Pengusaha Transportasi Berharap Libur Sekolah dan Stimulus Kerek Kinerja

Pengusaha Transportasi Berharap Libur Sekolah dan Stimulus Kerek Kinerja

Stimulus transportasi senilai Rp351,9 miliar diharapkan meningkatkan mobilitas selama libur sekolah dan Nataru, meski tantangan biaya operasional dan harga energi tetap ada.

(Bisnis.Com) 28/05/26 10:05 233839

Bisnis.com, JAKARTA — Kucuran stimulus bagi transportasi pada musim libur tahun ini di tengah pelemahan daya beli masyarakat diharapkan dapat menjadi pendongkrak pertumbuhan industri dalam negeri.

Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp190,5 miliar untuk periode libur sekolah dengan target sekitar 3,07 juta penerima manfaat. Sementara untuk periode Nataru 2026/2027 senilai Rp161,4 miliar dengan target sekitar 2,87 juta penerima manfaat.

Dengan demikian, total stimulus transportasi diskon tiket transportasi yang ditujukan untuk kereta api, laut dan penyeberangan, dan udara mencapai Rp351,9 miliar.

Khusus angkutan udara, pemerintah juga memberikan tambahan insentif melalui skema pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP tiket ekonomi domestik senilai Rp472,7 miliar bagi sekitar 2,3 juta penumpang.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga laju konsumsi rumah tangga dan mobilitas domestik setelah pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 mencapai 5,61% secara tahunan, ditopang tingginya aktivitas perjalanan selama periode Lebaran.

Pada periode tersebut, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,04% secara tahunan, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang didorong peningkatan jumlah penumpang di seluruh moda transportasi.

Bahkan, dari total pertumbuhan ekonomi 5,61% pada kuartal I/2026, sekitar 0,38% disumbangkan oleh sektor transportasi dan pergudangan.

Momentum itu kini ingin kembali dijaga pemerintah pada musim liburan pertengahan tahun dan akhir tahun, sekaligus menjadi penopang bagi industri transportasi yang masih menghadapi tekanan biaya operasional dan tingginya harga energi.

Dari sisi industri penerbangan, keyakinan mulai muncul seiring memasuki musim puncak perjalanan. Direktur Utama Pelita Air Dendy Kurniawan mengatakan perseroan optimistis periode Juni hingga Agustus akan ramai oleh permintaan perjalanan libur sekolah.

“Semoga juga harga avtur bisa turun,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (27/5/2026).

Pesawat Pelita Air siap lepas landas
Pesawat Pelita Air siap lepas landas

Senada, Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association Bayu Sutanto menyampaikan bahwa maskapai menyambut positif kebijakan diskon dan PPN DTP.

Menurut Bayu, stimulus tersebut berpotensi meningkatkan permintaan perjalanan selama musim libur sekolah meskipun industri penerbangan masih dibayangi ketidakpastian harga avtur.

Dia memperkirakan kenaikan permintaan perjalanan pada Juni–Juli akan terjadi, walaupun skalanya belum setinggi momentum Lebaran maupun Nataru. Namun, dirinya melihat sebagian masyarakat yang melakukan perjalanan di wilayah Jawa akan lebih memilih transportasi darat termasuk moda rel.

Sektor Perairan

Dari sektor perairan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Khoiri Soetomo melihat kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memahami perlunya mendorong mobilitas masyarakat di tengah tekanan daya beli dan mahalnya biaya perjalanan.

Menurutnya, stimulus akan membantu meningkatkan minat masyarakat bepergian, terutama keluarga yang selama ini menunda perjalanan karena keterbatasan biaya. Namun, keputusan masyarakat tetap dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga, harga bahan bakar, tarif akomodasi, hingga kepastian layanan transportasi yang aman dan lancar.

Adapun, angkutan laut dan penyeberangan diperkirakan meningkat terutama pada lintasan utama seperti Merak–Bakauheni, Ketapang–Gilimanuk, hingga berbagai jalur antarpulau lainnya.

Meski demikian, Khoiri mengingatkan stimulus tarif harus dibarengi kesiapan kapasitas, keselamatan, serta manajemen pelabuhan dan terminal agar lonjakan penumpang tidak berujung pada gangguan layanan.

“Jangan sampai minat masyarakat sudah naik, tetapi pelayanan di lapangan tidak siap,” ujarnya.

Dampak penurunan harga tiket …

SUBSIDI MUSIM RAMAI

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai stimulus transportasi memang cukup berpengaruh terhadap minat masyarakat bepergian, terutama ketika daya beli sedang tertekan.

