Pengamat dorong penguatan implementasi strategi hadapi El Nino
Pengamat mendorong penguatan implementasi strategi pemerintah dalam menghadapi potensi risiko fenomena El Nino terhadap sektor pangan, terutama pada aspek ...
(Antara) 17/04/26 18:39 194915
Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, sementara sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar,
Jakarta (ANTARA) - Pengamat mendorong penguatan implementasi strategi pemerintah dalam menghadapi potensi risiko fenomena El Nino terhadap sektor pangan, terutama pada aspek pengelolaan air dan peningkatan produktivitas pertanian.
Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian mengatakan, dampak El Nino terhadap produksi beras sangat bergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan yang dijalankan pemerintah.
“Dampak El Nino tidak selalu menurunkan produksi secara drastis, tetapi sangat tergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan,” kata Eliza saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Jumat.
Ia menilai langkah pemerintah seperti peningkatan areal tanam, optimalisasi irigasi, dan penyediaan benih tahan kekeringan merupakan upaya mitigasi yang cukup tepat dilakukan untuk menjaga produksi pangan.
Namun demikian, menurut dia, efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi sejumlah keterbatasan struktural di sektor pertanian nasional.
“Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, sementara sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar,” ujarnya.
Eliza menambahkan, adopsi teknologi pertanian dan varietas tahan kekeringan juga masih perlu lebih merata, sehingga kemampuan meningkatkan produktivitas sebagai kompensasi penurunan luas tanam masih terbatas.
Selain itu, skala usaha tani yang relatif kecil dengan dominasi petani gurem dinilai menjadi tantangan dalam percepatan intensifikasi pertanian.
Eliza mencatat secara historis fenomena El Nino menurunkan produksi padi nasional sekitar 1-3 persen dan dapat mencapai 2-5 persen dalam kondisi ekstrem, dengan dampak yang lebih besar di tingkat daerah akibat kekeringan dan puso.
Ia juga menyebut potensi penurunan produksi pada periode Januari-Mei 2026 sekitar 2,22 persen secara tahunan, terutama dipengaruhi penurunan luas panen pada puncak musim panen Maret hingga Mei.
Menurut dia, pola musim yang tidak ideal, yakni curah hujan relatif tinggi pada awal tanam dan menurun pada fase akhir, dapat mengganggu siklus tanam dan panen sehingga sebagian produksi berpotensi bergeser ke periode berikutnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai langkah pemerintah dalam meningkatkan areal tanam, memperkuat irigasi, serta menambah alokasi pupuk dan benih merupakan bagian penting untuk menjaga produksi pangan.
Namun, menurut dia, implementasi di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan strategi tersebut dalam menekan dampak El Nino terhadap produksi dan harga pangan.
“Langkah (mitigasi dampak El Nino) dari pemerintah sudah ada, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada pelaksanaan di lapangan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, potensi gangguan produksi akibat El Nino tetap perlu diantisipasi karena dapat berdampak pada pasokan dan harga beras di pasar.
“Ketika produksi menurun akibat kekeringan, pasokan beras berkurang dan itu berpotensi mendorong kenaikan harga,” tutur Esther.
Menurut dia, penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), distribusi pangan, serta bantuan kepada wilayah terdampak perlu dioptimalkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Esther juga menyoroti sejumlah langkah konkret pemerintah yang menurutnya perlu terus dikawal, antara lain pembangunan 13 bendungan serta rehabilitasi jaringan irigasi seluas lebih dari 412 ribu hektare guna meningkatkan ketersediaan air bagi pertanian.
Selain itu, pemerintah meningkatkan alokasi pupuk bersubsidi dari sekitar 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton untuk mendukung produktivitas, serta melaksanakan percepatan tanam di berbagai wilayah sentra produksi.
“Upaya seperti peningkatan areal tanam dan penguatan irigasi menjadi penting untuk menjaga produksi di tengah risiko perubahan iklim,” ucap dia.
Pengamat juga mengingatkan pentingnya penyesuaian kalender tanam berbasis data iklim serta percepatan pembangunan infrastruktur air guna meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap risiko perubahan iklim.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
#el-nino #pangan #ketahanan-pangan #core #indef #strategi-el-nino