#30 tag 24jam
IHSG melemah imbas MSCI "hold" sementara rebalancing indeks saham RI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak melemah imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International ... [506] url asal
#indeks-harga-saham-gabungan #bursa-efek-indonesia #bei #indonesia-stock-exchange #msci #rebalancing-indeks-msci
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak melemah imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara (hold) proses rebalancing indeks untuk saham-saham di pasar saham Indonesia.
IHSG dibuka melemah 597,75 poin atau 6,66 persen ke posisi 8.382,48. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 55,95 poin atau 6,39 persen ke posisi 820,16.
“Dari sisi pasar, keputusan MSCI ini berpotensi memberi tekanan pada pergerakan IHSG, khususnya dalam jangka pendek hingga menengah. Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berarti potensi aliran dana pasif dari investor global menjadi tertahan. Padahal, dana indeks dan ETF selama ini menjadi salah satu penopang utama permintaan saham berkapitalisasi besar di Indonesia,” ujar Pengamat sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.
MSCI baru saja mengumumkan hasil konsultasi global terkait penilaian free float saham-saham Indonesia, dan isu tersebut langsung menjadi sorotan utama pelaku pasar
Dalam proses itu, sebagian investor global memang menyambut baik rencana penggunaan Laporan Komposisi Kepemilikan Bulanan KSEI sebagai referensi tambahan. Namun, secara umum mayoritas investor masih menyimpan kekhawatiran besar terhadap keandalan klasifikasi pemegang saham
“Mereka menilai data tersebut belum sepenuhnya mampu menggambarkan struktur kepemilikan yang sebenarnya, sehingga menimbulkan keraguan dalam menilai tingkat free float saham Indonesia,” ujar Hendra.
MSCI juga menilai bahwa meskipun BEI telah melakukan sejumlah perbaikan minor terkait data free float, persoalan mendasar mengenai investability pasar saham Indonesia masih belum terjawab. Investor global menyoroti rendahnya transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya kekhawatiran potensi transaksi yang bersifat terkoordinasi.
“Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar dan meningkatkan risiko volatilitas yang tidak sehat di pasar,” ujar Hendra.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, MSCI menerapkan kebijakan pembekuan sementara yang berlaku efektif segera. Kebijakan itu mencakup pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares, baik yang berasal dari peninjauan indeks, termasuk Review Februari 2026, maupun dari aksi korporasi.
Selain itu, MSCI juga tidak akan menambahkan saham baru Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan menahan kenaikan segmen ukuran saham, seperti perpindahan dari kategori Small Cap ke Standard Index
Kebijakan itu bertujuan menekan risiko perputaran indeks yang berlebihan sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar Indonesia untuk melakukan perbaikan transparansi secara lebih menyeluruh
Pada perdagangan Selasa (27/1), bursa AS Wall Street kompak bergerak variatif, di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,83 persen ditutup di level 49.4212,40, indeks S&P 500 menguat 0,41 persen ke level 6.950,30, dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,88 persen ditutup di 25.713,21.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 934,69 poin atau 0,55 persen ke 53.040,00, indeks Shanghai menguat 10,95 atau 0,26 persen ke 4.150,54, indeks Hang Seng menguat 286,22poin atau 1,13 persen ke 27.068,19, dan indeks Strait Times melemah 25,19 poin atau 0,97 persen ke 4.897,89.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Ini 3 Manfaat Rebalancing Portofolio dalam Investasi
MotionTrade telah merangkum 3 manfaat rebalancing portofolio. Apa saja? Simak di sini informasinya. - Bagian all [293] url asal
JAKARTA, iNews.id - MNC Sekuritas merupakan perusahaan efek di bawah naungan MNC Group, yang saat ini mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT MNC Kapital Indonesia. MNC Sekuritas menyediakan layanan dan jasa perdagangan efek yang lengkap dan didukung dengan aplikasi online trading yaitu MotionTrade.
Portofolio yang terencana dapat menjadi salah satu kunci untuk menghadapi pasar yang penuh dinamika di tahun mendatang. Rebalancing portofolio membantu investor menjaga keseimbangan antara risiko, peluang, dan hasil investasi. Strategi ini dilakukan dengan menyesuaikan kembali alokasi portofolio agar tetap sejalan dengan tujuan investasi yang telah ditetapkan.
Seiring berjalannya waktu, kinerja masing-masing instrumen dapat berubah sehingga sebagian investasi tidak lagi sesuai dengan tujuan awal. Oleh karena itu, rebalancing penting dilakukan untuk menjaga portofolio tetap teratur sekaligus mengendalikan risiko berlebihan akibat perubahan pasar. MotionTrade telah merangkum 3 manfaat rebalancing portofolio, yaitu:
Rebalancing membantu Anda sebagai investor untuk menjaga tingkat risiko portofolio sesuai dengan toleransi risikonya masing-masing. Jika kinerja satu jenis aset lebih baik dari yang lain, alokasi aset dapat berubah, dan risiko portofolio pun dapat meningkat.
Ketika beberapa instrumen dalam portofolio mencapai kinerja di atas rata-rata, rebalancing memungkinkan Anda untuk merealokasikan keuntungan tersebut ke instrumen lain yang mungkin sedang di bawah rata-rata. Hal ini dapat mengoptimalkan pengembalian investasi dalam jangka panjang.
Dengan memiliki jadwal rebalancing yang terencana, Anda dapat menghindari pengambilan keputusan emosional yang dipicu oleh fluktuasi pasar jangka pendek.
Agar strategi investasi tetap selaras dengan tujuan keuangan dan portofolio siap menyambut peluang di tahun yang baru. Ini merupakan waktu yang tepat untuk Anda melakukan rebalancing portofolio.
Nikmati layanan investasi pasar modal dari #MNCSekuritas dengan segera unduh aplikasi MotionTrade dan jelajahi seamless experience. Aplikasi MotionTrade dapat diunduh di Google PlayStore dan Apple AppStore dengan link unduh onelink.to/motiontrade. MNC Sekuritas, Invest with The Best!
Editor: Puti Aini Yasmin
Bos BEI Akui Waswas Soal MSCI, Sebut Ada Potensi Dana Asing Keluar
Bursa Efek Indonesia waspadai penyesuaian float oleh MSCI yang dapat memicu arus modal keluar. BEI dan OJK berupaya tingkatkan free float emiten ke 10%. [1,249] url asal
#pasar-modal #msci #bursa-efek-indonesia #arus-modal #free-float #investasi #tantangan-pasar #ihsg #rebalancing-indeks #ojk
(CNBC Indonesia - Market) 17/11/25 09:11
v/40202/
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyoroti penyesuaian perhitungan float Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan mempengarhi pasar saham Indonesia. Bahkan, hal ini menjadi tantangan industri pasar modal RI tahun depan.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan, akan ada potensi arus modal keluar atau capital outflow yang cukup besar jika penyesuaian jumlah float oleh MSCI.
