Semarak Obligasi 2026, 32 Emiten Berebut Dana di Tengah Risiko Geopolitik

Semarak Obligasi 2026, 32 Emiten Berebut Dana di Tengah Risiko Geopolitik

Pasar modal Indonesia dibanjiri obligasi korporasi senilai Rp52,44 triliun pada awal 2026, meski risiko geopolitik dan depresiasi rupiah mengancam.

(Bisnis.Com) 16/04/26 10:37 193010

Bisnis.com, JAKARTA – Penerbitan obligasi korporasi telah membanjiri pasar modal Tanah Air sepanjang periode Januari—Maret 2026. Kini, daya serap pasar menjadi ujian selanjutnya selepas triliunan surat utang beredar di masyarakat.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sepanjang tahun berjalan 2026, telah tercatat 48 emisi obligasi dan sukuk dari 32 emiten, dengan total nilai emisi mencapai Rp52,44 triliun. Realisasi ini cenderung mengalami kenaikan dibandingkan akhir Maret 2025 dengan 33 emisi dari 24 emiten dan nilai emisi hanya mencapai Rp45,56 triliun.

Sementara PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total penerbitan surat utang sepanjang kuartal I/2026 mencapai Rp59,35 triliun, tumbuh 26,97% YoY dibandingkan Rp46,8 triliun pada Januari—Maret 2025.

Dari segi tujuan, penerbitan surat utang pada periode Januari—Maret 2026 didominasi oleh kebutuhan modal kerja sebesar Rp30,91 triliun. Realisasi ini berbeda dibandingkan Rp19,40 triliun untuk kebutuhan modal kerja pada Januari—Maret 2025.

Sementara kebutuhan refinancing kini hanya sebesar Rp12,85 triliun, turun dari Rp25,05 triliun pada periode yang sama 2025. Sisanya, kebutuhan investasi juga meningkat menjadi Rp15,60 triliun pada tahun ini, dibandingkan Rp2,28 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

PT Eagle High Plantations Tbk. (BWPT) menjadi salah satu emiten yang menerbitkan obligasi pada periode ini. Membuka penawaran terhadap Obligasi Berkelanjutan I Eagle High Plantations Tahap IV Tahun 2026, BWPT mengincar Rp98,06 miliar dari penerbitan surat utang ini.

Manajemen dalam keterangan resminya, menerangkan penerbitan obligasi ini sebagai bagian dari PUB Obligasi Berkelanjutan I Eagle High Plantations dengan target mencapai Rp400 miliar. Nantinya dana yang terkumpul akan digunakan perseroan sebagai modal kerja.

”Seluruh dana yang diperoleh dari hasil Penawaran Umum Obligasi, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi terkait, akan digunakan Perseroan untuk modal kerja Perseroan antara lain pembelian persediaan seperti tandan buah segar dan minyak kelapa sawit, biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan seperti pupuk, energi dan bahan bakar, serta biaya overhead,” tulis manajemen dalam prospektus, dikutip Rabu (15/4/2026).

Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto, menilai semaraknya penerbitan surat utang korporasi, sejalan dengan jatuh tempo surat utang korporasi pada tahun ini. Nilai jatuh tempo pada periode Mei—Desember 2026 diprediksi mencapai Rp124,12 triliun.

Hal itu pula yang dinilai membuat penyerapan terhadap penerbitan baru surat utang korporasi cenderung solid. Di tengah kondisi risk-off pasar modal, investor dinilai masih memiliki ketertarikan untuk mengamankan posisi dalam investasi.

Terlebih, dalam kondisi pasar saham yang cenderung lesu, investor dinilai bakal memilih surat utang korporasi lantaran mampu memberikan daya tarik yang lebih baik ketimbang instrumen lainnya.

”Dari sisi faktor peluang, kami melihat permintaan investor masih kuat karena di kondisi saat ini, investor justru mencari return yang lebih tinggi di pasar alternatif, termasuk di pasar surat utang korporasi itu sendiri,” katanya dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).

Semaraknya penerbitan surat utang korporasi ini bahkan diprediksi terjadi hingga akhir tahun. Terlebih pada kuartal II dan III tahun ini, besaran surat utang jatuh tempo masih cukup besar sehingga aksi refinancing memiliki peluang besar untuk terjadi.

