Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI), yang masuk dalam jajaran Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI), berkomitmen memperkuat inklusi dan kesehatan keuangan sebagai bagian terintegrasi dari agenda pembangunan nasional.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, sebagaimana dalam keterangan di Jakarta, Jumat, menjelaskan bahwa komitmen itu diwujudkan melalui berbagai kebijakan yang mendorong peningkatan literasi keuangan, memperluas akses terhadap layanan keuangan yang berkualitas, serta memperkuat pelindungan konsumen bagi seluruh kelompok masyarakat.
Dalam agenda memperkuat inklusi keuangan dan kesehatan keuangan, BI mendorong ketahanan sektor rumah tangga melalui berbagai kebijakan, antara lain insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk sektor prioritas dan pelonggaran rasio loan-to-value/financing-to-value (LTV/FTV) bagi pembiayaan properti dan kendaraan bermotor.
Sejalan dengan itu, BI mengakselerasi berbagai inisiatif makroprudensial dan digitalisasi sistem pembayaran untuk memperkuat ekosistem keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
BI juga menegaskan komitmennya memperkuat pelindungan konsumen melalui penguatan keamanan transaksi digital dan peningkatan literasi keuangan.
Pada Kamis (27/11) di Jakarta, Destry menghadiri pertemuan Ministerial Group Meeting yang merupakan rangkaian kunjungan Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda sebagai Advokat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA)
Pertemuan tersebut diikuti oleh BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta sejumlah otoritas sektor keuangan sebagai wujud sinergi erat dalam mewujudkan kesehatan keuangan di Indonesia.
Ratu Maxima turut menyampaikan kesan positif atas penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai contoh perluasan akses layanan keuangan yang inklusif dan mudah dijangkau masyarakat.
Sebelumnya pada Selasa (25/11), Ratu Maxima meninjau Kampung Batik Laweyan di Solo, Jawa Tengah, dan menyaksikan langsung penggunaan QRIS dalam transaksi.
Ratu Maxima menyampaikan bahwa kesehatan keuangan masih menjadi tantangan di banyak negara, termasuk risiko beban utang rumah tangga yang dapat menghambat pemenuhan kebutuhan dasar.
Ia juga menyoroti pentingnya peran sektor swasta dan regulator dalam merancang produk dan kebijakan yang mendukung financial health, serta perlunya koordinasi antarotoritas, pertukaran data, dan penguatan pelindungan terhadap risiko digital seperti penipuan dan scam.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025