"Tahun depan kita tetap harus waspada. Terutama mungkin yang saya perlu ingatkan, kalau MSCI jadi menerapkan mengenai proposal, ada potensi keluar dari Indonesia yang cukup besar," ujarnya dalam acara Media Gathering Pasar Modal di Bali, Senin (17/11).
Iman menekankan, hal ini akan menjadi fokus utama BEI karena saat isu tersebut berhembus Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung bereaksi dan sempat amblas hampir 4% pada perdagangan 27 Oktober 2025 lalu.
MSCI sendiri sedang mencari masukan dari para pelaku pasar mengenai rencana penggunaan laporan kepemilikan efek bulanan yang diterbitkan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan untuk memperkirakan jumlah saham beredar bebas (free float) untuk saham di Indonesia.
KSEI mempertimbangkan bahwa kepemilikan oleh korporasi dan lainnya (baik domestik dan asing) dikecualikan dari perhitungan free float.
"Artinya ini jadi peran kita untuk bisa mudah-mudahan proposal MSCI. Ini jadi masih ada tantangan di kita," ungkapnya.
Selain itu, MSCI juga berencana menggunakan free float terendah antara data KSEI tersebut dengan laporan emiten. Keputusan akan diumumkan maksimal pada 30 Januari 2026. MSCI sendiri mengusulkan dua pendekatan baru, dan akan memilih yang lebih rendah nilainya (lebih konservatif).
Pendekatan pertama, berdasarkan data kepemilikan yang diungkapkan oleh perusahaan (laporan tahunan, pengajuan resmi, dan siaran pers), serta data dari KSEI. Dalam pendekatan ini, saham-saham yang tercatat sebagai Script (tidak jelas kepemilikannya di data KSEI), dan dimiliki oleh korporasi atau kategori lainnya, akan dianggap bukan free float.
Pendekatan kedua, menggunakan data KSEI dengan menganggap hanya saham Script dan saham milik korporasi sebagai non-free float. MSCI rencananya akan mulai menggunakan metode baru ini pada Mei 2026.
Selain itu, MSCI juga akan mengubah cara mereka membulatkan angka free float:
• High float (>25%) dibulatkan ke kelipatan 2,5% terdekat
• Low float (5-25%) dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
• Very low float (<5%) juga dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
Dampaknya bagi Indonesia, karena banyak perusahaan Indonesia memiliki kepemilikan besar oleh korporasi atau kelompok tertentu (bukan publik), aturan baru ini bisa menurunkan nilai free float mereka. Akibatnya, porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI bisa turun, yang berpotensi menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow).
Dalam ranah global, ada dua lembaga utama yang sering melakukan rebalancing dan cukup dinanti-nanti oleh pelaku pasar, yaitu FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan MSCI (Morgan Stanley Capital International). Dua indeks ini menjadi perhatian investor asing untuk investasi di negara-negara tertentu, baik itu negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.
Setiap kali jadwal rebalancing MSCI mendekat, fund manager asing, investor ritel pun ikut menyoroti pengumuman tersebut. Pasalnya, Indeks MSCI seperti MSCI Emerging Markets, MSCI Asia ex-Japan, atau MSCI Indonesia, dijadikan patokan oleh investor global dalam mengalokasikan dana ke negara-negara berkembang.
Arus dana besar bisa masuk ke saham yang baru ditambahkan, sementara saham yang dikeluarkan cenderung dibuang oleh investor institusi.
Tak jarang, saham yang diumumkan akan masuk ke dalam indeks MSCI langsung melonjak karena permintaan mendadak. Sebaliknya, saham yang didepak dari daftar MSCI bisa turun tajam karena tekanan jual. Fenomena ini dikenal sebagai MSCI effect, dan sering dimanfaatkan investor sebagai peluang jangka pendek.
Tak hanya dana pasif, bahkan manajer investasi aktif sekalipun turut menjadikan MSCI sebagai referensi. Rebalancing menjadi momen krusial untuk mengevaluasi strategi alokasi aset, terutama bagi dana kelolaan besar.
Namun, momentum pengumuman MSCI sering dimanfaatkan pelaku pasar untuk berspekulasi terhadap saham-saham yang berpotensi masuk. Ini menciptakan volatilitas jangka pendek yang bisa dimanfaatkan oleh trader aktif.
Adapun beberapa keuntungan yang didapatkan jika suatu saham bisa masuk sebagai konstituen indeks FTSE maupun MSCI:
1. Meningkatkan minat investor asing maupun lokal yang mau masuk ke suatu saham konstituen MSCI/FTSE Likuiditas saham bisa meningkat karena lebih banyak diperdagangkan oleh berbagai institusi.
2. Masuknya saham ke indeks juga sering memicu kenaikan volatilitas harga, yang bisa menciptakan peluang menarik bagi para trader untuk memanfaatkan momentum jangka pendek.
Upaya OJK BEI Tingkatkan Free Float Emiten
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong peningkatan jumlah saham beredar di pasar atau free float dari yang sebelumnya 7,5% menjadi 10%. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Inarno Djajadi berharap aturan tersebut dapat segera diterapkan dalam waktu dekat.
"Kita yang menjadi perhatian kita itu pertama adalah peningkatan pre-float ya Pak Iman. Dan ini sudah menjadi apa namanya apa kajian kita yang sangat serius dan mudah-mudahan bisa kita terapkan dalam waktu dekat," ujarnya di dalam acara Media Gathering di Bali, Sabtu (15/11).
Ia mengaku, dalam peningkatan free float tidak mudah. Namun, saat ini besaran free float di bursa Indonesia cukup rendah di kawasan negara regional.
Pihaknya sendiri selaku otoritas menargetkan jumlah free float di pasar modal mencapai 25%. Hal tersebut dapat terealisasi dengan cara bertahap yang disesuaikan dengan kondisi pasar.
"Mungkin target kita memang 25% tetapi nggak mungkin kita langsung ke 25% karena konsekuensinya itu cukup banyak jadi kita akan secara apa namanya bertahap itu kita akan naikkan mungkin dalam waktu dekat itu kita akan naikkan ke 10%," ungkapnya.
Inarno mengatakan, pihaknya meminta agar perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia atau melakukan IPO harus memiliki free float minimal 10%.
"Tentunya kita akan upayakan untuk paling tidak untuk yang IPO kedepannya itu kita harapkan harus minimal itu 10%, dan berikutnya adalah 15%, dan nantinya akan mengarah kepada 25%," pungkasnya.
