JAKARTA, KOMPAS.com - Bea Cukai Jakarta menggagalkan upaya ekspor ilegal ratusan kilogram emas melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Senin (27/4/2026), dengan potensi kerugian negara yang berhasil dicegah mencapai Rp 41,19 miliar.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama mengatakan, dalam penindakan itu, petugas mengamankan 60,3 kilogram perhiasan emas dan 130,262 kilogram koin emas, dengan total berat lebih dari 190 kilogram dan nilai mencapai sekitar Rp 502,5 miliar.
Kasus ini bermula dari informasi adanya rencana pengiriman enam koli berisi perhiasan dan koin emas yang diduga tidak diberitahukan dalam dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB).
“Ekspor emas harus dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan agar hak negara dapat terpenuhi dan stabilitas pasokan dalam negeri tetap terjaga,” ujar Djaka di Kantor Dirjen Bea Cukai pada Selasa (28/4/2026).
Djaka menjelaskan bahwa, muatan tersebut rencananya diangkut menggunakan pesawat carter melalui Bandara Halim Perdanakusuma.
Menindaklanjuti informasi itu, petugas melakukan pemeriksaan mendalam terhadap muatan pesawat di area apron dan menemukan 611 buah gelang emas seberat 60,3 kilogram senilai 8,94 juta dollar AS, serta 2.971 koin emas seberat 130,262 kilogram senilai 19,4 juta dollar AS.
Barang-barang itu kemudian ditegah dan diterbitkan Surat Bukti Penindakan untuk proses pemeriksaan lanjutan.
Empat pihak terkait turut diamankan dalam perkara ini, yakni HH, AH, HG, serta seorang warga negara India berinisial PP.
Djaka mengatakan penindakan ini berkaitan dengan pengawasan terhadap ekspor komoditas bernilai tinggi atau high value goods (HVG), termasuk emas.
Berdasarkan perhitungan sementara, nilai pabean komoditas tersebut mencapai Rp 486,07 miliar.
Sementara khusus koin emas dengan HS Code 7108.12.90, komoditas ini dikenakan tarif bea keluar 12,5 persen sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 80 Tahun 2025.
Dari kewajiban bea keluar yang diduga dihindari itu, potensi kerugian negara diperkirakan mencapai Rp 41,19 miliar.
Kasus ini sekaligus menyoroti implementasi aturan baru pemerintah terkait bea keluar emas yang berlaku sejak November 2025.
Kebijakan tersebut dirancang tidak hanya untuk mengamankan penerimaan negara, tetapi juga menjaga pasokan emas domestik, stabilitas harga, serta mendorong hilirisasi dan pendalaman sektor keuangan nasional.
Djaka menegaskan pengawasan terhadap ekspor emas akan terus diperketat, terutama untuk mencegah praktik penghindaran kewajiban negara dalam perdagangan komoditas strategis.
Penindakan ini menjadi salah satu pengungkapan besar di sektor ekspor komoditas bernilai tinggi, sekaligus menunjukkan pengawasan terhadap lalu lintas barang strategis melalui jalur udara semakin diperketat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang