Jurus Jitu Dongkrak Premi Asuransi Jiwa 2026, dari Optimalisasi Kanal hingga Segmentasi Pasar

Jurus Jitu Dongkrak Premi Asuransi Jiwa 2026, dari Optimalisasi Kanal hingga Segmentasi Pasar

Perusahaan asuransi jiwa perlu diversifikasi produk, optimalisasi distribusi, dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan premi 2026. Fokus pada segmen pasar spesifik dan jaga kepercayaan nasabah.

(Bisnis.Com) 11/03/26 17:40 162161

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan asuransi jiwa didorong untuk melakukan diversifikasi produk, optimalisasi kanal distribusi, hingga pemanfaatan data dan teknologi untuk terus dapat mendongkrak pendapatan premi pada 2026.

Pengamat asuransi Dedi Kristianto menilai diversifikasi produk perlu dilakukan, terutama dalam memperkuat produk proteksi murni seperti term life dan kesehatan, supaya tidak terlalu bergantung pada unit-linked.

Sementara itu, optimalisasi kanal distribusi baik melalui bancassurance, agen, atau platform digital juga dia nilai menjadi kunci perusahaan asuransi jiwa supaya jangkauan pasar semakin luas.

“Perusahaan juga perlu melakukan segmentasi pasar yang lebih spesifik, misalnya menyasar keluarga muda, pekerja profesional, hingga segmen UMKM dengan produk yang sesuai kebutuhan mereka,” katanya kepada Bisnis, Rabu (11/3/2026).

Dia juga mengingatkan perusahaan perlu tetap menjaga persistency polis melalui layanan yang baik. Kemudian, hubungan jangka panjang dengan nasabah juga penting untuk mempertahankan pendapatan premi.

“Selain itu, pemanfaatan data dan teknologi untuk pemasaran yang lebih tepat sasaran serta underwriting yang lebih akurat juga akan menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan premi ke depan,” ucap Dedi.

Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai premi industri asuransi jiwa pada Januari 2026 turun sebesar 6,15% (year on year/YoY) menjadi Rp17,97 triliun. Menurut Dedi, penurunan ini dipengaruhi oleh melambatnya penjualan produk unit-linked, setelah adanya pengetatan regulasi dan peningkatan kehati-hatian industri.

Selain itu, lanjutnya, kinerja bancassurance juga terlihat belum pulih sepenuhnya karena ada penyesuaian strategi distribusi oleh bank dan perusahaan asuransi. Kemudian, di sisi lain daya beli masyarakat masih tertekan, sehingga sebagian konsumen menunda pembelian produk proteksi jangka panjang.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa industri asuransi jiwa saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dan penyesuaian model bisnis menuju tata kelola produk yang lebih kuat,” sebutnya.

Lebih jauh, dia menilai menurunnya minat terhadap produk unit-linked, persaingan distribusi yang semakin ketat, serta tuntutan regulasi dan tata kelola produk yang lebih kuat menjadi tantangan lain yang akan dihadapi industri asuransi jiwa pada 2026.

Sementara itu, pengamat asuransi sekaligus dosen asuransi syariah UIN Banten Wahju Rohmanti menilai tantangan industri asuransi jiwa adalah berkenaan kepercayaan.

“Asuransi adalah bisnis kepercayaan dan testimoni, sehingga jika kepercayaan belum balik akan sulit menjual asuransi. Kedua adalah harus bisa bikin produk yang simple, lebih fleksibel jangka waktunya dan mudah transaksinya,” katanya.

Oleh karena itu, Wahju menilai kontraksi premi industri asuransi jiwa 6,15% YoY disebabkan oleh kepercayaan masyarakat yang belum sepenuhnya pulih karena penanganan sejumlah kasus di perusahaan asuransi jiwa

“Kemudian, masyarakat masih concern dengan ikut BPJS [Kesehatan] saja, yang kita ketahui bersama keanggotaan BPJS menjadi salah satu syarat masyarakat mengurus dokumen-dokumen penting,” tuturnya.

Sebab itu, dia mendorong perusahaan asuransi jiwa untuk bersinergi dengan lini bisnis lain. Misalnya menciptakan produk asuransi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda saat ini.

“Karena yang berpotensi membeli asuransi adalah mereka. Asuransi jiwa harusnya bisa mendorong dan meng-influence anak-anak muda untuk menjadikan ‘punya asuransi’ adalah lifestyle yang keren. Hal ini seiring dengan pergeseran anak-anak muda yang sekarang lebih melek risiko dan juga menjaga kesehatan,” ujar Wahju.

#asuransi-jiwa #diversifikasi-produk #optimalisasi-kanal-distribusi #pemanfaatan-data-teknologi #segmentasi-pasar #term-life #bancassurance #platform-digital #persistency-polis #hubungan-jangka-panjang

https://finansial.bisnis.com/read/20260311/215/1959640/jurus-jitu-dongkrak-premi-asuransi-jiwa-2026-dari-optimalisasi-kanal-hingga-segmentasi-pasar