Pefindo sendiri menargetkan penerbitan surat utang korporasi berada pada level Rp154—196,86 triliun, dengan titik tengah pada Rp175,77 triliun.

Meskipun begitu, risiko geopolitik tetap dipertimbangkan sebagai salah satu sentimen yang menghalangi pencapaian target ini. Menurutnya, perang yang berkecamuk di Iran, berisiko membuat pasar lebih fluktuatif dan meningkatkan imbal hasil. Dengan begitu, biaya pendanaan berisiko membengkak lewat penerbitan surat utang.

Belum lagi, nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi mencapai lebih dari Rp17.000 per dolar AS hingga hari ini menjadi risiko lainnya dari pencapaian target tersebut.

”Dari sisi depresiasi nilai tukar juga menjadi faktor negatif bagi yield karena jika depresiasi nilai tukar terus berlanjut, maka transmisi terhadap imported inflation juga bisa terjadi, yang mana kalau inflasinya meningkat, biasanya yield-nya juga akan terdorong naik,” katanya.

Suhindarto menilai, sektor multifinance masih akan menjadi industri yang paling banyak menerbitkan surat utang korporasi. Secara historis, sektor ini memang menjadi penerbit surat utang terbesar lantaran karakteristik industri yang mencari alternatif pendanaan melalui surat utang.

”Di tahun 2026 kami masih melihat sebenarnya confidence dari bisnis untuk menerbitkan [surat utang] masih belum sampai pada tahap yang akhirnya membuat mereka wait and see. Justru dengan kondisi seperti saat ini mereka akan mencoba untuk meningkatkan penerbitan, sebelum akhirnya mungkin yield-nya akan terdorong naik ke depan,” katanya.

Di satu sisi, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai semaraknya penerbitan surat utang korporasi masih akan berlanjut pada tahun ini.

Semaraknya penerbitan surat utang korporasi disebut datang dari kebutuhan swasta untuk mendapatkan pendanaan. Terlebih, di tengah kebutuhan industri yang diklaim masih bertumbuh.

”Menurut saya akan ada pengaruhnya [perang Iran], tapi tidak signifikan. Karena jatuh tempo juga banyak dan kebutuhan industri sendiri juga cukup besar. Hanya konsekuensinya ke cost of fund,” katanya, Rabu (15/4/2026).

Sementara itu, prospek penyerapan surat utang korporasi anyar ini juga diprediksi masih solid. Hal itu tampak dari banyaknya surat utang korporasi yang jatuh tempo pada periode yang sama, sehingga mendorong aksi refinancing terjadi.

Hanya saja, penerbitan surat utang kali ini diprediksi akan membutuhkan cost of fund yang tinggi. Hal itu lantaran kondisi yield acuan SBN telah melemah sejalan dengan sentimen risk off pasar keuangan global.

”Cuma memang yieldnya kalau kita bandingkan awal tahun atau akhir tahun 2025, kondisi yield kita kan melemah. Pasar pastinya mengekspektasikan return sesuai kondisi pasar,” katanya.

Di satu sisi, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Fudji Rahardjo, menilai dampak ketegangan geopolitik di Iran terhadap pasar obligasi Tanah Air akan sangat bergantung pada durasi konflik.

Dengan begitu, jika konflik berkepanjangan, Fudji menilai target penerbitan obligasi korporasi oleh Pefindo berisiko tidak terealisasi. Hal itu lantaran kecenderungan bank sentral untuk menaikkan suku bunga, alih-alih memangkasnya.

"Jika konflik berkepanjangan, skenarionya menjadi lebih berat. Penerbitan bisa turun ke Rp120-Rp150 triliun, di bawah nilai jatuh tempo. Artinya, pasar obligasi korporasi diproyeksikan mengalami kontraksi neto," katanya beberapa waktu lalu kepada Bisnis.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#obligasi-korporasi #pasar-modal #daya-serap-pasar #penerbitan-obligasi #surat-utang #emisi-obligasi #sukuk #modal-kerja #refinancing #investasi #obligasi-berkelanjutan #penawaran-umum-obligasi #pasar

https://market.bisnis.com/read/20260416/92/1967028/semarak-obligasi-2026-32-emiten-berebut-dana-di-tengah-risiko-geopolitik