Belajar dari Kasus Gagal Bayar, Asuransi Jiwa Lebih Hati-Hati Tempatkan Investasi

Belajar dari Kasus Gagal Bayar, Asuransi Jiwa Lebih Hati-Hati Tempatkan Investasi

Industri asuransi jiwa belajar dari kasus gagal bayar dengan lebih hati-hati menempatkan investasi, meningkatkan hasil investasi 103,1% YoY pada 2025.

(Bisnis.Com) 23/03/26 12:08 171080

Bisnis.com, JAKARTA — Sejarah kasus gagal bayar di industri asuransi jiwa yang sempat menggerus kepercayaan publik akibat buruknya pengelolaan investasi dinilai menjadi pelajaran penting bagi pelaku industri untuk berbenah.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Asuransi dan Dosen Program MM- Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Kapler Marpaung kala menanggapi hasil investasi industri yang meningkat signifikan sebesar 103,1% (year on year/YoY) sepanjang 2025.

“Ini menjadi pelajaran berharga, membuat teman-teman di asuransi jiwa semakinprudentdalam menempatkan investasinya. Ini memang luar biasa hasil investasi tahun 2025 meningkat 103,1% dibandingkan tahun 2024. Di sisi lain modal investasi hanya meningkat 9% lebih,” ungkapnya kepadaBisnis, dikutip pada Senin (23/3/2026).

Adapun, Kapler berpendapat kenaikan hasil investasi 103,1% YoY tersebut dipengaruhi oleh dua faktor.Pertama, adanya kenaikan modal investasi dari Rp513,7 triliun pada 2024, menjadi Rp590,54 triliun pada 2025.Kedua, manajemen investasi semakin baik dan hati-hati dalam mengelola portofolio investasi.

Lebih lanjut, dia menilai industri asuransi jiwa tetap perlu mempertahankan penempatan dana investasinya di Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini karena instrumen tersebut memiliki risiko investasi terkecil dibandingkan dengan jenis investasi lainnya.

Selain itu, imbuhnya, saat ini juga portofolio investasi asuransi jiwa terbesar masih berada di SBN dan diikuti oleh instrumen saham.

“Namun, investasi di saham dalam pasar atau indeks yang sangat fluktuatif khususnya geopolitik luar negeri yang memanas, perluekstrahati-hati. Terlebih, hubungan Amerika-Iran tentu akan banyak memengaruhi pasar modal Indonesia,” tegas Kapler.

Kapler menambahkan, emiten yang kerap menjadi pertimbangan bagi industri asuransi jiwa adalah industriArtificial Intelligence(AI), energi terbarukan, pertambangan khususnya nikel dan emas, keuangan dan perbankan, infrastruktur, farmasi dan kesehatan, properti, hingga barang konsumsi. “Tetapi ini pun perlu kajian ulang pascapolitik di luar negeri yang tidak kondusif saat ini,” sebutnya.

Oleh karena itu, Kapler menyarankan agar industri asuransi jiwa lebih mengoptimalkan diversifikasi portofolio investasi. Meskipun sebenarnya pada 2025 dia menilai diversifikasinya sudah baik.

“Ya, menurut saya target investasi tahun 2026 lebih kepada keamanan hasil investasi, bukan fokus kepada hasil investasi yang tinggi. Karena jangan lupahigh return high risk,” ucapnya.

Lebih jauh, dia turut mengingatkan bahwa pendapatan utama asuransi jiwa seharusnya adalah hasilunderwritingatau laba, bukan karena kenaikan hasil investasi.

“Belum lagi kalau kita masuk lebih dalam berapa persenrasioantara modal sendiri dengan cadangan premi dan klaim terhadap jumlah investasi. Kan tidak semua juga modal investasi asuransi jiwa itu merupakan ekuitas murninya,” tutupnya.

Untuk diketahui, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hasil investasi di industri asuransi jiwa sepanjang 2025 naik signifikan sebesar 103,1% YoY.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo menyebut hasil positif kinerja investasi itu membuat total pendapatan industri asuransi jiwa ikut terdorong naik, sehingga menjadi Rp238,71 triliun.

“Jadi, sampai dengan Desember tahun lalu, hasil investasi industri mengalami kenaikan 103,1% jika dibandingkan dengan tahun 2024 menjadi Rp47,32 triliun,” ucapnya dalam konferensi pers AAJI di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Marketing & Komunikasi AAJI Harsya Wardhana Prasetyo menyampaikan industri asuransi jiwa mengelola 88,5% asetnya ke dalam bentuk investasi.

Dia mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 total aset investasi industri asuransi jiwa tercatat sebesar Rp590,54 triliun atau naik 9% YoY. Bila ditelaah, instrumen investasi yang mengalami peningkatan signifikan adalah Surat Berharga Negara (SBN) yang tumbuh 20,9% menjadi Rp248,25 triliun.

#asuransi-jiwa #gagal-bayar #investasi-asuransi #pengelolaan-investasi #hasil-investasi #investasi-2025 #surat-berharga-negara #risiko-investasi #diversifikasi-portofolio #investasi-saham #pasar-modal #n-a

https://finansial.bisnis.com/read/20260323/215/1961862/belajar-dari-kasus-gagal-bayar-asuransi-jiwa-lebih-hati-hati-tempatkan-investasi