Kopi Sejuta Jiwa, bagian dari Jiwa Group, menjual 6 juta gelas kopi sejak 2023 dengan model bisnis mobile, menawarkan kopi berkualitas terjangkau di Indonesia. [873] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Kopi Sejuta Jiwa (KSJ) berkembang menjadi salah satu motor pertumbuhan baru bagi Jiwa Group di tengah persaingan bisnis kopi yang kian ketat. Sejak diluncurkan pada 2023 lalu, brand tersebut telah menjual lebih dari 6 juta gelas kopi di berbagai titik di Indonesia.
Chief Executive Officer Jiwa Group Billy Kurniawan mengatakan KSJ merupakan salah satu dari tiga pilar bisnis utama perusahaan, bersama Janji Jiwa & Jiwa Toast, serta Janji Jiwa Culture. Menurutnya, masing-masing unit bisnis dirancang untuk melayani segmen konsumen yang berbeda.
Janji Jiwa tetap menjadi merek utama yang menyasar konsumen ritel, Jiwa Toast melengkapi penawaran dengan aneka pastry dan makanan, Janji Jiwa Culture menghadirkan konsep lifestyle space, sedangkan Kopi Sejuta Jiwa menyasar konsumen yang mengutamakan kopi berkualitas dengan harga terjangkau.
“Pasar kopi Indonesia sangat luas dengan preferensi dan daya beli yang berbeda-beda. Karena itu, kami membangun tiga business unit yang masing-masing melayani segmen pasar yang berbeda,” ujarnya dalam media gathering di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Kopi Sejuta Jiwa mengandalkan jaringan mitra rider yang menjual kopi secara mobile di berbagai titik strategis. Model bisnis ini ditujukan untuk menghadirkan produk yang cepat, mudah diakses, dan terjangkau. Hingga saat ini, KSJ telah didukung sekitar 1.500 mitra rider yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya, dan sejumlah kota di Jawa Tengah. Selama tiga tahun beroperasi,
Billy mengatakan model bisnis ini tidak hanya memperluas jangkauan perusahaan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan mitra rider.
“Selain melayani konsumen, model ini juga membuka peluang penghasilan bagi banyak orang,” katanya.
KSJ menawarkan produk dengan harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp12.000 per gelas. Meski menyasar segmen harga terjangkau, Jiwa Group mengeklaim tetap mempertahankan kualitas premium melalui sistem produksi terpusat untuk menjaga konsistensi rasa dan standar kebersihan.
Seluruh produk diracik di fasilitas produksi terpusat untuk menjaga konsistensi rasa dan standar kebersihan. Dengan demikian, mitra rider dapat fokus pada penjualan dan pelayanan kepada pelanggan. “Semua produk diproses di central production, sehingga kualitas dan higienitas tetap terjaga,” ujarnya.
Salah satu produk terbaru yang diperkenalkan adalah Es Kopi Susu Honey, menu minuman terbaru yang memadukan karakter es kopi susu khas KSJ dengan sentuhan manis menyegarkan dari madu. Perpaduan rasa kopi yangcreamy dan ringan dengan hint madu menghadirkan sensasi minum kopi yang lebih smooth, refreshing, dan tetap cocok dinikmati dalam berbagai suasana. Menu ini dihadirkan sebagai pilihan baru bagi para pecinta kopi yang mencari rasa familiar dengan sentuhan berbeda.
Untuk memperkuat layanan, perusahaan juga meluncurkan fitur KSJ Locator pada aplikasi Jiwa+. Fitur ini memungkinkan konsumen menemukan mobile barista terdekat secara real time hingga radius lima kilometer dan terhubung langsung melalui fitur chat.
Istimewa
Selain memperluas model penjualan mobile, Jiwa Group juga terus mengembangkan Janji Jiwa Culture. Saat ini konsep lifestyle space tersebut telah memiliki sekitar 25 gerai di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kalimantan yang menjadi tempat berkumpul komunitas lari, tenis, dan padel.
