Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan mencatat jumlah pengunjung tempat wisata Telaga Sarangan di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa ... [316] url asal
Puncak kunjungan terjadi pada tanggal 24 Maret dengan 19.016 wisatawan
Magetan (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan mencatat jumlah pengunjung tempat wisata Telaga Sarangan di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur, selama libur panjang Lebaran 2026 dari tanggal 18-25 Maret mencapai 69.773 orang.
"Selama libur Lebaran 2026, kunjungan wisata ke Telaga Sarangan terpantau naik dibandingkan akhir pekan biasa. Puncak kunjungan terjadi pada tanggal 24 Maret dengan 19.016 wisatawan," ujar Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disbudpar Kabupaten Magetan Yosef Cahyo Wibawarno di Magetan, Jumat.
Data Disbudpar Magetan mencatat kenaikan kunjungan terjadi sejak 18 Maret 2026 dengan jumlah wisatawan mencapai sebanyak 1.073 wisatawan.
Jumlah tersebut terus meningkat menjadi 2.045 orang pada 19 Maret dan 2.485 wisatawan pada 20 Maret.
Kenaikan kunjungan berlanjut pada tanggal 21 Maret dengan 3.083 pengunjung, sebelum melonjak signifikan pada 22 Maret menjadi 9.512 wisatawan.
Pada tanggal 23 Maret mencapai 14.924 orang dan puncak kunjungan terjadi pada 24 Maret dengan jumlah 19.016 wisatawan. Sementara, pada 25 Maret 2026 kunjungan turun menjadi 14.924 wisatawan.
Pihaknya menyatakan libur Lebaran merupakan salah satu musim puncak kunjungan di objek wisata Telaga Sarangan yang menjadi andalan Pemkab Magetan. Meski diakui, kunjungan wisatawan periode Lebaran tahun ini terpantau menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Selain libur lebaran, musim puncak kunjungan di Telaga Sarangan biasanya juga terjadi saat liburan malam pergantian tahun baru.
Disbudpar Kabupaten Magetan memprediksi jumlah kunjungan wisatawan di Telaga Sarangan masih banyak hingga akhir pekan ini karena libur sekolah yang belum berakhir.
"Selama anak-anak masih libur sekolah, jumlah pengunjung belum turun drastis. Tapi setelah itu, biasanya penurunan akan lebih terasa dan kembali normal," katanya.
Peningkatan kunjungan wisatawan juga terpantau terjadi pada sejumlah tempat wisata lainnya di Magetan, di antaranya Kebun Bunga Refugia, pusat penjualan sandal dan sepatu kulit di Jalan Sawo, Telaga Wahyu, Mojosemi Forest Park.
Desa Wisata Kampung Susu Lawu (Dewi KSL) yang ada di lingkungan Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengembangkan ... [486] url asal
Paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa adalah mengajak wisatawan benar-benar menjalani rutinitas warga lokal. Yakni, wisatawan diajak melakukan pemerahan susu tradisional, memberikan pakan rumput segar, hingga memetik sayur di kebun,
Magetan (ANTARA) - Desa Wisata Kampung Susu Lawu (Dewi KSL) yang ada di lingkungan Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur mengembangkan paket wisata berkonsep alam guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah setempat.
Inisiator Paket Wisata Dewi KSL Sri Wahyuni di Magetan, Minggu mengatakan, paket wisata konsep alam yang ditawarkan adalah bertajuk "Jika Aku Jadi Orang Desa"
"Paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa adalah mengajak wisatawan benar-benar menjalani rutinitas warga lokal. Yakni, wisatawan diajak melakukan pemerahan susu tradisional, memberikan pakan rumput segar, hingga memetik sayur di kebun," ujarnya.
Menurutnya, program yang baru dikembangkan dua tahun terakhir tersebut cukup diminati wisatawan.
Paket wisata itu menjadi primadona di tengah gempuran dunia digital yang bising, sehingga membawa wisatawan ke kehidupan alam yang tenang dan sejuk di lereng Gunung Lawu.
