Bisnis.com, BANDA ACEH — Aceh dan Turki memainkan peranan strategis dalam membentuk wajah Islam di dunia Melayu melalui hubungan politik, keilmuan, dan solidaritas umat.
Proses Islamisasi di dunia Melayu berlangsung sangat cepat dan damai karena pendekatan dakwah yang disesuaikan dengan watak masyarakat Melayu. Keunikan ini menjadikan Islam tidak hanya diterima, tetapi juga mengakar kuat hingga masa kini.
“Islamisasi dunia Melayu memang agak unik karena proses tersebut sedemikian pesat dan mencirikan watak Islam dunia Melayu yang tetap hingga sekarang,” menurut Rahimin Affandi Abd. Rahim dan peneliti lain dari Universiti Malaya, Malaysia dalam artikel berjudul Relasi Aceh dan Turki dalam Islamisasi Dunia Melayu.
Islamisasi dunia Melayu sejak awal ditandai oleh metode dakwah yang bersifat moderat dan bertahap. Para mubaligh memahami struktur sosial Melayu yang feodal dan berbasis sistem kerajaan, sehingga dakwah diarahkan terlebih dahulu kepada golongan raja sebagai pusat kekuasaan dan teladan masyarakat.
Pendekatan tersebut tidak serta-merta menghapus sistem lama, tetapi mengislamkannya dengan nilai baru. Konsep raja sebagai devaraja warisan Hindu-Buddha dialihkan menjadi raja sebagai khalifah Allah di muka bumi, tanpa menimbulkan gejolak sosial.
Selain itu, budaya lokal tidak ditolak, melainkan dijadikan medium dakwah. Para ulama mempelajari adat dan kebiasaan Melayu secara mendalam agar Islam dapat meresap secara alami ke dalam cara hidup masyarakat.
Penggunaan media komunikasi menjadi kunci penting keberhasilan dakwah. Tulisan Arab-Melayu atau Jawi dikembangkan sebagai sarana penyebaran ilmu Islam dan menjadi tonggak lahirnya tradisi intelektual Melayu-Islam.
Tulisan Jawi bukan hanya alat dakwah, tetapi berkembang menjadi lingua franca dunia Melayu. Melalui tulisan ini, karya-karya keilmuan Islam Melayu tersebar luas hingga ke Mekah, Istanbul, Bombay, dan Kairo.
Dalam konteks pendidikan, Islamisasi melahirkan budaya ilmu yang kuat. Pengajian agama diselenggarakan di istana, masjid, surau, dan pondok, serta terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial.
Aceh tampil sebagai pusat kekuatan Islam di dunia Melayu, terutama setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis. Kesultanan Aceh berperan aktif menghalangi penyebaran Kristen yang dibawa penjajah Eropa.
Langkah Aceh sering digambarkan secara negatif oleh sumber kolonial, namun analisis menunjukkan bahwa tindakan tersebut bertujuan menjaga dominasi Islam dan melindungi umat dari kekerasan penjajah.
Hubungan Aceh dengan Turki Usmani memperkuat posisi politik Islam di kawasan ini. Turki sebagai khalifah umat Islam memberikan bantuan militer, pakar persenjataan, dan perlindungan jalur dagang serta haji.
Bantuan Turki meningkatkan kepercayaan diri kerajaan-kerajaan Islam di dunia Melayu untuk melawan Portugis. Aceh bahkan menggunakan senjata dan strategi militer Turki dalam beberapa ekspedisi penting.
Relasi ini juga melahirkan gagasan Pan-Islamisme jauh sebelum konsep tersebut dikenal luas pada abad ke-19. Aceh dan Turki telah mempraktikkan persatuan umat lintas wilayah sejak abad ke-16.
Dampak hubungan ini tidak hanya bersifat politik, tetapi juga keilmuan. Keamanan perjalanan haji membuka ruang lahirnya masyarakat Jawi di Haramayn yang menjadi penghubung intelektual dunia Melayu dan Timur Tengah.
Ulama-ulama Melayu yang belajar di Mekah kemudian membawa pulang tradisi keilmuan Islam dan mengadaptasinya dengan realitas lokal. Dari sinilah lahir sistem pondok dan tradisi pengajian yang khas.
Aceh, Kelantan, dan Terengganu dikenal sebagai Serambi Mekah karena perannya sebagai pusat persiapan ilmu bagi pelajar sebelum melanjutkan studi ke Tanah Suci.