi ini GOTO mengumumkan rencana perubahan kepemimpinan, dengan Hans Patuwo yang dinominasikan menjadi CEO, dan Patrick Walujo mengundurkan diri dari jabatannya setelah menjabat sebagai CEO sejak Juni 2023.
Patrick menuturkan Hans memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai operasional GOTO, mulai dari pengalaman di lapangan, hingga keputusan strategi korporasi.
“Kapabilitas kepemimpinan yang telah teruji serta integritas yang dimilikinya menjadikan Hans sosok yang tepat untuk memimpin GOTO memasuki babak baru perjalanannya,” ujar Patrick dalam keterangan resminya, Senin (24/11/2025).
Adapun Hans saat ini merupakan Chief Operating Officer dan Presiden On-Demand Services (ODS) GOTO. Sebelum bergabung dengan Gojek, Hans memiliki pengalaman bekerja di Amerika Serikat, China, dan Singapura pada berbagai perusahaan multinasional, termasuk menjabat sebagai Partner di firma konsultan manajemen McKinsey.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.