Sri Wahyuni menjelaskan, pengembangan paket wisata alam tersebut muncul dari potensi besar akan kondisi alam yang dingin serta dukungan sarana pertanian dan peternakan yang mumpuni di Desa Wisata Kampung Susu Lawu untuk dikembangkan lebih jauh.
"Waktu itu saya berpikir dengan kondisi alam yang dingin dan didukung sarana pertanian dan peternakan, ada harapan agar Kampung Susu bisa dinikmati masyarakat luas," katanya.
Keunikan paket wisata tersebut juga terletak pada keterlibatan langsung masyarakat Singolangu yang telah paham mewujudkan Sapta Pesona di wilayahnya.
"Saat ini, sudah ada 30 rumah warga yang kami pilih dan siapkan untuk menjadi tempat tinggal bagi para peserta program ini. Kami ingin wisatawan tidak hanya sekadar 'mampir', tapi benar-benar menetap dan merasakan kehidupan desa," katanya.
Seiring banyaknya peminat, pengelola Desa Wisata KSL berupaya memperbaiki fasilitas agar sarana edukasi dan kenyamanan dasar berwisata di area Kampung Susu tetap terjaga bagi para tamu yang datang setiap harinya.
"Kami memiliki program jangka pendek untuk terus memperbaiki fasilitas yang ada. Sedangkan untuk jangka panjang, kami berencana membangun home stay yang layak untuk wisatawan. Ini penting agar sarana promosi ini berbanding lurus dengan kualitas kunjungan ke Kampung Susu Lawu," tambahnya.
Selama ini wisatawan yang datang berasal dari berbagai luar kota seperti Surabaya, Solo, dan Jakarta sejak program tersebut digulirkan.
Pihaknya berharap paket wisata Jika Aku Jadi Orang Desa semakin dikenal publik, sehingga semakin banyak wisatawan berkunjung yang muaranya adalah meningkatkan kesejahteraan warga desa wisata setempat.
Seperti diketahui, Singolangu adalah salah satu daerah sentra produksi susu sapi perah. Tidak hanya peternakan, daerah tersebut telah diarahkan untuk menjadi desa wisata dengan ikon Kampung Susu Lawu dengan konsep eko-eduwisata.
Diresmikan pada akhir tahun 2020, Kampung Susu Lawu terus berkembang, dari yang semula hanya 100 ekor sapi perah, kini telah mencapai 1.000 ekor sapi perah.
Selain dikonsumsi sebagai susu cair, sekitar 50 persen hasil perasan susunya diolah menjadi aneka minuman dan panganan dengan berbagai varian rasa sesuai selera pasar.
Di tepian Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat, seorang lelaki tampak duduk santai di bibir beton. Tangannya menabur pakan dan seketika ... [1,278] url asal
pengembangan wisata harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan
Majalengka (ANTARA) - Di tepian Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat, seorang lelaki tampak duduk santai di bibir beton. Tangannya menabur pakan dan seketika air bergejolak.
Riak yang timbul bukan karena angin, melainkan nafsu makan yang gaduh. Ikan-ikan koi merubung dan mulutnya membuka serempak hingga menimbulkan bunyi kecipak.
Di bagian tengah, danau terlihat lebih teduh. Airnya tampak kebiruan dan ada dominan hijau tua di tengahnya, memantulkan rimbun pepohonan yang berdiri rapat di sekelilingnya.
Di sana perahu bebek melintas perlahan, mengangkut tawa keluarga yang ingin menukar penat dengan kesantaian. Langit menggantung kelabu, seperti tirai tipis yang menahan panas pada siang itu.
Daya tarik
Eki Yulianto, wisatawan asal Cirebon, datang ke Situ Cipanten pada akhir pekan bersama dua rekannya. Ia mengaku sengaja memilih tempat ini karena ingin mencari suasana yang lebih tenang dibanding objek wisata lain yang cenderung padat.