Sebelumnya, Inarno juga pernah mengatakan, target 10% free float akan dikejar dalam waktu 3 tahun. "Kita sedang mengkaji untuk gradually, nanti kita akan review, tetapi target kita adalah masih dalam kajian tentunya, itu 10% dalam 3 tahun. 10% dalam 3 tahun," pungkasnya.
Sementara, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan Bursa Efek Indonesia juga akan melakukan penyesuaian free float dari sebelumnya berdasarkan nilai ekuitas menjadi berdasarkan kapitalisasi pasar.
"Detail penyesuaian klasifikasi size berdasarkan kapitalisasi pasar dalam menentukan minimum free float saat pencatatan perdana akan kami sampaikan kemudian kepada seluruh stakeholder untuk dimintakan pendapat terlebih dahulu sebelum dilanjutkan proses persetujuan," ujarnya, Selasa (13/10).
Nyoman mengungkapkan, aturan yang berlaku saat ini, besaran tiering free float yang harus dipenuhi oleh calon emiten antara lain, ekuitas kurang dari Rp500 miliar memiliki besaran free float sebesar 20%, Ekuitas antara Rp500 miliar hingga Rp2 triliun sebesar 15%, dan ekuitas lebih dari Rp2 triliun harus memenuhi free float sebesar 10%.
Nilai ekuitas tersebut merupakan kondisi size calon perusahaan tercatat sebelum penawaran umum yang artinya akan berbeda setelah dilakukan penawaran umum atau saat pencatatan perdana.
"Untuk itu kami memandang perlu dilakukan penyesuaian agar menghasilkan suatu klasifikasi size yang lebih relevan saat dilakukan pencatatan perdana serta sebagai dasar dalam menentukan tiering persyaratan minimum free float," jelasnya.
Berdasarkan simulasi backtesting kepada emiten, apabila menggunakan usulan klasifikasi size yang baru maka sebagian akan menjadi lebih tinggi, misalkan sebelumnya masuk di minimum free float 10% menjadi minimum free float 15%.
"Dengan demikian, ke depannya juga akan mendukung upaya peningkatan nilai free float perusahaan tercatat secara keseluruhan di Bursa," pungkasnya.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Bareng Masuk MSCI, BREN dan BRMS Beda Nasib
BREN menjadi saham paling banyak dibeli asing, sedangkan BRMS sebaliknya. [453] url asal
#bren #msci #brms #rebalancing #net-foreign-buy #net-foreign-sell #saham-indonesia #investasi #energi-terbarukan #ihsg
(CNBC Indonesia - Market) 06/11/25 12:57
v/29662/
Jakarta, CNBC Indonesia — Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil rebalancing periode November 2025. Semua perubahan akan dilakukan pada penutupan 24 November 2025, dan efektif pada 25 November 2025.
Ada dua saham yang baru masuk indeks MSCI, yakni PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) milik grup Bakrie dan emiten Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Sebagai informasi, BRMS sebelumnya adalah penghuni MSCI Small Cap Indexes.
Setelah pengumuman tersebut, pada perdagangan sesi I hari ini, Kamis (6/11/2025), investor asing tercatat banyak masuk ke BREN. Saham energi terbarukan tersebut mencatat net foreign buy Rp 99,8 miliar.
Kendati demikian, saham BREN mengalami kontraksi 1,54% ke level 9.600. Koreksi ini terjadi setelah BREN naik lebih dari 10% dalam lima hari terakhir.
Sementara itu, BRMS justru mencatat net foreign sell sebesar Rp 157 miliar. Pun koreksi saham BRMS pada sesi I hari ini lebih dalam, yakni 4,41% ke level 975.
Akan tetapi dalam enam bulan terakhir, pergerakan saham BRMS memang terbilang signifikan. BRMS naik 146,21% dari level harga Rp 396, sedangkan BREN 54,84%.
Adapun sepanjang sesi I, asing mencatat net sell Rp 216,6 miliar, berbanding terbalik dengan posisi dua hari terakhir.
Selengkapnya berikut 10 saham yang membukukan net buy dan net sell asing terbesar pada sesi 1 perdagangan hari ini:
Net foreign buy
- BREN: Rp 99,8 miliar
- ASII: Rp 46,1 miliar
- BBRI: Rp 44,5 miliar
- NSSS: Rp 32,6 miliar
- RATU: Rp 28,5 miliar
- BMRI: Rp 26,9 miliar
- FILM: Rp 23,2 miliar
- DSSA: Rp 21 miliar
- CUAN: Rp 19,7 miliar
- INET: Rp 17,9 miliar
Net Foreign Sell
- BRMS: Rp 157 miliar
- BBCA: Rp 88,1 miliar
- COIN: Rp 72,1 miliar
- DEWA: Rp 42,1 miliar
- ANTM: Rp 37,2 miliar
- RAJA: Rp 27,9 miliar
- WIFI: Rp 27,5 miliar
- MYOR: Rp 26,4 miliar
- ENRG: Rp 22,9 miliar
- MDKA: Rp 19,4 miliar
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona hijau hari ini, Kamis (6/11/2025). Indeks ditutup menguat 0,13% ke level 8.329,40 pada akhir perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 363 saham naik, 263 turun, dan 182 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 11,34 triliun, melibatkan 15,50 miliar saham dalam 1,51 juta kali transaksi.
Mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan paling tinggi dicatatkan oleh sektor energi, industri dan konsumer non-primer. Adapun sektor yang melemah paling dalam adalah utilitas dan konsumer primer.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
MSCI Umumkan Rebalancing, BREN & BRMS Masuk, ICBP-KLBF Keluar
MSCI melakukan rebalancing indeks saham Indonesia, efektif 25 November 2025. [257] url asal
#msci #rebalancing #indeks-saham #bren #brms #icbp #klbf #pasar-modal #saham-indonesia #perubahan-indeks
(CNBC Indonesia - Market) 06/11/25 07:39
v/29232/
Jakarta, CNBC Indonesia — MSCI resmi melakukan rebalancing terhadap indeks saham Indonesia dalam tinjauan November 2025. Perubahan ini akan berlaku efektif pada 25 November 2025, setelah penutupan perdagangan 24 November 2025.
Dalam daftar MSCI Global Standard Indexes, dua saham baru yakni PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) resmi masuk.
Sementara itu, dua saham yang dikeluarkan dari indeks ini adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF).
Untuk MSCI Small Cap Indexes, terdapat tujuh saham yang ditambahkan yaitu PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), dan PT MNC Studios International Tbk. (MSIN).
