Ritel Hitung Ulang Ekspansi kala Ketegangan Geopolitik Membayangi
Ketegangan geopolitik Timur Tengah membuat ritel nasional lebih selektif dalam ekspansi, meski investasi tetap kuat. APBN membantu meredam dampak kenaikan biaya.
(Bisnis.Com) 23/04/26 09:45 200102
Bisnis.com, JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai membayangi strategi ekspansi sektor ritel nasional. Meski belum berdampak langsung terhadap pembukaan gerai, pelaku usaha mulai menghitung ulang langkah ekspansi di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian global.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iqbal Shoffan Shofwan menilai ekspansi ritel, termasuk oleh pemain besar, masih berlangsung hingga saat ini, bahkan merambah pasar luar negeri.
Menurutnya, ekspansi ritel sejauh ini belum terpengaruh signifikan oleh konflik Timur Tengah. Namun, laju ekspansi tidak lagi seagresif satu dekade lalu.
“Dalam konteks ritel sepertinya belum ya. Saya pikir masih tetap menambah gerai walaupun tidak seekspansif 10 tahun yang lalu,” kata Iqbal saat ditemui seusai rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan), Jakarta, Rabu (22/4/2026).
Dari sisi kinerja, pemerintah juga belum menerima laporan penurunan penjualan akibat konflik tersebut. Bahkan, sejumlah program promosi ritel justru mencatatkan pertumbuhan.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menuturkan bahwa minat investasi di sektor ritel masih cukup kuat, termasuk dari investor asing. Hal ini didorong proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil.
“Mengenai masalah di Timur Tengah, kebetulan Indonesia ini kan pertumbuhan ekonomi masih diprediksi di 5%. Kalau dari sektor ritel sampai saat ini posisinya masih banyak investasi masuk dari luar negeri untuk membuka sektor offline,” kata Budihardjo ketika dihubungi, Rabu (22/4/2026).
Dia turut menyampaikan bahwa tingkat okupansi pusat perbelanjaan, khususnya di mal dengan traffic tinggi, juga masih terjaga. Sejumlah lokasi bahkan mencatat antrean tenant baru.
Kendati demikian, Hippindo mengakui pelaku usaha mulai mengambil sikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan investasi. “Memang kami sekarang juga pasti ada yang menahan investasi karena melihat situasiwait and see,” ujarnya.
Dia mengungkapkan tantangan utama ritel saat ini bukanlah pada ekspansi, melainkan dalam tantangan ketersediaan barang dan tekanan biaya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan IV/2025. Angkanya meningkat dibandingkan triwulan III/2025 sebesar 5,04% dan triwulan IV/2024 sebesar 5,02%.
Dari sana, lapangan usaha industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan pertumbuhan sebesar 1,10%, diikuti oleh perdagangan sebesar 0,79% dan sektor informasi dan komunikasi (infokom) sebesar 0,55%. Sementara itu, sektor pertanian turut menyumbang 0,51%, sedangkan kontribusi dari sektor lainnya tercatat sebesar 2,44%.
Ekspansi Lebih Selektif
Setali tiga uang, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai eskalasi konflik Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang perlu diantisipasi secara serius oleh dunia usaha.
Pasalnya, dampaknya mulai menjalar ke berbagai kanal, mulai dari lonjakan harga energi, tekanan inflasi, hingga volatilitas nilai tukar yang meningkatkan kerentanan rantai pasok serta menekan keuangan perusahaan dan ekspansi.
“Dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat dan serba tidak pasti, dunia usaha cenderung mengambil pendekatan yang lebihprudentdanrisk-adjusted,” kata Shinta kepadaBisnis.
Dalam hal ini, ekspansi dan investasi menjadi lebih selektif serta mempertimbangkan prospek permintaan dan stabilitas pasar, sembari fokus memperkuat arus kas melalui disiplin belanja modal, optimalisasi modal kerja, serta strategi lindung nilai untuk meredam risiko fluktuasi kurs.
Khusus di sektor ritel, dampak konflik lebih cepat terasa melalui tekanan biaya operasional dan potensi pelemahan daya beli ketimbang keputusan ekspansi secara langsung. Menurutnya, kenaikan harga minyak yang sempat mencapai kisaran US$100–120 per barel turut mendorong kenaikan biaya logistik, distribusi, dan bahan baku, yang pada akhirnya menekan margin pelaku usaha karena tidak seluruh kenaikan biaya dapat diteruskan ke harga jual.
