Bisnis.com, JAKARTA - Hamlet adalah salah satu drama tragedi karya William Shakespeare yang paling fenomenal. Apa jadinya jika drama ini ditarik benang merahnya untuk menyoroti tragedi penulisnya sendiri?
Premis inilah yang diungkap Chloé Zhao lewat Hamnet. Film ini menyoroti hubungan William Shakespeare dengan istrinya Agnes, serta kematian putra mereka akibat tragedi wabah pes di Inggris.
Sejak pertama kali ditulis pada medio 1600-an, Hamlet selalu memberi ruang tafsir baru lewat temanya yang tak pernah usang. Mulai dari keraguan, moralitas, kekuasaan, hingga makna hidup.
Terbaru, Zhao kembali menafsir tema tersebut lewat sisi personal penulisnya. Termasuk menguliti kemungkinan inspirasi lahirnya karya yang telah dipentaskan di hampir semua gedung pertunjukan di dunia.
Berdurasi dua jam, film ini dengan baik mengurai titik tolok yang membuat Shakespeare menulis solilokui paling terkenal dalam sejarah: “To be, or not to be”. Semuanya bermula dari Hamnet, putranya tercinta.
Kisahnya bermula dari pertemuan Shakespeare (diperankan Paul Mescal) dengan Agnes (Jessie Buckley) istrinya. Pertemuan mereka dibalut dengan dongeng mitologi Yunani Orpheus dan Eurydice, kisah cinta yang sarat simbol tentang kehilangan.
Namun simbolisme itu tidak muncul sekadar sebagai ornamen naratif. Zhao memanfaatkannya untuk membangun atmosfer duka dalam keluarga Shakespeare, khususnya dari sosok sang istri yang harus menjalani hari-hari tanpa kehadiran suaminya yang bekerja di London.
Film ini juga memberi porsi besar pada sosok Agnes, yang selama ini jarang disorot dalam kisah Shakespeare. Dengan akting yang kuat, Buckley berhasil memvisualkan konflik batin yang bergerak perlahan namun intens.
Kisah rumah tangga yang retak akibat terputusnya jarak, wabah yang mengintai, hingga hubungan dengan keluarga yang tak harmonis membawa penonton memasuki ruang-ruang personal kehidupan Shakespeare dan istrinya.
Penampilan Buckley yang penuh emosi bahkan membuat sejumlah pengamat memprediksi namanya sebagai kandidat kuat Aktris Terbaik di ajang Academy Awards. Hal ini terbukti pada pada gelaran Oscar ke-98 di Dolby Theatre, Hollywood.
Sebelumnya film ini juga telah meraih sejumlah penghargaan penting, termasuk Film Drama Terbaik dan Aktris Terbaik untuk Buckley di Golden Globe Awards, serta masuk dalam daftar 10 film terbaik versi American Film Institute.
Pendekatan visual Zhao juga terasa puitis dan kontemplatif. Lanskap pedesaan Inggris, dengan cahaya yang redup, serta ritme yang lambat membuat film ini lebih terasa seperti elegi daripada drama sejarah.
Pada bagian ini sinematografer Łukasz Żal memainkan peran penting. Dia memanfaatkan pencahayaan natural dan komposisi lanskap yang tenang untuk menciptakan kesedihan yang tidak meledak, tetapi meresap perlahan.
Pendekatan tersebut membuat tragedi dalam film terasa lebih manusiawi. Alur cerita yang secara tersirat dibagi menjadi dua babak memberi penonton sudut pandang untuk memahami gejolak psikologis antara Shakespeare dan istrinya.
Di sinilah akhirnya Hamnet menemukan relevansinya dengan Hamlet. Tragedi personal dalam keluarga Shakespeare seolah menjadi gema emosional bagi lahirnya drama yang kemudian mengguncang panggung teater dunia.
Sejarah memang tidak pernah memastikan bahwa kematian Hamnet Shakespeare menjadi sumber langsung lahirnya Hamlet. Namun kemiripan nama dan jarak waktu antara keduanya telah lama memancing spekulasi para sejarawan sastra.
Namun film ini juga tidak sepenuhnya sempurna, meski berhasil membangun atmosfer yang kuat. Ritme yang lambat pada beberapa bagian, terutama menjelang akhir, membuat narasinya terasa sedikit berlarut dan terlalu dramatis.
Pada akhirnya, Hamnet tidak hanya berbicara tentang Shakespeare. Zhao membuka kemungkinan tafsir baru bahwa karya besar acapkali lahir dari pengalaman personal manusia, termasuk luka yang mungkin melahirkannya.