Bisnis.com, GARUT- Pemerintah Kabupaten Garut menyiapkan anggaran sebesar Rp11,52 miliar untuk pengadaan benih kentang G-2 pada tahun anggaran 2026. Paket pengadaan tersebut tercantum dalam rencana umum pengadaan (RUP) Dinas Pertanian Kabupaten Garut dan akan dilaksanakan melalui mekanisme tender terbuka.
Berdasarkan data RUP, pengadaan ini masuk dalam program UPLAND yang bertujuan mendukung peningkatan produktivitas hortikultura, khususnya komoditas kentang yang menjadi salah satu andalan pertanian Garut. Paket tersebut tercatat memiliki kode RUP 62098647 dan diumumkan secara resmi pada 23 Desember 2025.
Lokasi distribusi benih direncanakan berada di dua kecamatan sentra kentang, yakni Kecamatan Cikajang dan Kecamatan Cisurupan. Kedua wilayah ini dikenal sebagai kawasan dataran tinggi dengan kontribusi signifikan terhadap produksi kentang di Jawa Barat.
Dengan volume pekerjaan satu paket, pengadaan ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan benih turunan G-2 bagi petani pada musim tanam berikutnya.
Dari sisi pembiayaan, seluruh anggaran pengadaan bersumber dari APBD Kabupaten Garut tahun 2026. Nilai pagu yang mencapai belasan miliar rupiah menjadikan paket ini sebagai salah satu pengadaan pertanian dengan nilai cukup besar di tingkat kabupaten. Dalam dokumen perencanaan, paket ini juga telah masuk tahap pra-DIPA/DPA, menandakan kesiapan administratif sebelum pelaksanaan tender.
Pemerintah daerah menetapkan metode pemilihan penyedia melalui tender, dengan jadwal pemilihan dimulai pada Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada Januari 2026. Selanjutnya, pelaksanaan kontrak direncanakan berlangsung dari Januari hingga Juni 2026, sementara pemanfaatan benih oleh penerima manfaat dijadwalkan mulai Juni hingga Desember 2026.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Garut resmi memulai tahapan pelaksanaan program The Development of Integrated Farming System in Upland Area (Upland) dengan fokus pada komoditas kentang.
Program yang digawangi Dinas Pertanian ini menargetkan pengembangan lahan seluas 480 hektare dalam kurun waktu dua tahun, mulai 2025 hingga 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Haeruman menyebutkan program Upland merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan lembaga donor internasional, dengan dukungan teknis dari Kementerian Pertanian RI.
“Tujuan utama program ini adalah meningkatkan produktivitas lahan pertanian di dataran tinggi yang potensial untuk pengembangan kentang, sekaligus mendongkrak pendapatan petani melalui sistem pertanian terpadu dari hulu ke hilir,” kata Haeruman.
Menurutnya, kentang dipilih sebagai komoditas unggulan karena memiliki nilai ekonomi tinggi, siklus tanam yang relatif pendek, serta permintaan pasar yang terus meningkat. Garut sebagai daerah pegunungan memiliki suhu dan topografi yang mendukung budidaya kentang secara optimal.
Haeruman menjelaskan, total lahan yang disiapkan tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Cikajang, Bayongbong, Cisurupan, dan Samarang. Proses identifikasi lahan sudah dimulai sejak akhir 2024 melalui pemetaan digital dan survei lapangan.
“Dari total 480 hektare yang ditargetkan, sebagian besar merupakan lahan milik petani lokal yang selama ini belum dimaksimalkan secara produktif. Melalui program ini, petani akan difasilitasi dari segi bibit unggul, pupuk, alat mesin pertanian (alsintan), hingga pelatihan budidaya modern,” ujarnya.
Tak hanya fokus pada pengembangan budidaya, program Upland di Garut juga akan membangun infrastruktur pendukung. Sebanyak 11 kilometer Jalan Usaha Tani akan dibangun untuk memperlancar mobilitas hasil panen.
Selain itu, 24 unit irigasi air tanah dalam akan dibangun di titik-titik strategis untuk menjamin ketersediaan air selama musim kemarau. Haeruman mengatakan, Dinas Pertanian Garut juga menyiapkan skema kelembagaan ekonomi petani melalui pembentukan Bank Tani.
Lembaga ini berfungsi sebagai koperasi tani yang dikelola secara kolektif oleh kelompok petani penerima program. Bank Tani pun bertugas mengelola pinjaman mikro, distribusi sarana produksi, hingga pemasaran hasil panen.
“Melalui skema ini, petani tidak hanya diberi alat produksi, tetapi juga kemampuan mengelola usaha tani secara profesional. Kami bekerja sama dengan lembaga keuangan mikro untuk menyediakan pinjaman berbunga rendah,” jelas Haeruman.