Menengok Listrik Hijau dari Perut Bumi Tomohon Sulut
Selain berperan dalam penyediaan listrik, PLTP Lahendong juga berkontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon.
(Bisnis.Com) 31/10/25 03:15 22252
Bisnis.com, TOMOHON — Di permukaan, udara Kota Tomohon terasa sejuk meski matahari terik. Siapa sangka, jauh di dalam perut bumi, sumber panasnya dapat menerangi sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dengan listrik hijau.
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong unit 1-4 yang dioperasikan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu menjadi satu-satunya PLTP yang berdiri di wilayah kota madya, sementara pembangkit lain umumnya berlokasi di kabupaten atau perdesaan.
Manager Unit Layanan Pusat Listrik PLTP Lahendong PT PLN Indonesia Power Herbert S.M Saragih mengatakan posisinya yang dekat dengan permukiman kota tidak mengurangi keandalan dan keamanan operasi pembangkit tersebut.
“Untuk Tomohon sangat unik juga dibanding yang lain, karena pembangkit panas bumi yang ada di kota madya. Jadi di seluruh Indonesia yang milik PLN maupun swasta itu, pembangkit PLTP tidak ada yang di kota madya, semua ada di kabupaten, kecamatan, atau desa,” ujar Herbert saat ditemui di kantornya, Rabu (29/10/2025).
Adapun, PLTP Lahendong memiliki daya terpasang 4 x 20 MW, atau total 80 MW. Lokasinya berada di Kecamatan Tomohon Selatan, tepatnya di Kelurahan Tondangow untuk Unit 1–2, dan Kelurahan Pangolindian untuk Unit 3–4, dengan jarak antarunit sekitar lima kilometer.
Eksplorasi sumber panas bumi di Lahendong dimulai sejak 1994–1996 oleh VGI. Pembangunan Unit 1 berlangsung pada 1999–2001, dan resmi beroperasi pada 2001. Hingga kini, unit pertama tersebut telah beroperasi selama 25 tahun dengan kondisi optimal.
“Unit 1 masih maksimal, tidak ada penurunan daya mampu, masih bisa full load 20 MW,” jelasnya.
Sementara itu, unit 2 mulai beroperasi pada 2007, disusul Unit 3 pada 2009, dan Unit 4 pada 2011. Keempat unit tersebut hingga saat ini masih mampu beroperasi dengan kapasitas penuh. “Sampai saat ini kita masih bisa mengimplementasikan sistem full load sebesar 80 MW.
Selain berperan dalam penyediaan listrik, PLTP Lahendong juga berkontribusi besar terhadap pengurangan emisi karbon. Pembangkit ini telah tersertifikasi Renewable Energy Certificate (REC) dan menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan wilayah Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara.
“BPP Lahendong sudah sangat berperan ya, di kontribusi penurunan emisi. Artinya Lahendong tersertifikasi REC, dan juga sangat mendukung sistem kelistrikan wilayah Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara,” ungkapnya.
Dalam operasionalnya, uap panas bumi (steam) disediakan oleh Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong, sementara pengelolaan pembangkit dilakukan oleh Indonesia Power – BPP Lahendong, dan penyalurannya melalui UP2B Minahasa.
Sumur panas bumi Lahendong memiliki kedalaman antara 1.600–1.800 meter dengan temperatur mencapai 290–300°C. Kedalaman ini memastikan sumber panas tidak terpengaruh oleh air permukaan.
“Masalah air permukaan itu hanya kedalaman beberapa meter saja. Jadi kalau sudah 1.600 meter, itu tidak memengaruhi air permukaan. Jadi murni air yang kita ambil itu adalah panas bumi dari magma,” jelasnya.
Kondisi tersebut juga menjamin keberlanjutan lingkungan di sekitar area pembangkit. “Di sekitar kita ini ada persawahan juga, dan sampai sekarang sawahnya masih berproduksi. Sudah lebih dari 25 tahun PLTP Lahendong beroperasi dan tetap berkolaborasi dengan masyarakat sekitar,” ujarnya.
PLTP Lahendong juga memiliki beberapa sumur produksi seperti 13B, 15, 27, dan 9. Sumur-sumur ini ditempatkan terpisah untuk menjaga keandalan pasokan. Dari sisi kinerja, kesiapan pembangkit atau Availability Index (AI) PLTP Lahendong tetap tinggi.