Selain itu, ada pula PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), dan PT Timah Tbk. (TINS). Adapun saham yang dikeluarkan meliputi PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM), dan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk. (ULTJ).
Sementara itu, dalam MSCI Micro Cap Indexes tidak terdapat perubahan baik untuk penambahan maupun penghapusan saham. Peninjauan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026, dengan pengumuman pada 10 Februari dan efektif per 2 Maret 2026.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Mengenal MSCI, Lembaga Asing yang Bikin Pasar Saham RI Ketar Ketir
MSCI berencana menyesuaikan jumlah float saham di Indonesia, berpotensi mempengaruhi IHSG dan arus modal asing. Simak dampaknya bagi pasar saham! [736] url asal
#msci #pasar-saham-indonesia #rebalancing-indeks #ihsg #investasi-asing #free-float #efek-msci #volatilitas-saham #kustodian-sentral-efek-indonesia #saham-konglomerat
(CNBC Indonesia - Market) 30/10/25 08:26
v/21144/
Jakarta, CNBC Indonesia - Morgan Stanley Capital International (MSCI) dikabarkan akan melakukan penyesuaian jumlah float. Lantas, siapa sebenarnya MSCI yang berhasil membuat pasar saham di Indonesia ambrol beberapa waktu lalu?
Diketahui, saat isu ini keluar, IHSG langsung bereaksi dan sempat amblas hampir 4% pada perdagangan Senin (27/10/2025). Pasalnya, langkah ini disinyalir bakal membuat saham-saham konglomerat yang selama ini menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dirugikan.
MSCI sendiri sedang mencari masukan dari para pelaku pasar mengenai rencana penggunaan laporan kepemilikan efek bulanan yang diterbitkan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan untuk memperkirakan jumlah saham beredar bebas (free float) untuk saham di Indonesia. KSEI mempertimbangkan bahwa kepemilikan oleh korporasi dan lainnya (baik domestik dan asing) dikecualikan dari perhitungan free float.
Selain itu, MSCI juga berencana menggunakan free float terendah antara data KSEI tersebut dengan laporan emiten. Keputusan akan diumumkan maksimal pada 30 Januari 2026. MSCI sendiri mengusulkan dua pendekatan baru, dan akan memilih yang lebih rendah nilainya (lebih konservatif).
Pendekatan pertama, berdasarkan data kepemilikan yang diungkapkan oleh perusahaan (laporan tahunan, pengajuan resmi, dan siaran pers), serta data dari KSEI. Dalam pendekatan ini, saham-saham yang tercatat sebagai Script (tidak jelas kepemilikannya di data KSEI), dan dimiliki oleh korporasi atau kategori lainnya, akan dianggap bukan free float.
Pendekatan kedua, menggunakan data KSEI dengan menganggap hanya saham Script dan saham milik korporasi sebagai non-free float. MSCI rencananya akan mulai menggunakan metode baru ini pada Mei 2026. Selain itu, MSCI juga akan mengubah cara mereka membulatkan angka free float:
• High float (>25%) dibulatkan ke kelipatan 2,5% terdekat
• Low float (5-25%) dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
• Very low float (<5%) juga dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
Dampaknya bagi Indonesia, karena banyak perusahaan Indonesia memiliki kepemilikan besar oleh korporasi atau kelompok tertentu (bukan publik), aturan baru ini bisa menurunkan nilai free float mereka. Akibatnya, porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI bisa turun, yang berpotensi menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow).
Selain itu, selama ini beberapa saham Indonesia diuntungkan dari aturan pembulatan lama, sehingga jika aturan baru diterapkan, mereka bisa kehilangan posisi di indeks. Adapun saham-saham yang paling berisiko dikeluarkan dari indeks (urut dari risiko tertinggi) yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Dua Lembaga Dunia Paling Berpengaruh di Pasar Saham
Dalam ranah global, ada dua lembaga utama yang sering melakukan rebalancing dan cukup dinanti-nanti oleh pelaku pasar, yaitu FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan MSCI (Morgan Stanley Capital International). Dua indeks ini menjadi perhatian investor asing untuk investasi di negara-negara tertentu, baik itu negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.
Setiap kali jadwal rebalancing MSCI mendekat, fund manager asing, investor ritel pun ikut menyoroti pengumuman tersebut. Pasalnya, Indeks MSCI seperti MSCI Emerging Markets, MSCI Asia ex-Japan, atau MSCI Indonesia, dijadikan patokan oleh investor global dalam mengalokasikan dana ke negara-negara berkembang.
Arus dana besar bisa masuk ke saham yang baru ditambahkan, sementara saham yang dikeluarkan cenderung dibuang oleh investor institusi.
Tak jarang, saham yang diumumkan akan masuk ke dalam indeks MSCI langsung melonjak karena permintaan mendadak. Sebaliknya, saham yang didepak dari daftar MSCI bisa turun tajam karena tekanan jual. Fenomena ini dikenal sebagai MSCI effect, dan sering dimanfaatkan investor sebagai peluang jangka pendek.
Tak hanya dana pasif, bahkan manajer investasi aktif sekalipun turut menjadikan MSCI sebagai referensi. Rebalancing menjadi momen krusial untuk mengevaluasi strategi alokasi aset, terutama bagi dana kelolaan besar.
Namun, momentum pengumuman MSCI sering dimanfaatkan pelaku pasar untuk berspekulasi terhadap saham-saham yang berpotensi masuk. Ini menciptakan volatilitas jangka pendek yang bisa dimanfaatkan oleh trader aktif.
Adapun beberapa keuntungan yang didapatkan jika suatu saham bisa masuk sebagai konstituen indeks FTSE maupun MSCI:
1. Meningkatkan minat investor asing maupun lokal yang mau masuk ke suatu saham konstituen MSCI/FTSE Likuiditas saham bisa meningkat karena lebih banyak diperdagangkan oleh berbagai institusi.
2. Masuknya saham ke indeks juga sering memicu kenaikan volatilitas harga, yang bisa menciptakan peluang menarik bagi para trader untuk memanfaatkan momentum jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Mengenal MSCI, Lembaga Asing yang Bikin Pasar Saham RIKetar Ketir
MSCI berencana menyesuaikan jumlah float saham di Indonesia, berpotensi mempengaruhi IHSG dan arus modal asing. Simak dampaknya bagi pasar saham! [736] url asal
#msci #pasar-saham-indonesia #rebalancing-indeks #ihsg #investasi-asing #free-float #efek-msci #volatilitas-saham #kustodian-sentral-efek-indonesia #saham-konglomerat
(CNBC Indonesia - Market) 30/10/25 08:26
v/21104/
Jakarta, CNBC Indonesia - Morgan Stanley Capital International (MSCI) dikabarkan akan melakukan penyesuaian jumlah float. Lantas, siapa sebenarnya MSCI yang berhasil membuat pasar saham di Indonesia ambrol beberapa waktu lalu?
