Bisnis.com, JAKARTA — Respons orang tua dalam menyikapi kebiasaan BAB dan perilaku picky eater pada anak berpengaruh besar terhadap kondisi gizi anak ke depan, karena salah tafsir terhadap hal yang masih normal dapat mendorong penanganan berlebihan yang justru mengganggu pola makan dan tumbuh kembang anak.
Pakar Gizi Masyarakat IPB, Prof. Dr. Rimbawan mengatakan BAB yang terjadi sesaat setelah anak makan tidak selalu menandakan gangguan pencernaan. Pada bayi dan balita, kondisi tersebut bisa merupakan refleks gastrokolik, yakni respons alami usus setelah makanan masuk.
“Kalau setelah makan anak langsung BAB, belum tentu ada masalah. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensinya, misalnya apakah lebih dari empat kali sehari, cair, berlendir, atau berbau tidak sedap,” ujarnya dalam webinar perayaan Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026, Kamis (5/2/2026).
Menurut Rimbawan, kewaspadaan perlu ditingkatkan bila BAB disertai tanda lain, seperti penurunan atau stagnasi berat badan. Pemantauan grafik pertumbuhan menjadi indikator penting untuk menilai apakah anak mengalami masalah gizi.
“Jika berat badan tidak naik selama dua bulan berturut-turut, itu perlu dievaluasi lebih lanjut. Bukan untuk panik, tetapi untuk memastikan tidak ada gangguan yang mendasari,” tambahnya.
Selain pola BAB, perilaku picky eater juga kerap menimbulkan kecemasan berlebihan pada orang tua. Rimbawan menekankan bahwa kondisi tersebut tidak selalu mencerminkan kegagalan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) atau kesalahan pola asuh.
“Banyak anak tetap tumbuh baik meski picky eater. Ini bagian dari tahap perkembangan, terutama pada usia dua hingga enam tahun ketika anak mulai sensitif terhadap tekstur, rasa, dan aroma makanan,” ujarnya.
Dia menilai respons orang tua yang keliru, seperti memaksa anak makan atau memberikan distraksi berlebihan, justru dapat memperburuk kebiasaan makan. Anak berisiko menjadikan makan sebagai aktivitas yang sarat tekanan, bukan kebutuhan biologis.
“Orang tua sebaiknya menawarkan makanan tanpa memaksa. Anak butuh waktu untuk mengenali makanan baru. Biarkan mereka menyentuh, mencium, bahkan bermain dengan makanan sebagai bagian dari proses belajar,” tambahnya.
Disisi lain dalam pencegahan masalah gizi, Rimbawan juga mengingatkan pentingnya pengaturan tekstur MPASI. Makanan yang terlalu encer dapat membuat asupan energi kurang optimal, sementara penyesuaian kepadatan secara bertahap membantu anak beradaptasi dengan kebutuhan gizinya.
Menurutnya, pengelolaan pola makan dan pencernaan anak sejak dini menjadi fondasi penting untuk mencegah masalah gizi di kemudian hari.
Kesalahan kecil dalam merespons perilaku yang sebenarnya normal dapat berdampak panjang jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat.