Produksi Nikel RI Terancam Jika Pasokan Sulfur Timur Tengah Terganggu
Produksi nikel Indonesia terancam jika pasokan sulfur dari Timur Tengah terganggu akibat konflik geopolitik. Diversifikasi sumber sulfur diperlukan untuk menjaga stabilitas produksi.
(Bisnis.Com) 09/03/26 17:20 159443
Bisnis.com, JAKARTA — Industri nikel Indonesia didorong untuk segera mendiversifikasi sumber pasokan sulfur guna mengurangi ketergantungan pada impor dari Timur Tengah di tengah meningkatnya risiko gangguan rantai pasok akibat konflik geopolitik di kawasan tersebut.
Dewan Penasehat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli mengatakan hampir seluruh smelter dan refinery nikel menggunakan sulfur sebagai salah satu bahan pendukung utama dalam proses produksi.
“Kelangkaan sulfur akan mempengaruhi tingkat produksi nikel pada akhirnya,” kata Rizal kepada Bisnis, Senin (9/3/2026).
Dia menilai industri smelter perlu mulai mengurangi ketergantungan pada satu wilayah pemasok untuk menjaga keberlanjutan operasi industri pengolahan nikel. Diversifikasi sumber pasokan dinilai penting agar gangguan geopolitik tidak langsung memukul rantai produksi.
“Sehingga apabila terjadi ketegangan tensi geopolitik seperti peperangan di Timur Tengah atau lainnya tidak akan menghambat proses produksi nikel,” ujarnya.
Menurut Rizal, ketidakpastian durasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga menambah risiko bagi stabilitas rantai pasok global, termasuk bahan baku industri pengolahan logam.
“Iran terkenal akan daya tahan perangnya dan bisa berlangsung dalam hitungan tahunan,” katanya.
Di menjelaskan bahwa sebagian besar sulfur dari kawasan Timur Tengah berasal dari produk sampingan proses pengolahan gas alam. Bahan tersebut kemudian diproses lebih lanjut menjadi sulfur dan diekspor ke berbagai negara yang membutuhkan, termasuk Indonesia.
“Sulfur yang berasal dari Timur Tengah umumnya bersumber dari by-product dari proses pengolahan gas alam yang diproses lebih lanjut menjadi sulfur,” ujarnya.
Meski demikian, Rizal menilai pasokan sulfur dunia tidak hanya berasal dari Timur Tengah. Sejumlah negara lain juga memiliki produksi sulfur yang dapat menjadi alternatif sumber pasokan bagi industri di dalam negeri.
Pemerintah bersama pelaku industri dinilai perlu segera mencari pemasok alternatif dari negara yang relatif stabil secara geopolitik untuk mengamankan kebutuhan bahan baku.
Untuk diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor sulfur Indonesia dengan kode HS 25030000 mencapai nilai US$1,60 miliar dengan volume sekitar 5,34 miliar kilogram sepanjang 2025.
Dari total impor tersebut, negara-negara Timur Tengah menjadi pemasok utama. Arab Saudi tercatat sebagai sumber terbesar dengan nilai impor mencapai US$532,8 juta dan volume sekitar 1,75 miliar kilogram.
Selain Arab Saudi, Indonesia juga mengimpor sulfur dari Uni Emirat Arab senilai US$237,46 juta dengan volume sekitar 894 juta kilogram serta dari Qatar senilai US$303,3 juta. Impor juga berasal dari Kuwait sebesar US$102 juta dengan volume 365 juta kilogram dan Oman senilai US$7,62 juta dengan volume sekitar 39 juta kilogram.
Di luar kawasan Timur Tengah, Indonesia juga mengimpor sulfur dari beberapa negara lain meskipun dengan nilai yang jauh lebih kecil. Impor dari China tercatat mencapai US$12,9 juta dengan volume sekitar 42 juta kilogram pada 2025.
Sementara itu, impor sulfur dari Singapura mencapai US$36,13 juta dengan volume sekitar 115 juta kilogram sepanjang tahun yang sama. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat pemasok alternatif, pasokan sulfur Indonesia masih didominasi oleh negara-negara Timur Tengah.
#produksi-nikel #pasokan-sulfur #sulfur-timur-tengah #industri-nikel-indonesia #diversifikasi-pasokan-sulfur #ketergantungan-impor-sulfur #gangguan-rantai-pasok #konflik-geopolitik-timur-tengah #smelte