Diketahui, saat isu ini keluar, IHSG langsung bereaksi dan sempat amblas hampir 4% pada perdagangan Senin (27/10/2025). Pasalnya, langkah ini disinyalir bakal membuat saham-saham konglomerat yang selama ini menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dirugikan.
MSCI sendiri sedang mencari masukan dari para pelaku pasar mengenai rencana penggunaan laporan kepemilikan efek bulanan yang diterbitkan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan untuk memperkirakan jumlah saham beredar bebas (free float) untuk saham di Indonesia. KSEI mempertimbangkan bahwa kepemilikan oleh korporasi dan lainnya (baik domestik dan asing) dikecualikan dari perhitungan free float.
Selain itu, MSCI juga berencana menggunakan free float terendah antara data KSEI tersebut dengan laporan emiten. Keputusan akan diumumkan maksimal pada 30 Januari 2026. MSCI sendiri mengusulkan dua pendekatan baru, dan akan memilih yang lebih rendah nilainya (lebih konservatif).
Pendekatan pertama, berdasarkan data kepemilikan yang diungkapkan oleh perusahaan (laporan tahunan, pengajuan resmi, dan siaran pers), serta data dari KSEI. Dalam pendekatan ini, saham-saham yang tercatat sebagai Script (tidak jelas kepemilikannya di data KSEI), dan dimiliki oleh korporasi atau kategori lainnya, akan dianggap bukan free float.
Pendekatan kedua, menggunakan data KSEI dengan menganggap hanya saham Script dan saham milik korporasi sebagai non-free float. MSCI rencananya akan mulai menggunakan metode baru ini pada Mei 2026. Selain itu, MSCI juga akan mengubah cara mereka membulatkan angka free float:
• High float (>25%) dibulatkan ke kelipatan 2,5% terdekat
• Low float (5-25%) dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
• Very low float (<5%) juga dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
Dampaknya bagi Indonesia, karena banyak perusahaan Indonesia memiliki kepemilikan besar oleh korporasi atau kelompok tertentu (bukan publik), aturan baru ini bisa menurunkan nilai free float mereka. Akibatnya, porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI bisa turun, yang berpotensi menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow).
Selain itu, selama ini beberapa saham Indonesia diuntungkan dari aturan pembulatan lama, sehingga jika aturan baru diterapkan, mereka bisa kehilangan posisi di indeks. Adapun saham-saham yang paling berisiko dikeluarkan dari indeks (urut dari risiko tertinggi) yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Dua Lembaga Dunia Paling Berpengaruh di Pasar Saham
Dalam ranah global, ada dua lembaga utama yang sering melakukan rebalancing dan cukup dinanti-nanti oleh pelaku pasar, yaitu FTSE (Financial Times Stock Exchange) dan MSCI (Morgan Stanley Capital International). Dua indeks ini menjadi perhatian investor asing untuk investasi di negara-negara tertentu, baik itu negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.
Setiap kali jadwal rebalancing MSCI mendekat, fund manager asing, investor ritel pun ikut menyoroti pengumuman tersebut. Pasalnya, Indeks MSCI seperti MSCI Emerging Markets, MSCI Asia ex-Japan, atau MSCI Indonesia, dijadikan patokan oleh investor global dalam mengalokasikan dana ke negara-negara berkembang.
Arus dana besar bisa masuk ke saham yang baru ditambahkan, sementara saham yang dikeluarkan cenderung dibuang oleh investor institusi.
Tak jarang, saham yang diumumkan akan masuk ke dalam indeks MSCI langsung melonjak karena permintaan mendadak. Sebaliknya, saham yang didepak dari daftar MSCI bisa turun tajam karena tekanan jual. Fenomena ini dikenal sebagai MSCI effect, dan sering dimanfaatkan investor sebagai peluang jangka pendek.
Tak hanya dana pasif, bahkan manajer investasi aktif sekalipun turut menjadikan MSCI sebagai referensi. Rebalancing menjadi momen krusial untuk mengevaluasi strategi alokasi aset, terutama bagi dana kelolaan besar.
Namun, momentum pengumuman MSCI sering dimanfaatkan pelaku pasar untuk berspekulasi terhadap saham-saham yang berpotensi masuk. Ini menciptakan volatilitas jangka pendek yang bisa dimanfaatkan oleh trader aktif.
Adapun beberapa keuntungan yang didapatkan jika suatu saham bisa masuk sebagai konstituen indeks FTSE maupun MSCI:
1. Meningkatkan minat investor asing maupun lokal yang mau masuk ke suatu saham konstituen MSCI/FTSE Likuiditas saham bisa meningkat karena lebih banyak diperdagangkan oleh berbagai institusi.
2. Masuknya saham ke indeks juga sering memicu kenaikan volatilitas harga, yang bisa menciptakan peluang menarik bagi para trader untuk memanfaatkan momentum jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Setelah Dihantam Badai Rebalancing MSCI: Sanggupkah IHSG Balas Dendam?
Rebalancing MSCI dan data ekonomi global akan menjadi penggerak sentimen hari ini [3,353] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #pasar-keuangan #ekonomi-global #net-outflow #obligasi-indonesia #sentimen-pasar #suku-bunga #investor-asing #msci #rebalancing-msci
(CNBC Indonesia - Research) 28/10/25 04:27
v/18424/
- Pasar keuangan Indonesia babak belur pada perdagangan kemarin, rupiah dan IHSG jeblok
- Wall Street pesta pora menjelang keputusan The Fed dan pertemuan Trump-Jinping
- Rebalancing MSCI dan data ekonomi global akan menjadi penggerak sentimen hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Awal pekan ini pasar keuangan Tanah Air dibuka dengan performa yang kurang baik, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah terhadap dolar AS sama-sama berada di zona pelemahan.
Kabar penyesuaian perhitungan float Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuat IHSG jeblok pada perdagangan kemarin. Namun, penurunan tajam kemarin justru memberikan peluang rebound hari ini.
Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 pada artikel ini. Dan para investor juga dapat mengintip agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik dalam negeri dan luar negeri pada halaman 4.
Pada perdagangan Senin (27/10/2025), IHSG ditutup terkapar 1,87% di level 8.117,15. Pada perdagangan intraday, IHSG sempat turun hingga 3,70% di level 7.965,47 sebelum akhirnya berhasil ditarik pada sesi II ke level psikologis 8.100.