Meski demikian, sektor ritel tetap bersifatdemand-drivendan tidak semua segmen terdampak secara merata, sehingga ekspansi gerai masih menjadi sumber pertumbuhan, hanya saja dengan pendekatan yang lebih selektif dan terukur dari sisi lokasi, waktu, maupun skala investasi.
Oleh karena itu, dunia usaha memandang pentingnya menjaga stabilitas dan kepastian, terutama terkait harga energi, nilai tukar, dan inflasi, yang disertai kelancaran logistik serta konsistensi kebijakan agar pelaku usaha tetap memiliki ruang untuk bertahan dan melanjutkan ekspansi di tengah tekanan global.
APBN Jadi Peredam
Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal menilai sektor ritel dapat terdampak konflik global melalui transmisi kenaikan harga energi yang merembet ke biaya logistik dan bahan baku. Kondisi ini berpotensi memicu gangguan pasokan dan kenaikan harga di dalam negeri.
Namun, menurutnya, tidak seluruh tekanan tersebut diteruskan ke domestik lantaran pemerintah masih menahan harga energi bersubsidi seperti BBM dan LPG, sehingga beban biaya sebagian ditanggung oleh APBN.
Alhasil, kondisi ini membuat dampak terhadap ritel tidak sebesar jika harga energi domestik disesuaikan langsung dengan pasar global, sekaligus menjadikan APBN sebagai shock absorber bagi pelaku usaha.
Meski demikian, tekanan tetap terasa dari sisi produksi, terutama karena bahan baku impor ikut terdorong naik akibat harga global dan gangguan rantai pasok. Di sisi lain, dari sisi konsumsi, kinerja ritel sangat bergantung pada daya beli masyarakat yang saat ini, khususnya kelas menengah, sudah mengalami pelemahan bahkan sebelum konflik terjadi.
Adapun ke depan, Core menilai prospek ritel dalam 6–12 bulan akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik global. Jika konflik berlarut-larut, tekanan terhadap daya beli dan kinerja usaha akan meningkat.
“Kalau kemudian cepat reda, nah ini mengurangi dampak tekanan kepada daya beli masyarakat yang berarti juga memengaruhi juga prospek daripada pelaku usaha pada umumnya, termasuk bisnis ritel,” ujarnya.
Di sisi lain, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai tekanan terbesar terhadap sektor ritel justru berasal dari faktor domestik, terutama pelemahan daya beli masyarakat. Dia memproyeksikan daya beli masih akan tertekan sepanjang tahun ini dan baru mulai membaik pada awal 2027.
Menurutnya, kenaikan harga energi global berpotensi menekan margin keuntungan pelaku usaha karena tidak seluruh kenaikan biaya dapat diteruskan kepada konsumen. Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha diimbau lebih selektif dalam melakukan ekspansi serta fokus pada efisiensi untuk menjaga kinerja bisnis.
“Ekspansi perlu ditunda, kalaupun dilakukan perlu dilakukan secara rasional dan proporsional,” ucap Wijayanto.
Dia menilai keputusan ekspansi ritel di tengah ketidakpastian global perlu dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi pasar agar tidak berlebihan. Dia juga mengingatkan agar pelaku usaha untuk menghindari ekspansi yang terlalu agresif atau overshooting dalam situasi yang belum stabil.
Selain itu, lanjut dia, kondisi saat ini berpotensi mempercepat perubahan model bisnis ritel. Pelaku usaha diperkirakan akan makin mengandalkan kanal digital atau platform elektronik, memperjelas segmentasi pasar, serta mengadopsi strategi nearshoring atau friendshoring dengan menggandeng pemasok yang lebih dekat dan stabil untuk menekan biaya logistik.
#ritel-nasional #ketegangan-geopolitik #ekspansi-ritel #pasar-luar-negeri #konflik-timur-tengah #pertumbuhan-ekonomi #investasi-ritel #tekanan-biaya #daya-beli-masyarakat #strategi-ekspansi #kenaikan-h