Untuk sampai ke destinasi tersebut, dirinya hanya memerlukan waktu sekitar satu jam dari pusat Kota Cirebon.
Menurut dia, begitu tiba di kawasan danau, kesan pertama yang terasa adalah udara yang sejuk dan suasana yang tidak terlalu bising.
Pepohonan yang mengelilingi danau membuat tempat itu terasa teduh, seperti ruang istirahat yang disiapkan alam.
Ia menghabiskan waktu dengan duduk di tepian danau, memperhatikan ikan yang bergerombol di dekat pengunjung.
Sesekali, ia berjalan menyusuri jalur setapak sambil memotret pemandangan air yang berwarna hijau tua.
“Tempatnya walau ramai, sangat sejuk, jadi enak buat santai. Duduk saja sudah cukup. Rasanya kepala lebih ringan setelah lihat air dan pepohonan,” kata Eki kepada ANTARA, Sabtu (14/2).
Wisatawan saat berkunjung di Situ Cipanten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (14/2/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Ia berharap pengelolaan wisata tetap mempertahankan kesan alami tersebut. Baginya, daya tarik Situ Cipanten justru terletak pada suasana yang sederhana dan tidak berlebihan dalam pembangunan.
Sementara itu, Arif, pengunjung asal Sumedang, mengaku datang setelah melihat foto Situ Cipanten di media sosial. Ia tertarik karena suasananya tampak alami.
“Saya tahu dari media sosial, suasananya masih asri. Enak untuk melepas penat,” ujarnya.
Ia datang bersama keluarganya pada akhir pekan ini. Anak-anaknya langsung tertarik melihat ikan dan wahana air.
Bagi pengunjung, danau ini tempat melepas penat. Namun bagi warga Desa Gunung Kuning, Majalengka, tempat tersebut kini menjadi ruang untuk mempelajari program keuangan inklusif yang masuk lewat jalur wisata.
Dampak wisata
Direktur BUMDes Karya Mekar Desa Gunung Kuning Yosep Hendrawan mengatakan wisata Situ Cipanten menjadi salah satu tulang punggung ekonomi desa.
Pengelolaan destinasi ini dilakukan bersama dengan karang taruna setempat. Fasilitas dibangun bertahap, mulai dari mushala, area parkir, hingga wahana air. Saat ini tersedia tujuh wahana, dari perahu dayung hingga sepeda gantung.
Pendapatan dari sektor wisata terus meningkat. Pada 2024, pendapatan bruto BUMDes mencapai Rp2,4 miliar. Hingga September 2025, angkanya sudah menembus Rp2,5 miliar.
Dari sektor tersebut, BUMDes mampu menggaji sekitar 70 pekerja muda desa. Mereka menerima honor mingguan sekitar Rp1,5 juta.
Banyak di antara mereka yang sebelumnya bekerja serabutan atau merantau. Kini, mereka bisa bertahan di kampung sendiri.
Jumlah kunjungan wisata juga terus naik. Hingga September 2025, tercatat sekitar 139 ribu wisatawan datang ke Situ Cipanten.
Lambat laun, kunjungan wisatawan di destinasi tersebut tembus sampai 13.710 orang selama musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Bahkan tempat ini menjadi destinasi yang paling ramai dikunjungi turis di Majalengka pada periode tersebut.
Di tengah geliat wisata itu, Desa Gunung Kuning dipilih sebagai lokasi program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dampak program mulai terlihat di kawasan wisata. Yosep menyebut, 28 warung binaan di Situ Cipanten kini sudah menggunakan pembayaran digital melalui QRIS.
Jauh sebelum program EKI berjalan, kata dia, pelaku UMKM di kawasan tersebut sudah menerapkan sistem pembayaran non-tunai, tetapi tidak semasif sekarang.
“Saat ini tinggal diperkuat literasinya, supaya masyarakat lebih paham penggunaan uang digital,” katanya.
Selain penggunaan QRIS, masyarakat sekitar mendapat edukasi mengenai tabungan, kredit usaha, serta bahaya pinjaman online ilegal. Materi disampaikan secara bertahap, menyesuaikan kebutuhan warga.
