Pembelian Emas Naik, Ekonom Sumsel Beberkan Dampaknya
Lonjakan pembelian emas di Sumsel memicu kekhawatiran ekonomi. Emas jadi investasi populer, tapi bisa mengurangi likuiditas dan menekan sektor produktif.
(Bisnis.Com) 30/01/26 14:53 119856
Bisnis.com, PALEMBANG— Lonjakan harga emas yang diikuti peningkatan permintaan masyarakat, memunculkan kekhawatiran terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi domestik.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengatakan emas merupakan salah satu alternatif investasi yang menarik bagi masyarakat. Menurutnya, ketika harga emas mengalami kenaikan, kecenderungan masyarakat untuk mengalihkan investasinya ke emas juga semakin besar.
“Iya, ketika naik orang pasti secara rasional akan beralih beli emas,” katanya, Jumat (30/1/2026).
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel Rahmadi Murwanto menilai meningkatnya minat masyarakat terhadap emas perlu menjadi perhatian.
Pasalnya, emas yang dibeli dan disimpan di rumah dapat mengurangi peredaran uang di masyarakat.
“Kalau emas hanya disimpan di lemari, uangnya berhenti,” kata dia.
Menurut Rahmadi, penyimpanan emas di lembaga perbankan akan lebih bermanfaat karena dapat mendukung pembiayaan sektor produktif.
“Masih bagus kalau emasnya disimpan di bank emas. Atau kalau masyarakat nggak mau menggunakan, taruh saja di lembaga pihak ketiga yang bisa menyalurkan, sehingga likuiditas akan meningkat dan berpotensi menekan suku bunga pinjaman,” jelasnya.
Senada, Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri) Sukanto mengungkapkan bahwa sejak 2015 hingga awal 2026 harga emas telah melonjak lebih dari 400%. Bahkan, kenaikan tersebut berpotensi mencapai 600% apabila harga menembus Rp3 juta per gram.
Lonjakan harga emas, kata dia, mendorong perilaku spekulatif di tengah masyarakat, dengan anggapan bahwa menabung emas lebih menguntungkan dibandingkan instrumen investasi lainnya.
Kondisi ini diperparah oleh dominasi pembeli emas dari kelompok menengah ke atas yang selama ini menjadi motor utama konsumsi.
“Dengan peralihan itu sektor produktif relatif abai, sedangkan yang menjadi penopang sektor produktif itu banyak. Secara jangka menengah tidak berkembangnya sektor itu bisa berdampak ke kondisi lain seperti penyerapan tenaga kerja hingga tekanan pada pertumbuhan ekonomi,” tuturnya.
Sukanto juga menilai tren tersebut berpotensi menekan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Penurunan tabungan dan deposito akan mempersempit likuiditas, sehingga kemampuan bank dalam menyalurkan kredit ikut menurun.
“Dalam jangka panjang kalau dana di bank seret, kredit juga seret. Bunganya bisa naik, investasi makin serak, itu kaitannya,” jelas Sukanto.
Dia memandang salah satu langkah untuk mengantisipasi dampak negatif meningkatnya pembelian emas adalah dengan mengoptimalkan skema bank emas atau bullion bank. Dengan skema tersebut, emas tetap tercatat dalam sistem keuangan dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembiayaan.
Selain itu, Sukanto menilai pemerintah juga perlu mempertimbangkan kebijakan pembatasan pembelian emas agar tidak terjadi pemborongan berlebihan.
“Kalau dibiarkan, konsumsi melemah, sektor produktif tertekan, dan pertumbuhan ekonomi bisa melambat,” pungkasnya.
#emas #harga-emas #pembelian-emas #investasi-emas #kenaikan-harga-emas #permintaan-emas #bank-emas #sektor-produktif #likuiditas-perbankan #spekulasi-emas #dampak-ekonomi #pertumbuhan-ekonomi #kebijaka