“Apabila satu sumur mengalami penurunan tekanan atau volume steam, itu bisa disuplai dari sumur lain, sehingga PLTP Lahendong tidak akan terganggu operasinya,” tuturnya.
PLN Indonesia Power juga menghadapi tantangan...
Tantangan Operasional Pembangkit Listrik Panas Bumi
Selain menjaga keandalan sistem eksisting, PLN Indonesia Power juga menghadapi tantangan dalam biaya pokok produksi (BPP) dan rencana pengembangan unit baru berbasis teknologi binary.
Terkait dengan peningkatan BPP, PLN menjelaskan bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh naiknya harga uap (steam) setiap tahun dan kegiatan pemeliharaan besar (major overhaul).

“Kalau BPP itu biaya pokok produksi, kenapa naik — salah satu penyebabnya harga dari steam-nya itu setiap tahun ada penaikan. Dan itu juga bisa dipengaruhi dari kegiatan pemeliharaan yang dilakukan. Ketika ada pemeliharaan produk dalam skala besar atau bisa disebut major overhaul, itu akan menyebabkan BPP-nya naik,” terangnya.
Harga uap tersebut berasal dari kontrak kerja sama dengan Pertamina Geothermal Energy (PGE). “Kontrak jual-beli kami dengan PGE untuk steam-nya, dan harga uapnya itu memang ada kenaikan setiap tahun,” ujarnya.
Sementara itu, dari sisi daya, kapasitas terpasang 80 MW di Lahendong mampu memasok kebutuhan listrik dua kabupaten di sistem Sulutgo.
“Untuk 80 MW itu kalau ditanya setara berapa rumah, ya, kira-kira bisa sampai dua kabupaten. Karena untuk sistem Sulutgo dari Kota Bitung sampai Gorontalo, beban puncaknya itu kurang lebih sekarang 490 MW. Nah, 80 MW-nya dipasok oleh Lahendong,” katanya.
Proyek Pengembangan
Sebagai gambaran, PT PLN Indonesia Power (PLN IP) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) telah membentuk konsorsium untuk mempercepat pengembangan energi panas bumi (geothermal) yang masuk dalam proyek co-generation.
Dalam catatan Bisnis, potensi kapasitas setrum panas bumi dari proyek co-generation ini disebut sebesar 230 megawatt (MW). Adapun, pada tahap awal ini PGEO bersama dengan PLN IP bakal mengejar operasi komersial pada kapasitas 45 MW.
Kapasitas awal co-generation itu berasal dari pengembangan PLTP Lahendong Binary Unit (15 MW) dan PLTP Ulubelu Binary Unit 30 MW, dengan nilai investasi mencapai US$165 juta.
“Informasi yang saya terima, sekarang sudah mulai masuk tahap pembangunan sipil. Untuk perkembangannya lebih lanjut, mungkin saya belum tahu pasti,” imbuhnya.
PLTP Binary ini menggunakan sistem berbeda dari PLTP konvensional. Jika PLTP utama menggunakan uap bertekanan tinggi langsung untuk memutar turbin, sistem binary justru memanfaatkan uap bertekanan rendah yang tidak terakomodir di unit eksisting.
“Kalau binary unit itu sistemnya berbeda. Dia memanfaatkan steam yang tidak bisa terakomodir oleh sistem yang ada sekarang, karena tekanannya tidak mencapai target yang kita inginkan. Kalau saat ini pressure kita di 7,5 bar, ada beberapa sumur yang hanya 5 bar atau di bawah 5,” jelasnya.
Untuk memanfaatkan uap tersebut, sistem binary menggunakan media cairan atau working fluid yang dipanaskan oleh uap panas bumi, lalu cairan itu menggerakkan turbin secara tidak langsung.
“Jadi, tidak langsung dari steam-nya memutar turbin seperti sistem PLTP konvensional yang kita miliki sekarang. Ada proses perantara terlebih dahulu. Kapasitasnya pun lebih kecil dibanding yang ada sekarang,” tuturnya.
#pltp-lahendong #listrik-hijau #sulut #pembangkit-listrik-panas-bumi #pltp #geothermal #pln #pgeo #pertamina-geothermal #listrik-pln