Menurut Yosep, program tersebut memberi perubahan cara pandang masyarakat terhadap uang. Warga mulai terbiasa menabung, mengenal layanan bank, dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pinjaman informal.
Ia menilai penguatan literasi keuangan menjadi fondasi penting agar ekonomi desa tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertahan.
Wisata memberi pemasukan, sementara inklusi keuangan menjaga agar perputaran uang tetap sehat.
Jejak inklusi
Program Desa EKI di Situ Cipanten saat ini mulai diarahkan untuk mendukung pengembangan desa wisata ramah difabel.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mengatakan, program EKI dapat memperkuat akses keuangan, sekaligus membangun potensi lokal di kawasan tersebut.
“Program Desa EKI ini memperkuat akses keuangan, dan kini mengembangkan desa wisata ramah difabel sebagai keunggulan lokal,” ujarnya.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, serta industri jasa keuangan.
Pendekatannya tak sebatas soal penyaluran kredit, melainkan membangun ekosistem keuangan di tingkat desa.
Menurut Agus, peningkatan inklusi keuangan penting agar masyarakat lebih mandiri. Dengan akses ke layanan formal, warga diharapkan tidak lagi bergantung pada pinjaman ilegal atau rentenir.
Suasana dan lanskap di Situ Cipanten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (14/2/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.
Program Desa EKI di Gunung Kuning dilaksanakan dalam tiga tahap hingga 2026, yakni pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi. Pada tahap awal, OJK memetakan kebutuhan akses keuangan terhadap 108 peserta.
Hasilnya, 51 persen peserta membutuhkan tabungan, 19 persen kredit usaha, 4 persen deposito, dan 3 persen pembiayaan kendaraan. Tahap selanjutnya berupa product matching antara perbankan dan industri keuangan non-bank.
Melalui program tersebut, masyarakat juga mendapat edukasi tentang risiko pinjaman online ilegal dan pentingnya menggunakan layanan keuangan resmi. Bagi pengelola, literasi keuangan menjadi fondasi agar ekonomi desa tumbuh sehat.
Selain di Majalengka, Agus menuturkan OJK telah memperluas program Inkubasi Desa EKI di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat sekaligus mencegah praktik pinjaman dan rentenir ilegal.
Program tersebut digelar di Desa Karangtawang dengan melibatkan sekitar 200 UMKM. Kegiatan itu difokuskan pada penguatan pemahaman masyarakat terhadap produk pembiayaan formal yang aman dan berizin.
Dalam program tersebut, para peserta mendapatkan pengenalan berbagai skema pendanaan dari perbankan, sehingga mereka memiliki alternatif pembiayaan yang legal untuk mengembangkan usaha yang dijalankan.
Edukasi tersebut menjadi penting, karena masih banyak masyarakat yang terjebak penipuan berkedok lembaga keuangan.
Ia menyampaikan kurangnya pemahaman mengenai legalitas produk keuangan kerap dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk menjerat masyarakat.
Sasaran utama program ini adalah masyarakat produktif, khususnya pelaku UMKM yang menjadi penggerak ekonomi desa.
Dengan akses pembiayaan yang legal dan kemampuan usaha yang lebih baik, diharapkan produktivitas dan daya saing usaha mereka meningkat.
Program serupa juga telah dijalankan di Desa Kaduela, Kabupaten Kuningan. Inisiatif tersebut berhasil memperluas akses keuangan melalui agen Laku Pandai BUMDes Arya Kamuning, sekaligus menekan praktik rentenir, pinjaman ilegal, dan pungutan liar di desa tersebut.
Pada prinsipnya, program ini dirancang untuk mendukung kegiatan wisata maupun ekonomi di tingkat desa, dengan pendekatan edukasi serta inklusi keuangan.
Dukungan
Kembali ke Situ Cipanten, objek wisata tersebut kini diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata alam di wilayah Kabupaten Majalengka.
