Pramono Ungkap Tantangan yang Picu Hambatan Pertumbuhan Ekonomi 8% di Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkap tantangan ekonomi mencapai 8% akibat gejolak politik, iklim, dan konflik global. Jakarta fokus menjaga pertumbuhan dan inflasi.
(Bisnis.Com) 16/04/26 14:32 193374
Bisnis.com, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengakui sulit untuk mendongkrak ekonomi daerah mencapai 8% yang direncanakan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pramono menjelaskan hal ini tidak lepas dari tantangan berupa gejolak politik dan kondisi iklim yang memengaruhi harga pangan dalam skala daerah sampai nasional.
"Walaupun dalam kondisi sekarang ini tentunya tidak gampang, pasti akan struggling akan berat sekali. Tapi apa pun, Pemerintah DKI Jakarta itu harus mengikuti apa yang menjadi arahan dari pemerintah pusat," katanya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah tahun 2027, di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Pramono mengatakan gejolak konflik antara Amerika-Israel dengan Iran memberikan efek berantai dan belum menemukan titik penyelesaian.
Dia menyebut hal ini memengaruhi harga BBM, supply chain dan berbagai persoalan lainnya. Selain itu, dia menyampaikan keterangan dari BMKG bahwa akan ada El Nino dimulai dengan pertengahan bulan April sampai dengan September.
"Artinya apa? Artinya bahwa dua tekanan ini cepat atau lambat pasti akan mempengaruhi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," ujarnya.
Dia menyampaikan bahwa DKI Jakarta akan berupaya untuk menjaga dan meningkatkan perekonomian daerah. Kata Pramono, hal ini tidak lepas dari kontribusi Jakarta bagi GDP 16,61% dan menilai Jakarta harus menjadi role model bagi daerah-daerah lain.
Dalam kesempatan itu, Pramono menyoroti pertumbuhan ekonomi Jakarta di tahun 2025 mencapai 5,21% dan inflasi terjadi dengan baik berada di angka 2%.
"Maka untuk itu dua hal inilah yang kemudian dalam perencanaan di Musrenbang ini menjadi atensi kita supaya ini kita jaga bersama-sama, pertumbuhan ekonominya harus terjaga, inflasinya harus terjaga. Selama ini TPID kita bersama dengan BI, OJK, dan juga Badan Pusat Statistik yang ada di Jakarta kita selalu menjaga ini," sebutnya.
Pramono menambahkan bahwa investasi di Jakarta menunjukkan kinerja yang kuat dengan capaian hampir Rp270 triliun sepanjang tahun lalu.
Menurutnya, momentum ini akan terus dijaga mengingat investasi menjadi salah satu indikator makro yang krusial, selain pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Di sisi lain, terdapat perkembangan positif pada indikator sosial, di mana tingkat pengangguran dan kemiskinan tercatat mengalami penurunan.
Namun demikian, masih ada persoalan struktural yang belum teratasi, yakni ketimpangan yang tercermin dalam rasio gini yang berada di kisaran 0,41%.
Dia menilai tingginya rasio gini di Jakarta tidak lepas dari Jakarta menjadi pusat perputaran dana signifikan.
"Hampir semua uang-uang besar itu dimiliki oleh orang-orang Jakarta walaupun mungkin tinggalnya ada yang di Surabaya, di Bali, dan sebagainya, tetapi rata-rata mereka menaruh uangnya ataupun distribusinya itu ada di Jakarta," ucapnya.
Meskipun terdapat sejumlah tantangan untuk mendongkrak ekonomi, dia menegaskan bantuan untuk KJP, KJMU, hingga bansos tidak boleh terganggu. Langkah ini sebagai upaya memutuskan garis ketidakberuntungan atau kemiskinan.
"Saya selalu percaya, saya selalu memakai kata-kata garis ketidakberuntungan, maka sekolah itu atau pendidikan menjadi kata kunci. Maka KJP Jakarta, Kartu Jakarta Pintar kita tetap saya minta dipertahankan di angka kurang lebih 707.520 siswa," tandasnya.
#ekonomi-jakarta #pertumbuhan-ekonomi #tantangan-ekonomi #pramono-anung #gejolak-politik #harga-pangan #konflik-amerika-iran #harga-bbm #el-nino #investasi-jakarta #inflasi-jakarta #rasio-gini #ketimpa