Komdigi Minta Internet Lebih Terjangkau, ATSI: Seluler Sudah Sangat Murah
ATSI menilai internet seluler di Indonesia sudah murah, namun fixed broadband perlu ditinjau. Komdigi minta internet lebih cepat dan terjangkau.
(Bisnis.Com) 29/01/26 20:44 119069
Bisnis.com, JAKARTA— Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) merespons arahan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) agar layanan internet dapat semakin cepat dan terjangkau.
Sekretaris Jenderal ATSI Merza Fachys menilai pernyataan tersebut masih bersifat kesimpulan umum. Menurutnya, layanan internet fixed broadband dan internet seluler perlu dibedakan karena memiliki karakteristik yang berbeda.
“Saya yakin kalau seluler harganya sudah sangat murah,” kata Merza ditemui usai acara Indonesia Digital Outlook 2026: From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Sustainable Digital Future di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Dia meminta agar perbandingan harga dilakukan dengan melihat biaya per gigabyte di negara-negara tetangga, yang menurutnya masih menunjukkan tarif internet seluler di Indonesia relatif lebih murah. Namun demikian, Merza mengakui untuk layanan fixed broadband atau internet rumah, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditinjau lebih lanjut.
Sementara dari sisi kecepatan, dia menyebut tantangan utama terletak pada kondisi geografis Indonesia yang berbeda dengan negara lain.
“Sebut aja sebelah kita [Singapura]. Kalau Jakarta yang dinilai [dibandingkan] saya yakin tidak kalah sama Singapura. Tapi ketika kita bicara Indonesia ditarik rata-rata ya agak beda,” katanya.
ATSI menilai peningkatan kualitas jaringan perlu dilakukan melalui pendekatan yang berbeda antara wilayah perkotaan dan daerah luar kota.
Untuk wilayah rural dan pinggiran kota, Merza mengatakan pihaknya menyarankan perbaikan jaringan difokuskan pada penguatan layanan 4G, sedangkan kawasan perkotaan didorong melalui pengembangan jaringan 5G.
Menurutnya, penguatan 4G di luar kota membutuhkan dua faktor utama, yakni penambahan spektrum frekuensi serta pembangunan backbone jaringan ke daerah-daerah tersebut.
Sementara di wilayah perkotaan, kebutuhan utama berada pada ketersediaan spektrum karena infrastruktur fiber optik relatif sudah tersedia. Adapun di luar kota, penggelaran fiber optik masih menjadi tantangan tersendiri. Selain memerlukan investasi besar, proses pembangunan juga menghadapi kendala teknis, seperti jarak yang panjang dan kompleksitas pekerjaan di lapangan.
Masalah perizinan turut menjadi hambatan, terutama untuk pembangunan jaringan antarkota yang memiliki aturan berbeda-beda di tiap daerah. ATSI, lanjut Merza, telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk menyederhanakan proses perizinan tersebut.
Kendala serupa juga terjadi pada pembangunan jaringan antarwilayah kepulauan yang memerlukan kabel laut.
“Perizinan membangun kabel laut juga masih cukup [tidak mudah] makanya butuh waktu,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid meminta operator seluler agar menghadirkan layanan internet yang lebih cepat dan lebih murah.
Arahan tersebut disampaikan saat Komdigi meresmikan kewajiban registrasi kartu SIM menggunakan biometrik wajah atau face recognition. Selain itu, pemerintah juga membatasi penggunaan satu NIK maksimal tiga nomor per operator, mewajibkan kartu perdana diedarkan dalam kondisi tidak aktif, serta meminta operator menyediakan fasilitas pengecekan nomor dan pemblokiran apabila NIK seseorang digunakan pihak lain.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat tata kelola kartu SIM sekaligus menekan potensi kejahatan digital. Setelah perbaikan tata kelola dilakukan, Komdigi meminta operator seluler meningkatkan kualitas layanan, baik dari sisi kecepatan maupun keterjangkauan harga.
“Kami minta kepada operator seluler terus melakukan lebih banyak lagi, termasuk kecepatan internet. Jadi kan bagus kalau sudah lebih aman, internetnya tolong lebih dipercepat, ini juga masukan dari publik. Dan yang terakhir, harganya juga tolong tidak mahal-mahal ya,” kata Meutya dalam peluncuran Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital tentang Registrasi Biometrik: SEMANTIK (SEnyum, aMAN dengan BimoeTrik) di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, Meutya juga mengungkapkan target peningkatan kecepatan internet nasional. Rata-rata kecepatan mobile broadband pada 2025 tercatat sebesar 63,51 Mbps. Pada 2026, Komdigi menargetkan kecepatan tersebut meningkat menjadi 80 Mbps, lebih cepat dari target awal dalam RPJMN yang sebelumnya dipatok pada 2028.
Adapun rata-rata kecepatan fixed broadband di seluruh ibu kota provinsi pada 2025 telah mencapai 51,84 Mbps dan akan didorong menjadi 64 Mbps pada 2026, lebih cepat dari target RPJMN yang seharusnya tercapai pada 2027.
“Kami insyaallah dengan tim dan dorongan masukan dari Komisi I kami akan dorong untuk tahun 2026 [meningkat],” kata Meutya dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI pada Senin (26/1/2026).
#internet-murah #internet-cepat #internet-seluler #internet-fixed-broadband #harga-internet-indonesia #kecepatan-internet-indonesia #jaringan-4g #jaringan-5g #spektrum-frekuensi #fiber-optik #perizinan