Pemerintah daerah setempat menilai destinasi wisata ini cocok dikembangkan sebagai objek wisata keluarga maupun ekowisata.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kawasan Situ Cipanten melalui penataan infrastruktur, peningkatan akses, serta penguatan kapasitas masyarakat sekitar.
Menurut dia, pengembangan wisata harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Warga pun dilibatkan dalam pengelolaan fasilitas, penyediaan jasa wisata, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif.
Dengan cara itu, keberadaan objek wisata tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Selain itu, pemerintah daerah mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, komunitas, serta lembaga pendidikan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan inovasi dalam pengelolaan destinasi, mulai dari penataan kawasan, promosi digital, hingga penyelenggaraan kegiatan budaya dan lingkungan yang menarik minat wisatawan.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan mencatat jumlah pengunjung tempat wisata Telaga Sarangan di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur selama ... [288] url asal
Magetan (ANTARA) - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan mencatat jumlah pengunjung tempat wisata Telaga Sarangan di Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur selama libur panjang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) mencapai 117.447 orang.
"Selama periode 25 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, kunjungan wisata ke destinasi Telaga Sarangan mencapai 117.447 pengunjung," ujar Kepala Bidang Pengelolaan Pariwisata Disbudpar Magetan Eka Radityo, di Magetan, Senin.
Menurut dia, jumlah kunjungan tersebut mampu mendongkrak peroleh pendapatan asli daerah (PAD) dari objek wisata Telaga Sarangan Magetan.
Sesuai data, PAD Telaga Sarangan tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp21,186 miliar. Dengan dukungan jumlah pengunjung yang signifikan di libur Nataru, PAD dari sektor pariwisata Sarangan tercatat mencapai Rp20,202 miliar.
"Meski belum mencapai target, namun capaian PAD Sarangan tahun 2025 meningkat dari capaian 2024 sebesar Rp20,102 miliar," kata dia.
Eka menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir PAD Sarangan berada di kisaran Rp20-an miliar. Tahun 2023 yang tertinggi, dan tahun 2025 menjadi capaian terbaik kedua.
"Target PAD sektor pariwisata Sarangan pada tahun 2026 akan jadi tantangan yang harus kami kejar, yakni sekitar Rp23,4 miliar," kata Eka.
Ia menambahkan lebih dari 60 persen total wisatawan di Kabupaten Magetan berkunjung menuju Telaga Sarangan. Disbudpar masih melakukan rekapitulasi untuk destinasi-destinasi lain, namun Telaga Sarangan disebut sebagai magnet utama wisata daerah.
Seperti diketahui, Telaga Sarangan di wilayah Kecamatan Plaosan, Magetan merupakan objek wisata andalan pemerintah kabupaten setempat. Objek wisata tersebut menyuguhkan keindahan pemandangan telaga alami dan kesejukan udara di lereng Gunung Lawu yang letaknya berada di perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah.
Di sepanjang tahun 2025, Disbudpar Magetan mencatat jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata Telaga Sarangan tersebut mencapai 1.094.668 orang.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, Jawa Timur, mengagendakan 37 kegiatan budaya dan pariwisata di sepanjang tahun depan yang dikemas dalam "Calendar ... [249] url asal
CoE Kabupaten Magetan 2026 diharapkan memperkuat daya tarik pariwisata daerah sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat
Magetan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, Jawa Timur, mengagendakan 37 kegiatan budaya dan pariwisata di sepanjang tahun depan yang dikemas dalam "Calendar of Event" (CoE) Tahun 2026.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Magetan Joko Trihono di Magetan, Jumat, mengatakan "Calendar of Event" Magetan 2026 adalah agenda tahunan yang dipergunakan sebagai sarana promosi wisata, agar masyarakat dan wisatawan domestik maupun asing mengetahui kegiatan yang digelar Pemkab Magetan satu tahun ke depan.
"Total ada sekitar 37 kegiatan hasil usulan dari banyak pihak. Tidak melalui kurasi ketat, namun tetap kami lakukan desk untuk memastikan setiap kegiatan memberi warna bagi pariwisata Magetan," ujarnya.
