Bisnis.com, MAKASSAR - Kinerja ekspor komoditas pangan asal Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatatkan rapor impresif sepanjang 2025 dengan jangkauan pasar hingga ke 63 negara.
Menanggapi tingginya mobilitas perdagangan tersebut, Badan Karantina Indonesia (Barantin) bakal mempercepat langkah modernisasi infrastruktur guna membentengi keamanan hayati nasional.
Berdasarkan data sertifikasi Karantina Sulawesi Selatan, total volume ekspor sepanjang tahun lalu mencapai 355.431 ton dengan nilai ekonomi menembus Rp11,1 triliun.
Performa ini disebut mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai hub logistik utama sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Kepala Badan Karantina Indonesia Sahat M. Panggabean mengungkapkan bahwa sektor perikanan menjadi kontributor terbesar dengan nilai ekspor mencapai Rp5,6 triliun.
Komoditas unggulan seperti udang vannamei, tuna, kerapu, gurita, hingga karagenan tercatat mendominasi pengiriman ke pasar global.
Menyusul di posisi kedua, sektor pertanian yang meliputi komoditas rumput laut, kelapa bulat, kakao, kacang mete, dan porang memberikan kontribusi nilai ekonomi sebesar Rp5,5 triliun.
Selain itu, komoditas sektor hewan seperti sarang burung walet hingga madu turut menyumbangkan nilai ekspor sekitar Rp979 juta.
"Komoditas ini telah menembus pasar-pasar strategis mulai dari China, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vietnam, Korea Selatan, hingga negara-negara Eropa seperti Belanda dan Prancis," kata Sahat melalui keterangan resmi, Senin (27/4/2026).
Barantin sendiri tengah melakukan transformasi menyeluruh. Fokus utama saat ini bergeser pada revitalisasi laboratorium dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) setelah sukses mengimplementasikan sistem layanan digital.
Sahat menegaskan bahwa laboratorium merupakan instrumen krusial dalam mendeteksi risiko biologis. Penguatan tersebut bertujuan memastikan seluruh komoditas yang keluar-masuk wilayah Indonesia bebas dari ancaman hama, penyakit, dan organisme pengganggu tumbuhan maupun hewan yang dapat mengganggu produksi pangan nasional.
"Laboratorium merupakan senjata karantina kita untuk bertempur. Karena itu kita dorong modernisasi alat, pembenahan gedung, hingga peningkatan kemampuan SDM sebagai bagian dari penguatan seluruh aspek perlindungan keamanan hayati," tegas Sahat.
Selain performa ekspor, dinamika perdagangan domestik di Sulawesi Selatan juga menunjukkan angka yang masif. Data lalu lintas domestik keluar (dokel) tercatat mencapai 439,55 juta kilogram dengan nilai Rp5,12 triliun. Sementara itu, arus domestik masuk (domas) berada di angka 115,39 juta kilogram senilai Rp1,39 triliun.
Di sisi lain, aktivitas impor juga terpantau stabil dengan volume sekitar 264,35 juta kilogram yang memiliki nilai mencapai Rp1,10 triliun.