Billy menegaskan ketiga unit bisnis tersebut akan terus dikembangkan sebagai pilar pertumbuhan utama perusahaan agar tetap relevan dengan perubahan tren dan kebutuhan konsumen Indonesia.
Di tengah ketatnya persaingan bisnis kopi di Indonesia, Jiwa Group terus memperkuat strategi pertumbuhan dengan mengembangkan tiga pilar bisnis utama, yakni Kopi Janji Jiwa & Jiwa Toast, Janji Jiwa Culture, dan Kopi Sejuta Jiwa untuk menjangkau segmen konsumen yang semakin beragam.
Chief Executive Officer Jiwa Group Billy Kurniawan mengatakan masing-masing unit bisnis memiliki positioning tersendiri. Kopi Janji Jiwa tetap menjadi merek utama yang menyasar konsumen ritel dengan konsep gerai dilengkapi juga dengan Jiwa Toast yang menyediakan aneka pastry.
Brand ini kemudian dibuat lebih modern dan menjadi lifestyle space melalui Janji Jiwa Culture yang sekaligus dijadikan sebagai tempat berkumpul komunitas. Sementara Kopi Sejuta Jiwa menyasar konsumen yang membutuhkan kopi berkualitas dengan harga terjangkau.
“Pasar kopi Indonesia sangat luas dengan preferensi dan daya beli yang berbeda-beda. Karena itu, kami membangun tiga business unit yang masing-masing melayani segmen pasar yang berbeda,” ujarnya dalam media gathering di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Billy menjelaskan Janji Jiwa Culture saat ini telah memiliki sekitar 25 gerai yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kalimantan. Gerai tersebut tidak hanya menjual kopi, tetapi juga menyediakan pastry, toast, dan makanan hangat, serta dirancang sebagai ruang kreatif bagi komunitas lari, tenis, dan padel.
Sementara itu, Kopi Sejuta Jiwa yang diluncurkan pada 2023 telah berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru perusahaan rider yang menjual kopi secara mobile di berbagai titik strategis. Hingga kini, brand tersebut didukung sekitar 1.500 mitra rider dan telah menjual lebih dari 6 juta gelas kopi di Indonesia.
Meski menyasar segmen harga terjangkau, perusahaan mengeklaim tetap mempertahankan standar kualitas premium. Seluruh produk diracik di fasilitas produksi terpusat untuk menjaga konsistensi rasa dan standar kebersihan. Dengan demikian, mitra rider dapat fokus pada penjualan dan pelayanan kepada pelanggan.
“Semua produk diproses di central production, sehingga kualitas dan higienitas tetap terjaga,” ujarnya.
Kopi Sejuta Jiwa juga memperkenalkan fitur terbaru pada aplikasi JIWA+, yaitu KSJ Locator. Fitur ini memungkinkan konsumen untuk melacak lokasi mobile barista Kopi Sejuta Jiwa terdekat secara real time hingga radius 5 kilometer dari lokasi pengguna. Melalui fitur ini, konsumen juga dapat berinteraksi langsung dengan mobile barista KSJ melalui fitur chat di aplikasi untuk mempermudah proses transaksi.
Kehadiran KSJ Locator melengkapi berbagai fitur yang sebelumnya telah tersedia di aplikasi JIWA+, seperti pemesanandine-in,takeaway, dan delivery, guna menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih praktis dan seamless bagi konsumen.
Jakarta: Memasuki 2026, bisnis coffee shop masih menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dilirik investor maupun pelaku usaha. Gaya hidup urban yang semakin menghargai kualitas dan pengalaman menjadikan kedai kopi bukan sekadar tempat menikmati minuman, tetapi juga ruang untuk bekerja, bertemu, hingga membangun jejaring.
Fleksibilitas model bisnis, mulai dari coffee shop butik hingga specialty coffee berbasis komunitas, membuat usaha ini relatif adaptif terhadap perubahan tren dan kondisi ekonomi. Dengan pengelolaan yang tepat, coffee shop berpotensi tumbuh berkelanjutan sekaligus membangun positioning merek yang kuat di berbagai segmen konsumen.
