Bisnis.com, SURABAYA — Emiten pengekspor rumput laut, PT Asia Sejahtera Mina Tbk. (AGAR), menyiapkan sejumlah langkah taktis guna memitigasi tekanan makroekonomi global dan tantangan logistik yang sempat menahan laju penjualan perseroan pada awal tahun ini.
Direktur Utama AGAR, Indra Widyadharma, menjelaskan bahwa perseroan kini menerapkan kebijakan penggunaan kas yang sangat selektif (selective cash management). AGAR memprioritaskan pelunasan utang berbunga guna menekan cost of fund secara berkelanjutan serta aktif menegosiasikan term of payment agar para pembeli dapat melakukan pembayaran lebih cepat demi menjaga likuiditas.
"Tidak hanya mengandalkan pasokan domestik yang kerap terkendala tingginya biaya transportasi antar-pulau dan risiko cuaca ekstrem, AGAR juga mengambil langkah progresif dengan merintis budi daya rumput laut di Afrika sejak tahun lalu," ujarnya di Sidoarjo, Jumat (26/6/2026)
Melalui skema kemitraan (off-taker) dengan koperasi pesisir lokal di Afrika yang didominasi oleh pekerja wanita, dia meyakini, AGAR berhasil mengembangkan sumber pasokan alternatif.
"Kendati menghadapi proses birokrasi dan perizinan lokal yang panjang, proyek ini menunjukkan hasil positif. Perseroan membidik ekspor perdana dari Afrika dapat terealisasi dalam 1 hingga 2 bulan ke depan untuk memperkuat opsi pasokan global," ungkapnya.
Di sektor domestik, kata dia, strategi integrasi hilir, AGAR bertumpu pada anak usahanya, PT Giwang Citra Laut (GCL) yang berbasis di Takalar, Sulawesi Selatan. GCL, yang diakuisisi 99,99% pada 2022 dan memiliki status Kawasan Berikat, dipacu untuk memaksimalkan kapasitas produksi Semi Refined Carrageenan (SRC).
Saat ini, menurutnya, produk tepung karagenan food grade hasil olahan GCL telah diserap secara kontinu oleh pasar premium di Inggris, Spanyol, dan China.
"Sebagai langkah hilirisasi lanjutan untuk mendongkrak margin profitabilitas sekaligus mengantisipasi potensi larangan ekspor bahan mentah oleh pemerintah di masa depan, AGAR tengah memformulasikan produk jadi bernilai tambah tinggi. Perseroan berencana meluncurkan produk turunan siap konsumsi seperti permen/jeli berbasis rumput laut, serta bahan baku pakan hewan peliharaan (pet food) yang pasarnya tengah tumbuh pesat," jelasnya.
Dia menyebut proses formulasi dan pengurusan perizinan untuk produk konsumsi tersebut saat ini sedang berjalan. Manajemen AGAR memproyeksikan produk-produk hilir siap pakai ini dapat resmi diluncurkan (launching) ke pasar pada kuartal IV/2026.
Berdasarkan laporan paparan publik perseroan Juni 2026, emiten yang berfokus pada komoditas rumput laut kering jenis Eucheuma Cottonii, Gracilaria, dan Eucheuma Spinosum ini mencatatkan penurunan penjualan sebesar 12% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I/2026 menjadi Rp36,00 miliar dibandingkan dengan Rp41 miliar pada kuartal I/2025.
Seiring dengan penurunan top-line, Indra mengungkapkan, laba kotor perseroan pada 3 bulan pertama tahun 2026 menyusut 33% YoY menjadi Rp2,00 miliar dari posisi kuartal I/2025 sebesar Rp3,00 miliar.
Pada dasar laba bersih, AGAR menderita kerugian bersih sebesar Rp823 juta pada kuartal I/2026, sedikit membaik dibandingkan dengan rugi bersih kuartal I/2025 yang mencapai Rp955 juta.
Dia memaparkan, penurunan omzet pada kuartal I/2026 bukan disebabkan oleh sepinya pasar, melainkan akibat disrupsi rantai pasok global. Kenaikan biaya pengapalan (shipping cost) yang signifikan serta jadwal pelayaran yang kerap terhambat (delay) menjadi faktor utama yang menahan laju pengiriman produk ke luar negeri.
Meski demikian, lanjut dia, dari sisi permintaan pasar (demand), perseroan mengonfirmasi adanya tren peningkatan pasca-kuartal I/2026.
"Hal ini didorong oleh menipisnya stok bahan baku di tingkat pabrik global setelah sempat menahan pembelian akibat kelesuan ekonomi sebelumnya," tuturnya.