Pada akhir perdagangan kemarin, tercatat sebanyak 506 saham turun, 234 naik, dan 216 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 28,68 triliun, melibatkan 37,95 miliar saham dalam 2,85 juta kali transaksi.
Investor asing masih mencatat net buy sebesar Rp 1,2 triliun pada perdagangan kemarin.
Mengutip Refinitiv, hanya sektor kesehatan yang menguat, sedangkan sisanya mengalami koreksi. Energi turun paling dalam, yakni -5,81%. Lalu diikuti oleh bahan baku -3,97% dan properti -3,93%.
Sejumlah saham konglomerat menjadi pemberat utama. Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menyumbang beban paling besar, yakni -50,35 indeks poin. Emiten grup Sinar Mas itu pada kemarin turun 12,83% ke level 88.800.
Kemudian saham Prajogo Pangestu, bila ditotal menyumbang -38,29 indeks poin. Akan tetapi angka itu mengalami perbaikan setelah sebelumnya pada sesi I menyumbang -61,78 indeks poin.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan bahwa saham Prajogo ambruk seiring dengan muncul isu perubahan perhitungan MSCI dan kabarnya akan membuat saham Prajogo terdepak.
"Tapi ya itu issue, real dari MSCI belum keluar, tapi effectnya investor panic selling duluan," katanya kepada CNBC Indonesia, Senin (27/10/2025).
Managing Director Solstice Handiman menjelaskan bahwa selama ini, saham yang dimiliki oleh korporasi dan lain-lain diluar pemegang saham mayoritas/pengendali) bisa dihitung sebagai free float oleh MSCI.
Akan tetapi dalam aturan baru yang beredar, hal itu akan dianggap sebagai non-free float. "Hal ini kemungkinan akan berdampak terhadap terpenuhinya minimum free float-adjusted market cap untuk masuk ke dalam index MSCI," katanya.
Handiman menilai aturan tersebut sebenarnya lebih fair. Pasalnya MSCI mendefinisikan free float sebagai proporsi saham yang tersedia untuk dibeli oleh investor di pasar ekuitas.
"Namun cukup banyak saham di bursa yang dimiliki oleh pihak tertentu, misalnya pendiri dan pihak berelasi, private equity, cross-holding dalam satu konglomerasi, yang tujuannya strategis, di mana saham ini tidak diperdagangkan di pasar," katanya.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Inarno Djajadi menilai penurunan tersebut terbilang wajar karena dalam beberapa waktu terakhir IHSG bergerak naik bahkan menyentuh rekor tertinggi.
Beralih ke rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Senin (27/10/2025) melemah ke posisi Rp16.610/US$1 atau terdepresiasi 0,12%.
Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan internal. Dari sisi global, pelaku pasar tengah menantikan keputusan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang akan diumumkan usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 29-30 Oktober 2025, dengan hasil dipublikasikan pada Kamis (30/10/2025) dini hari waktu Indonesia.
Mengacu pada CME FedWatch Tool, probabilitas The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) mencapai 98,1%.
Jika pemangkasan benar terjadi, langkah tersebut berpotensi menekan dolar AS dan memberikan sentimen positif bagi rupiah serta aset berisiko di negara berkembang.
Dari sisi dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), sepanjang periode 20-23 Oktober 2025, investor asing mencatatkan net outflow sebesar Rp0,94 triliun, meskipun jumlah ini menurun dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp16 triliun.
Rinciannya, terjadi penjualan bersih (net sell) di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2,73 triliun, serta di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai Rp1,28 triliun. Sementara itu, hanya pasar saham yang masih mencatat net inflow dari asing sebesar Rp3,08 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor global masih berhati-hati terhadap aset keuangan Indonesia menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, pada perdagangan Senin (27/10/2025) imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 0,05% di level 5,9238%.
Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN). Begitu pun sebaliknya, imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN).
Pasar saham Amerika Serikat (AS) Wall Street kembali berpesta pora dan memulai awal pekan dengan baik. Wall Street mencapai rekor tertinggi baru berkat laporan laba perusahaan teknologi dan optimisme perdagangan AS-China.
Pada perdagangan Senin (27/10/2025), Dow Jones menguat 0,71% di level 47.544,59. Begitu juga dengan S&P 500 naik 1,23% di level 6.875,14 dan Nasdaq terapresiasi 1,86% 23.637,46.
Indeks-indeks utama Wall Street mencatat rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan Senin karena investor optimistis terhadap prospek kesepakatan perdagangan AS-China dan menantikan pekan yang dipenuhi laporan laba perusahaan teknologi terkemuka dan pemangkasan suku bunga AS yang telah lama dinantikan.
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada hari Kamis untuk memutuskan kerangka kerja yang dapat menghentikan tarif AS yang lebih ketat dan pembatasan ekspor logam tanah jarang China, meredakan kekhawatiran pasar seputar perang dagang dan menurunkan pengukur ketakutan Wall Street.
Dalam acara TV akhir pekan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent membahas kesepakatan pembelian kedelai AS dan ekspor logam tanah jarang China setelah dua hari perundingan perdagangan di Malaysia.
Bersamaan dengan pertemuan yang akan datang, komentar Bessent meningkatkan harapan akan meredanya ketegangan AS-China, ujar Scott Wren, ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute di St. Louis, Missouri.
Laba dari lima perusahaan dari grup Magnificent Seven yang terkemuka yakni Microsoft (MSFT.O), Apple (AAPL.O), Alphabet (GOOGL.O), Amazon (AMZN.O), dan Meta (META.O), akhir pekan ini akan menguji ketahanan reli pasar, yang sebagian besar bergantung pada optimisme seputar pertumbuhan dan belanja modal terkait kecerdasan buatan.
"Dengan lima perusahaan dari Mag Seven yang akan melaporkan kinerjanya minggu ini, pasar berharap untuk mendengar konfirmasi bahwa semua belanja modal AI ini akan tercapai, bahwa pendapatan dan laba dari AI akan tercapai," ujar Wren.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, sektor jasa komunikasi (SPLRCL), barang konsumsi diskresioner (SPLRCD), dan teknologi (SPLRCT) semuanya mengalami reli tajam. Sektor yang paling lambat adalah sektor material (SPLRCM) dan barang konsumsi pokok (SPLRCS).
Indeks Philadelphia SE Semiconductor (SOX) mencapai rekor tertinggi baru. Saham Qualcomm (QCOM.O) melonjak setelah meluncurkan dua chip AI untuk pusat data, dengan ketersediaan komersial mulai tahun depan. Pemimpin chip AI Nvidia (NVDA.O) juga menguat.