Menurut dia, CoE Tahun 2026 memuat berbagai kegiatan budaya, olahraga, ekonomi kreatif, hingga festival khas desa yang tersebar dari Januari hingga Desember.
Penyusunan CoE tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, kelompok masyarakat, hingga pemerintah desa.
Terdapat beberapa agenda yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Magetan selama tahun 2026.
Seperti agenda Labuhan Telaga Sarangan dan banyak lainnya. Bahkan Labuhan Telaga Sarangan terus didorong menjadi ikon nasional sebagai tradisi budaya karena telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
"CoE Kabupaten Magetan Tahun 2026 diharapkan dapat memperkuat daya tarik pariwisata daerah sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat sepanjang tahun," katanya.
Serta menjadi sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang bisa dirasakan oleh berbagai kalangan masyarakat, utamanya pelaku wisata seperti UMKM, hotel dan restoran.
Dinas Pariwisata (Dispar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat pengembangan wisata malam di lima kabupaten/kota guna memperpanjang lama tinggal ... [389] url asal
Atraksi malam bukan atraksi yang negatif, yang kemudian dipastikan tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya
Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pariwisata (Dispar) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkuat pengembangan wisata malam di lima kabupaten/kota guna memperpanjang lama tinggal wisatawan.
"Wisata malam di DIY ini dikembangkan untuk memastikan 'length of stay' (lama tinggal wisatawan) meningkat," ujar Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi di Yogyakarta, Jumat.
Menurut Imam, dengan keberadaan wisata malam, wisatawan tidak hanya beraktivitas di siang hari, tetapi juga memiliki banyak alternatif kegiatan setelah matahari terbenam.
Dia berharap upaya itu membuat mereka lebih betah dan memperpanjang masa kunjungan di Yogyakarta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, rata-rata lama menginap wisatawan di hotel berbintang pada Juni 2025 tercatat 1,54 malam. Angka ini sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya yang masih berada di angka 1,51 malam.
Meski begitu, Imam menegaskan pengembangan wisata malam di provinsi ini tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai budaya.
"Untuk menahan wisatawan lebih lama di DIY itu perlu atraksi malam. Atraksi malam bukan atraksi yang negatif, yang kemudian dipastikan tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya," ucap dia.
Sejumlah wilayah di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, menurut Imam, selama ini sudah memiliki kegiatan malam cukup berkembang, mulai dari kafe hingga berbagai acara komunitas.
Namun di kabupaten lain seperti Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul, potensi wisata malam masih perlu ditingkatkan agar aktivitas pariwisata semakin merata.
Kawasan pantai selatan di Kabupaten Bantul, menurut Imam, sejak lama diproyeksikan untuk pengembangan wisata malam.
Dispar DIY dengan Dinas Pariwisata Bantul, kata dia, telah berkoordinasi untuk menyiapkan kegiatan yang aman, menarik, dan sesuai aturan di kawasan pesisir itu.
"Salah satu yang dari dulu menjadi kebutuhan kita itu adalah yang di pantai selatan Bantul. InsyaAllah kita bisa memastikan itu untuk kemudian berkembang atraksi-atraksi malam, dan juga yang tidak berbahaya tentunya," jelas Imam.
Meski beberapa kegiatan sudah berlangsung, Imam menilai promosi terhadap "event" wisata malam di DIY masih perlu diperkuat dengan memperluas penyebaran informasi jadwal kegiatan.
Dengan begitu, wisatawan bisa merencanakan kunjungan atau secara spontan menghadiri acara yang digelar di malam hari.
Imam menambahkan, peningkatan kualitas layanan dan keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap pengembangan wisata malam sehingga pengunjung merasa puas dan tertarik datang kembali.
"Jangan sampai malah jadi tidak datang lagi karena pelayanan yang jelek. Ini yang kita pastikan ke depan," tutur Imam Pratanadi.