Bisnis.com, JAKARTA —BioticsAI startup teknologi kesehatan resmi memperoleh izin dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat untuk perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI). Izin tersebut membantu perusahaan mengembangkan solusi AI pendeteksi gagal janin.
BioticsAI mengembangkan platform AI yang terhubung langsung dengan mesin ultrasonografi (USG). Teknologi ini dirancang untuk membantu dokter kandungan mendeteksi kelainan janin sejak dini, sekaligus meningkatkan kualitas pemeriksaan kehamilan.
Perusahaan ini didirikan pada 2021 oleh Robhy Bustami, pendiri sekaligus CEO BioticsAI, bersama tiga rekannya. Bustami memiliki latar belakang pendidikan pemrograman dan ilmu komputer dari University of California, Irvine.
Bustami dan tim mengembangkan teknologi AI yang mampu membantu tenaga medis dalam berbagai aspek pemeriksaan
USG. Platform BioticsAI dapat menilai kualitas gambar USG, memastikan pemeriksaan anatomi janin dilakukan secara lengkap, menyusun laporan otomatis, serta memudahkan alur kerja klinis dokter.
Dilansir dari Tech Crunch Selasa (20/1/2025), saat ini platform BioticsAI berfokus pada skrining anomali janin pada trimester kedua kehamilan. Namun, ke depannya teknologi ini berpotensi diperluas ke bidang lain seperti ginekologi, urologi, dan neonatologi. BioticsAI juga menargetkan menjadi platform diagnostik AI untuk kesehatan reproduksi dan bidang medis terkait lainnya.
Bustami menilai pemeriksaan USG merupakan pondasi penting dalam pemantauan kehamilan. Namun, kualitas gambar yang rendah sering kali menjadi penyebab kesalahan diagnosis.
Tantangan terbesar dalam pengembangan BioticsAI bukan hanya menciptakan model AI, tetapi memastikan teknologi tersebut bekerja secara konsisten dan adil untuk semua kelompok pasien.
Salah satu tantangan utama di tingkat global adalah kekurangan tenaga ahli obstetri dan sonografi. Menurut Bustami, banyak pemeriksaan USG, termasuk pemeriksaan 20 minggu, dilakukan oleh tenaga dengan pengalaman terbatas dan tanpa sistem umpan balik berkelanjutan. Akibatnya, kualitas hasil skrining menjadi rendah.
Di Amerika Serikat, Bustami memperkirakan sekitar sepertiga pemeriksaan USG tidak memenuhi standar kualitas dan kelengkapan. Kondisi ini berisiko menimbulkan kecemasan, stres yang tidak perlu bagi orang tua, bahkan trauma dalam kasus terburuk.
Melalui BioticsAI, perusahaan berupaya mengurangi ketergantungan pada faktor operator dengan menambahkan jaring pengaman berbasis AI.
“Kami adalah kopilot,” ujar Bustami, dikutip dari Starmate, Selasa (20/1/2026).
Proses memperoleh izin FDA, termasuk uji coba dan validasi produk, memakan waktu hampir tiga tahun.
Setelah mengantongi izin FDA, BioticsAI berencana memperluas penerapan teknologinya ke lebih banyak rumah sakit dan sistem layanan kesehatan di Amerika Serikat. Perusahaan ini juga tengah menyiapkan pengembangan fitur baru yang berkaitan dengan pengobatan janin dan kesehatan reproduksi. (Nur Amalina)