Saham perusahaan China yang terdaftar di AS, termasuk Alibaba Group Holding (BABA.N), JD.com (JD.O), PDD Holdings (PDD.O), dan Baidu (BIDU.O), juga menguat pada hari itu.
Sementara itu, data inflasi yang lebih dingin pekan lalu hampir menutup spekulasi untuk pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Federal Reserve pada hari Rabu, dan investor akan memantau dengan cermat komentar Ketua Jerome Powell untuk mendapatkan petunjuk tentang pemotongan suku bunga pada bulan Desember, karena penutupan pemerintah AS menghambat rilis data penting.
Awal pekan ini bukanlah awal yang cukup baik dalam pembukaan perdagangan pasar, IHSG sempat terperosok hingga 3,70% ke level psikologis 7.900 sebelum akhirnya berhasil ditarik ke level psikologis 8.100.
Namun menariknya, koreksi ini masih dapat dikatakan koreksi sehat karena bukan penurunan yang didorong oleh pelemahan data-data ekonomi RI, melainkan kabar sentimen global yang kini juga masih abu-abu.
Penyesuaian perhitungan float Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), berhasil mendorong investor asing kabur ramai-ramai dari Bursa Saham Tanah Air pada perdagangan kemarin. Meskipun begitu, pasar diperkirakan akan segera rebound mengingat optimisme terhadap pemangkasan suku bunga AS hingga momen borong saham usai penurunan tajam kemarin.
MSCI Kaji Free Float
Kejatuhan IHSG pada perdagangan kemarin usai kabar MSCI tengah mengkaji ulang cara menghitung free float (saham yang beredar dan bisa diperdagangkan publik) untuk perusahaan-perusahaan Indonesia yang menjadi bagian dari indeks mereka. MSCI membuka konsultasi dan akan menerima masukan dari pelaku pasar hingga 31 Desember 2025, lalu hasilnya akan diumumkan paling lambat 30 Januari 2026.
Untuk saham yang sudah termasuk indeks IMI (MSCI Indonesia Investable Market Index), penyesuaian akan diterapkan saat review Mei 2026. Untuk saham yang belum termasuk IMI, aturan baru bisa langsung diberlakukan sebelum review Mei 2026 untuk menghindari perubahan besar yang mendadak (reverse turnover).
MSCI mengusulkan dua pendekatan baru, dan akan memilih yang lebih rendah nilainya (lebih konservatif).
Pertama, pendekatan 1, berdasarkan data kepemilikan yang diungkapkan oleh perusahaan (laporan tahunan, pengajuan resmi, dan siaran pers), serta data dari KSEI (lembaga kliring Indonesia). Dalam pendekatan ini, saham-saham yang tercatat sebagai Scrip (tidak jelas kepemilikannya di data KSEI), dan dimiliki oleh korporasi atau kategori lainnya, akan dianggap bukan free float.
Pendekatan 2, menggunakan data KSEI, dengan menganggap hanya saham Scrip dan saham milik korporasi sebagai non-free float.
Mulai review Mei 2026, MSCI juga akan mengubah cara mereka membulatkan angka free float:
• High float (>25%) dibulatkan ke kelipatan 2,5% terdekat
• Low float (5-25%) dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
• Very low float (<5%) juga dibulatkan ke kelipatan 0,5% terdekat
Dampaknya bagi Indonesia, karena banyak perusahaan Indonesia memiliki kepemilikan besar oleh korporasi atau kelompok tertentu (bukan publik), aturan baru ini bisa menurunkan nilai free float mereka. Akibatnya, porsi saham Indonesia dalam indeks MSCI bisa turun, yang berpotensi menyebabkan arus keluar modal asing (capital outflow).
Selain itu, selama ini beberapa saham Indonesia diuntungkan dari aturan pembulatan lama, sehingga jika aturan baru diterapkan, mereka bisa kehilangan posisi di indeks.
Saham yang paling berisiko dikeluarkan dari indeks (urut dari risiko tertinggi) yakni PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
BI Terus Kurangi Penerbitan SRBI
Bank Indonesia (BI) terus melakukan pengurangan penerbitan instrumen operasi moneter berupa Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pengetatan penerbitan SRBI untuk menjaga ekspansi likuiditas rupiah did alam negeri dilakukan hingga saat ini tersisa Rp 707,05 triliun, dari posisi awal 2025 senilai Rp 916,7 triliun.
Ekspansi likuiditas rupiah juga ditempuh BI melalui penurunan SRBI dari Rp 916,7 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp 707,05 triliun pada 21 Oktober 2025.
Sebagaimana diketahui, penurunan penerbitan SRBI untuk menjaga likuiditas rupiah di dalam negeri ini konsisten dilakukan BI pada tahun ini.
Bank Indonesia (BI) memastikan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan tetap dipertahankan sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter.
"SRBI ini adalah instrumen moneter yang tentunya masih akan terus diperlukan. Operasi moneter itu kan menarik likuiditas dari sistem apabila diperlukan, dan melakukan tambahan likuiditas ke sistem apabila kebijakan kita ekspansif," jelas Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya dalam pelatihan wartawan di Bukittinggi, dikutip Senin (27/10/2025).
Pada awal tahun 2025, posisi SRBI sebesar Rp916,97 triliun dan kini menjadi Rp707,05 triliun pada 21 Oktober 2025.
Suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan juga menurun masing-masing sebesar 251 bps, 254 bps, dan 257 bps sejak awal 2025 menjadi 4,65%; 4,67%; dan 4,70% pada 17 Oktober 2025.
Menurut Juli, SRBI juga akan berperan sebagai instrumen pendalaman pasar keuangan dan pendorong transmisi dari BI Rate ke suku bunga kredit perbankan. Kini BI juga menerbitkan BI Floating Rate Note (FRN)
"Sebagai instrumen moneter, SRBI akan tetap ada. Hanya saja akan ditambah dengan BI FRN untuk memperkaya instrumen dan memperdalam pasar," pungkasnya.
Laba Bank Mandiri September 2025
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba Rp 37,75 triliun per September 2025.
Direktur Finance & Strategy Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa pada sembilan bulan pertama tahun ini, pendapatan bunga bersih bank tumbuh 4,9% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 78,3 triliun. Lalu pendapatan non-bunga naik 7,97% yoy menjadi Rp 33,2 triliun.
Sementara itu, Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11% yoy menjadi Rp 1.764 triliun. Hal tersebut didukung dengan kemampuan perusahaan menjaga kualitas kredit.
Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) Bank Mandiri tercatat 1,03% per triwulan ketiga tahun ini.
Adapun pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) bank tercatat sebesar Rp 1.884 triliun, naik 13% yoy. Komposisi dana murah atau current account savings account (CASA) sebesar 69,3%.
