MEDAN - Rakernas Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (
Apeksi ) 2026 digelar di Kota Medan pada 28 Juni hingga 4 Juli 2026. Penunjukan Kota Medan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam menggerakkan roda ekonomi lokal di tengah tantangan global.
Perhelatan berskala nasional ini menjadi instrumen nyata dari konsep wisata
MICE (
Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang berfungsi sebagai stimulan percepatan arus perputaran modal di tingkat daerah. Selain berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek, pelaksanaan Rakernas Apeksi 2026 memegang fungsi krusial dalam melakukan
rebranding terhadap citra ibu kota Sumatera Utara ini. Baca juga:
APEKSI Sebut Pembangunan di Daerah Lebih Akurat dengan Pusat Data Nasional Menyikapi momentum besar ini, Tokoh Pemuda Sumatera Utara yang juga eks Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sumut periode 2018-2021, Alwi Hasbi Silalahi, memberikan pandangan kritis sekaligus optimistis. Ia menegaskan, perhelatan ini adalah panggung pembuktian bagi Kota Medan di mata nasional.
Kelompok kepemudaan siap bersinergi mendukung kesuksesan acara, namun Pemkot Medan dan aparat penegak hukum harus memberikan jaminan penuh terhadap stabilitas wilayah selama rangkaian Rakernas berlangsung. ”Penunjukan Medan sebagai tuan rumah Rakernas Apeksi 2026 ini harus dimanfaatkan secara total,” katanya, Minggu (28/6/2026).
Keberhasilan Medan yang sebelumnya sukses mengelola ajang besar seperti turnamen AFF menjadi bukti bahwa stabilitas keamanan adalah modal utama dalam membangun kepercayaan investor. Ketika kenyamanan kota terjamin, Medan akan semakin diminati sebagai destinasi investasi jangka panjang serta pariwisata alternatif.
Secara ilmiah, industri MICE memiliki karakteristik daya dampak luas melalui
multiplier effect (efek pengganda).
Pengeluaran para delegasi dari berbagai pemerintah kota di Indonesia selama acara berlangsung akan langsung mengalir ke berbagai sektor hilir, mulai dari transportasi, akomodasi perhotelan, industri kuliner, hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang mendapatkan akses perluasan pasar.
Menurutnya, event ini tidak boleh sekadar menjadi acara seremonial kumpul-kumpul wali kota. Event ini harus menjadi momentum emas untuk menghapus stigma negatif Kota Medan. ”Pemkot Medan harus memastikan infrastruktur siap, dan yang terpenting, jamin keamanan serta kenyamanan para tamu," ujarnya.
3 Tantangan Ini Masih Membebani Pelaku Usaha MICE dan Event Mantan pimpinan HMI di Sumut ini juga menggarisbawahi pentingnya keterlibatan langsung sektor UMKM local. Hal ini agar dampak ekonomi dari kunjungan delegasi tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar atau hotel berbintang semata.
"Para delegasi yang datang ini adalah kelompok
high-yield atau berdaya beli tinggi. Sektor UMKM dan kerajinan lokal khas Medan harus diberi ruang prioritas sebagai etalase utama di lokasi acara. Pemuda Sumatera Utara akan mengawal agar momentum ini benar-benar membawa berkah ekonomi yang merata bagi masyarakat arus bawah," tandasnya.
(poe)