Menurut dia, penurunan harga tiket akan membuat sebagian masyarakat yang sebelumnya menunda perjalanan akhirnya memutuskan bepergian. Namun, sebagian besar penerima manfaat kemungkinan tetap berasal dari kelompok yang sejak awal memang sudah merencanakan liburan atau mudik.

“Dalam banyak kasus, negara sebenarnya hanya membantu mengurangi biaya perjalanan yang memang sudah akan dilakukan masyarakat,” ujarnya.

Yusuf menilai penempatan insentif pada musim puncak perjalanan membuat dampaknya terhadap mobilitas akan langsung terlihat pada kenaikan jumlah penumpang dan aktivitas wisata.

Terlebih, mobilitas wisatawan akan ikut menggerakkan hotel, restoran, transportasi lokal, pusat oleh-oleh, hingga pelaku usaha mikro di daerah tujuan wisata.

Akan tetapi, pada periode liburan, sensitivitas masyarakat terhadap harga relatif lebih rendah dibandingkan hari biasa. Artinya, tambahan subsidi belum tentu menciptakan perjalanan baru dalam jumlah besar karena masyarakat tetap bepergian meskipun harga tiket lebih mahal.

Dia menilai stimulus justru berpotensi lebih efektif membentuk permintaan baru apabila diberikan pada musim sepi perjalanan.

Dari sisi industri, Yusuf melihat sektor penerbangan menjadi pihak yang paling diuntungkan karena memperoleh stimulus paling lengkap, mulai dari PPN DTP hingga berbagai potongan biaya bandara dan diskon tarif.

Menurutnya, kenaikan jumlah penumpang akan memperbaiki utilisasi armada dan tingkat keterisian kursi atau load factor yang menjadi faktor penting bagi maskapai penerbangan.

“Industri penerbangan itu biaya tetapnya sangat tinggi. Jadi ketika jumlah penumpang naik, utilisasi armada menjadi lebih efisien dan pendapatan operator ikut membaik,” ujarnya.

Meski begitu, dia mengingatkan potensi operator menaikkan tarif dasar ketika permintaan melonjak pada musim puncak. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi manfaat insentif yang seharusnya diterima konsumen.

Namun, dia menegaskan kebijakan diskon tiket tetap bersifat jangka pendek dan belum menyentuh persoalan utama sektor transportasi nasional, terutama tingginya biaya operasional dan ketergantungan industri terhadap harga energi.

“Kalau bicara solusi jangka panjang, yang dibutuhkan bukan hanya diskon tiket, melainkan juga efisiensi logistik dan pembenahan struktur biaya transportasi nasional,” katanya.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai stimulus transportasi memang dapat menjaga aktivitas ekonomi domestik, tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada kualitas pelaksanaan di lapangan.

Menurutnya, terdapat risiko manfaat subsidi justru bocor ke sektor lain apabila kapasitas perjalanan terbatas. Tiket yang lebih murah berpotensi diikuti kenaikan tarif hotel, makanan, transportasi lokal, hingga biaya wisata sehingga manfaat riil bagi rumah tangga menyusut.

“Bila tiket lebih murah tetapi tarif hotel, makanan, transportasi lokal, dan biaya wisata naik tajam, maka manfaat bagi rumah tangga berkurang,” ungkapnya.

Selain itu, lonjakan mobilitas juga dinilai berpotensi memicu kemacetan, keterlambatan perjalanan, hingga penumpukan penumpang yang dapat menurunkan kualitas layanan transportasi selama musim liburan.

Josua juga mengingatkan risiko fiskal apabila mekanisme kompensasi subsidi tidak transparan atau tidak tepat sasaran. Karena itu, dia menyarankan stimulus diarahkan terutama untuk kelas ekonomi dan rute dengan permintaan tinggi yang masih memiliki kapasitas memadai.

Dia menilai pemerintah juga perlu memastikan operator tidak menaikkan tarif dasar sebelum diskon diberlakukan agar subsidi benar-benar menurunkan harga akhir yang dibayar masyarakat.

Secara umum, diskon tiket dapat menopang perjalanan dalam jangka pendek, tetapi efisiensi biaya operasional, stabilitas harga energi, dan kesiapan infrastruktur tetap menjadi faktor penentu keberlanjutan pertumbuhan sektor transportasi nasional.

#transportasi #libur-sekolah #stimulus-transportasi #daya-beli #diskon-tiket #angkutan-udara #ppn-dtp #konsumsi-rumah-tangga #mobilitas-domestik #pertumbuhan-ekonomi #industri-penerbangan #harga-avtur #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260528/98/1976832/pengusaha-transportasi-berharap-libur-sekolah-dan-stimulus-kerek-kinerja