Bisnis.com, JAKARTA — Pengelola gerai minuman Teguk, PT Platinum Wahab Nusantara Tbk. (TGUK), berencana melakukan diversifikasi usaha di bidang daging beku dan pengolahan makanan dengan perkiraan modal Rp42,9 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, dikutip Kamis (13/11/2025), Teguk akan mengalihkan hasil pengembalian dana yang semula dialokasikan untuk rencana pengembangan gerai menjadi modal kerja awal bisnis frozen meat dan food processing.
Rencana bisnis baru tersebut dijadwalkan mulai dijalankan pada bulan ini atau November 2025. Pada tahap awal, Teguk akan menjalin kerja sama melalui jasa kontrak produksi (maklon) dengan pihak ketiga, hingga perseroan menyelesaikan seluruh kebutuhan investasi untuk dapat melakukan kegiatan produksi secara mandiri.
Laba yang dihasilkan dari kegiatan usaha baru melalui skema maklon akan digunakan kembali untuk mendanai kebutuhan investasi bisnis frozen meat dan food processing pada Januari-Agustus 2026.
Berdasarkan klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI), kegiatan baru Teguk mencakup Perdagangan Besar Daging Sapi dan Daging Sapi Olahan (KBLI 46321), Perdagangan Besar Daging Ayam dan Daging Ayam Olahan (KBLI 46322), Industri Pengolahan dan Pengawetan Produk Daging dan Daging Unggas (KBLI 10130), serta Industri Makanan dan Masakan Olahan (KBLI 10750). Selain itu, Teguk juga menambah kegiatan Perdagangan Besar Makanan dan Minuman Lainnya (KBLI 46339).
Manajemen menilai, peluang di bisnis daging beku dan pengolahan makanan di Indonesia masih sangat besar. “Bisnis frozen meat dan food processing di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang kuat, didorong oleh urbanisasi, meningkatnya jumlah pekerja perkotaan, serta tingginya permintaan terhadap produk siap saji dan sumber protein hewani,” ujar manajemen.
Menurut data Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), nilai pasar makanan beku nasional telah menembus Rp200 triliun pada 2024 dan diproyeksikan terus meningkat pada 2025.
Adapun riset IMARC Group memperkirakan pasar makanan beku Indonesia mencapai US$3,4 miliar pada 2024 dan akan naik menjadi US$5,9 miliar pada 2033, dengan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 6,31% sepanjang 2025–2033.
TGUK memperkirakan diversifikasi usaha dapat meningkatkan pendapatan perseroan dari Rp1,2 miliar pada periode Agustus -Desember 2025 menjadi Rp803,86 miliar pada 2030. Namun, akan terjadi kenaikan beban pokok pendapatan, terutama fase awal ekspansi pada 2025-2027.
Dampak awal ekspansi, TGUK bakal membukukan rugi operasional pada 2025-2027, yang wajar dalam fase investasi dan pembangunan kapasitas. Perseroan mulai mencatatkan laba pada 2028 sebesar Rp3,31 miliar dan akan meningkat menjadi Rp29,64 miliar pada 2030.
Sebagai bagian dari tahapan regulasi, Teguk akan meminta persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 2 Desember 2025 di The GALA, Tangerang Selatan. Agenda rapat mencakup persetujuan atas penambahan kegiatan usaha dan perubahan penggunaan dana hasil penawaran umum.