Laba Industri China Tembus Rekor
Laba perusahaan industri besar di China melonjak tajam pada September 2025, mencatat kenaikan 21,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut data Biro Statistik Nasional (NBS) yang dirilis Senin (27/10/2025), peningkatan signifikan ini memperpanjang tren positif yang sudah terlihat sejak Agustus dan menjadi lonjakan tertinggi sejak November 2023, di tengah kampanye pemerintah untuk menekan perang harga dan menjaga stabilitas industri manufaktur.
Kenaikan laba tersebut juga menunjukkan bahwa kebijakan Beijing untuk mengendalikan persaingan harga ekstrem mulai membuahkan hasil, bahkan ketika perekonomian China masih menghadapi tekanan akibat perlambatan global, ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat, serta lemahnya konsumsi domestik.
"Langkah-langkah kebijakan yang diterapkan untuk menekan perang harga di berbagai sektor industri membantu meringankan tekanan pada produsen dan memperbaiki profitabilitas perusahaan," kata Yu Weining, kepala statistik di NBS, dilansir CNBC International.
Laba industri China sebelumnya sudah tumbuh 20,4% pada Agustus dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan kenaikan September ini, dua bulan berturut-turut mencatat rebound kuat setelah hampir setahun tertekan oleh deflasi harga produsen dan permintaan global yang lemah.
Secara kumulatif, laba perusahaan industri besar meningkat 3,2% dalam sembilan bulan pertama 2025, naik dari pertumbuhan 0,9% pada periode Januari-Agustus.
Kinerja positif itu terutama ditopang oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi, yang mencatat lonjakan laba 26,8% pada September. Sementara itu, laba sektor manufaktur secara keseluruhan naik 9,9% pada periode Januari-September, dan perusahaan penyedia listrik, panas, bahan bakar, serta air meningkat 10,3%.
Namun, sektor pertambangan masih tertekan, dengan laba anjlok 29,3% akibat turunnya harga komoditas dan permintaan global yang melemah.
Kenaikan laba ini terjadi meskipun China masih mengalami tekanan deflasi. Pada September, inflasi turun 0,3% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan. Sementara itu, indeks harga produsen terkontraksi 2,3%, memperpanjang tren penurunan harga di tingkat pabrikan yang sudah berlangsung selama tiga tahun berturut-turut.
Meski laba industri menunjukkan pemulihan, ekonomi China secara keseluruhan masih menghadapi tekanan besar. Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga hanya 4,8%, laju paling lambat dalam setahun. Selain itu, investasi aset tetap secara tak terduga turun 0,5% dalam sembilan bulan pertama, penurunan pertama sejak pandemi 2020.
Di sisi ekspor, meski masih relatif tangguh sepanjang tahun ini, pertumbuhan diperkirakan akan melambat pada kuartal keempat.
Adapun dengan data laba industri yang membaik dan output industri tumbuh lebih cepat dari perkiraan naik 6,5% pada September dari tahun sebelumnya, lebih tinggi dari 5,2% pada Agustus, para analis menilai Beijing tidak akan terburu-buru menggelontorkan stimulus ekonomi tambahan.
Thailand dan Kamboja Damai
Kabar baik datang dari para pemimpin Thailand dan Kamboja yang menandatangani kesepakatan gencatan senjata pada Minggu (26/10/2025) di hadapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Thailand dan Kamboja menandatangani deklarasi bersama mengenai kesepakatan damai yang dijuluki 'Kesepakatan Damai KL'. Deklarasi itu menandai langkah untuk penghentian permusuhan dan pemulihan perdamaian di sepanjang perbatasan mereka yang disengketakan.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, di sela-sela KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur.
Deklarasi tersebut menjadi penguat gencatan senjata yang dicapai pada Juli lalu setelah perundingan antara kedua negara. Deklarasi itu juga meresmikan pembentukan Tim Pengamat ASEAN untuk memantau kepatuhan dan mencegah bentrokan baru di zona perbatasan.
Thailand dan Kamboja telah lama berselisih mengenai perbatasan mereka sepanjang 817 kilometer. Ketegangan memuncak hingga konfrontasi militer pada 24 Juli.
Pada 28 Juli, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menjadi tuan rumah pertemuan penting di Putrajaya antara Manet dan Penjabat Perdana Menteri Thailand saat itu, Phumtham Wechayachai. Pertemuan itu berhasil meredakan ketegangan di sepanjang perbatasan bersama kedua negara.
Gencatan senjata, yang secara luas dianggap sebagai pencapaian ASEAN, mencegah eskalasi militer yang lebih luas dan menjamin keselamatan ribuan warga sipil.
Rapat The Fed
Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) mulai menggelar rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa dan Rabu waktu AS dan akan mengumumkan kebijakan suku bunganya pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Investor memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan menurunkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase ke kisaran 3,75% hingga 4%, menurut perangkat FedWatch CME Group, yang memperkirakan perubahan suku bunga berdasarkan data perdagangan berjangka dana acuan. Hal ini akan menandai level terendah suku bunga acuan sejak Desember 2022. The Fed memangkas suku bunga acuan pada bulan September untuk pertama kalinya sejak Desember 2024.
Saat ini, perekonomian AS menghadapi situasi langka di mana inflasi dan pasar tenaga kerja memburuk secara bersamaan, yang menimbulkan dilema bagi The Fed tentang masalah mana yang harus ditangani terlebih dahulu.
Para pejabat berbeda pendapat tentang pendekatan apa yang harus diambil. Beberapa pihak menganjurkan pemotongan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang, sementara pihak lain memandang inflasi sebagai ancaman yang lebih besar dan ingin mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025
CNBC Indonesia hari ini akan menggelar Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025, INDEF mengangkat tema "Resiliensi Ekonomi Domestik Sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia.
Forum ini akan berfokus pada empat isu utama yang meliputi kedaulatan pangan dan energi, hilirisasi industri & UMKM, penguatan SDM & perlindungan sosial, serta reformasi fiskal, moneter, dan stabilitas keuangan.
Rencananya, acara ini akan dihadiri oleh sejumlah aktor penting seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia; Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dan Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Berikut sejumlah agenda ekonomi dalam dan luar negeri pada hari ini:
- Rapat FOMC
Sarasehan 100 Ekonom di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan
Peliputan acara Menteri Lingkungan Hidup dan Gubernur DKI Jakarta di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan
Konferensi pers Kementerian Ketenagakerjaan dalam rangka satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran di kantor Kemnaker, Jakarta Selatan
Future of Work Together: One Nation. One Future. One HP di The Ritz-Carlton Jakarta, Jakarta Selatan. Turut hadir Managing Director HP Indonesia.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)