Nilai bisnis coffee shop terus tumbuh
Melansir laman BCA Prioritas, Selasa, 13 Januari 2026, prospek bisnis coffee shop secara global menunjukkan tren positif. Mengacu pada laporan Grand View Research, nilai pasar coffee shop dunia diperkirakan mencapai USD237-USD245 miliar pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan rata-rata 4-5 persen per tahun hingga 2030.
Menariknya, sekitar 60 persen konsumen urban global mengunjungi coffee shop bukan semata untuk minum kopi, melainkan untuk bekerja, melakukan pertemuan informal, dan bersosialisasi. Hal ini mengukuhkan peran coffee shop sebagai third place di luar rumah dan kantor.
Di Indonesia, laporan United States Department of Agriculture (USDA) bertajuk Indonesia: Coffee Annual mencatat nilai pangsa pasar kedai kopi nasional diperkirakan mencapai USD2,1 miliar, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10 persen. Data Indonesian Coffee Council juga menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat lebih dari 25 ribu coffee shop aktif di seluruh Indonesia, yang sebagian besar menawarkan pengalaman lebih dari sekadar kopi.
Tips bisnis coffee shop di 2026
Meski peluangnya besar, persaingan bisnis coffee shop di 2026 diperkirakan semakin ketat. Pengelolaan yang cerdas dan strategi yang tepat menjadi kunci utama agar bisnis tetap relevan dan berkelanjutan. Dikutip dari Bean and Brew Tech, berikut lima kunci sukses investasi bisnis coffee shop di 2026.
1. Menetapkan harga secara strategis Inflasi masih menjadi tantangan bagi pelaku usaha kedai kopi karena berdampak pada fluktuasi harga biji kopi. Karena itu, penetapan harga tidak bisa hanya berfokus pada biaya, tetapi juga pada komunikasi nilai kepada pelanggan.
Strategi harga yang tepat perlu diimbangi dengan pembangunan hubungan pelanggan yang kuat, sehingga konsumen memilih kualitas dan pengalaman, bukan sekadar harga murah atau kenyamanan semata.
2. Membangun tim yang solid Sumber daya manusia menjadi fondasi utama kesuksesan coffee shop. Investasi pada barista yang terampil dan berpengalaman akan memberikan dampak jangka panjang bagi bisnis.
Tim yang diperlakukan sebagai aset berharga, bukan sekadar tenaga kerja, cenderung memberikan layanan yang konsisten dan berkualitas. Hal ini menciptakan siklus bisnis positif yang mendukung profitabilitas berkelanjutan.
3. Berinvestasi pada peralatan berkualitas Peralatan merupakan tulang punggung operasional coffee shop. Mesin kopi, grinder, hingga sistem penyaringan air berkualitas, yang didukung pemeliharaan rutin, akan menjaga konsistensi rasa dan kualitas produk.
Konsistensi ini berperan penting dalam membangun reputasi merek dan mendorong pelanggan untuk melakukan pembelian berulang.
4. Menjaga konsistensi produk Konsistensi menjadi salah satu faktor pembeda utama di tengah persaingan yang ketat. Pelanggan datang kembali karena mereka tahu apa yang akan didapatkan di setiap kunjungan.
Ketika pengalaman dan kualitas produk dapat diandalkan, coffee shop berpeluang membangun basis pelanggan setia yang menjadi fondasi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
5. Melampaui ekspektasi pelanggan Selera konsumen coffee shop kini semakin canggih, dengan ekspektasi yang juga lebih tinggi. Kondisi ini justru membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menghadirkan pengalaman yang unik dan berbeda.
Pelanggan tidak lagi hanya mencari kopi yang enak, tetapi juga suasana, pelayanan, dan cerita di balik produk. Pengalaman yang kuat membuat konsumen bersedia membayar harga premium karena merasa mendapatkan nilai lebih.