Bisnis.com, JAKARTA - Aroma sandalwood atau kayu cendana selalu punya tempat tersendiri di kalangan penggemar parfum. Di tengah dominasi wangi gourmand, musky, dan floral, sandalwood muncul sebagai alternatif yang menawarkan karakter hangat, tenang, dan reflektif. Tren ini sejalan dengan perubahan selera konsumen yang cenderung mencari parfum dengan kesan menenangkan, bukan sekadar statement aroma yang kuat.
Founder GoodVibes Botanical, Gina Priadini, menilai meningkatnya ketertarikan pada sandalwood tak lepas dari kebutuhan masyarakat urban akan aroma yang mampu menghadirkan rasa grounded di tengah ritme hidup yang cepat. Menurutnya, sandalwood memiliki spektrum aroma yang luas dan tidak agresif, sehingga mudah diterima berbagai kalangan usia.
“Sandalwood itu aromanya stabil dan membumi. Dia tidak terlalu menonjol di awal, tapi lama-lama karakter wanginya keluar,” ujar Gina.
Secara historis, sandalwood dikenal sebagai bahan aromatik bernilai tinggi yang telah lama digunakan dalam ritual, pengobatan tradisional, hingga wewangian klasik. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaannya dalam parfum modern kembali populer, seiring pergeseran tren ke arah aroma woody alias kayu-kayuan.
Selain itu, aroma ini juga kerap dipilih sebagai base notes parfum karena kemampuannya mengikat keseluruhan komposisi parfum tanpa mendominasi lapisan lain. Sandalwood dapat dipadukan dengan citrus untuk menghadirkan kesan segar atau floral untuk nuansa lembut menenangkan.
Sayangnya, menurut Gina, sandalwood di industri parfum terkadang tidak menggunakan kayu cendana asli sama sekali, melainkan campuran aroma sintetis yang hanya meniru kesan woody-creamy khas aroma tersebut. Kelangkaan dan harga yang tinggi membuat sandalwood asli jarang digunakan secara utuh, sehingga banyak parfum hanya menghadirkan kesan aromanya saja.
Indonesia merupakan penghasil kayu cendana berkualitas tinggi. Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor dan Sumba terkenal dengan cendana putih. Dengan demikian, ini menjadi peluang besar untuk mengembangkan industri parfum berbasis bahan baku lokal sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta wewangian global melalui pemanfaatan kekayaan biodiversitasnya.
Adapun GoodVibes sendiri merupakan brand aromatherapy dan wellness asal Indonesia yang berfokus pada penciptaan pengalaman aroma berbasis botanikal dengan kualitas tinggi. Sejak berdiri pada 2019, jenama ini konsisten menghadirkan produk yang memadukan inovasi, estetika modern, serta nuansa premium.
GoodVibes bersama studio arsitektur Atelier Riri baru saja meluncurkan parfum terbarunya, SOLEMN Eau de Perfume. Megusung tema "A Scent of A Life Less Ordinary", kolaborasi ini menghadirkan pengalaman wewangian yang menyatukan kehangatan aroma, desain berkarakter, dan estetika yang berkelas.
SOLEMN Eau De Perfume menghadirkan perjalanan aroma yang halus dan mendalam. Mulai dari top notes Bergamot dan Clary Sage yang segar, jernih, layaknya embun pagi. Aromanya kemudian bertransisi lembut menuju heart notes Jasmine dan Iris yang hangat dan menenangkan. Kemudian ditutup dengan base notes Amber dan Sandalwood yang memberikan kedalaman aroma kontemplatif, seperti ketenangan di sore hari yang elegan.
Menurut Gina, Aroma bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari identitas dan keseharian orang-orang. Karena itu, dia ingin menghadirkan sebuah wewangian yang tidak hanya memiliki karakter kuat dan beresonansi, tetapi juga aman digunakan dalam jangka panjang.
"Kami ingin menyajikan parfum yang tidak sekadar 'wangi', tetapi yang mampu membawa rasa tenang, nyaman, dan percaya diri bagi para penggunanya," ujar Gina.
Untuk memperkuat nilai artistik dan identitas visual dari SOLEMN Eau De Perfume, Atelier Riri, merancang desain botol parfum dan kemasannya yang cantik. Kolaborasi ini lahir dari keselarasan visi untuk menghadirkan produk yang tak hanya indah secara estetika, tetapi juga membangkitkan emosi dan menghadirkan pengalaman multisensori.
“Buat saya, Solemn itu merepresentasikan idealisme yang kontekstual. Ada sisi Indonesianya, tropicality-nya, dan cara berpikir arsitektur yang solutif tapi tetap realistis," ujar Novriansyah Yakub, pendiri Atelier Riri.
Wanginya terasa grounded, katanya, seperti orang yang sudah selesai dengan ambisinya dan nyaman dengan dirinya sendiri. Nilai-nilai itu yang membuat Solemn relevan dengan tema The Life Less Ordinary, yakni tentang keberanian untuk tampil unik. Tidak harus mengikuti arus utama, tapi tetap bermakna dan bisa diterima.