Alert! AI Bisa Tekan Peluang Kerja Anak Muda RI hingga 20%
AI dapat mengurangi peluang kerja anak muda Indonesia hingga 20% pada 2026, terutama di posisi entry-level. Diperlukan kebijakan dan pendidikan yang jelas untuk memitigasi dampaknya.
(Bisnis.Com) 02/01/26 16:35 91569
Bisnis.com, JAKARTA— Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi memperingatkan kehadiran kecerdasan buatan atauartificial intelligence(AI) berpotensi mengurangi banyak jenis pekerjaan pada tahun ini.
Menurut Heru, tekanan AI terhadap pasar tenaga kerja di Indonesia berpotensi lebih besar dibandingkan sejumlah negara lain. Dampak tersebut terutama dirasakan oleh pekerja muda dan posisientry level.
“Tantangannya bagi pekerja muda yang jumlahnya akan banyak karena bonus demografi, AI bisa menekan peluang entry-level hingga 20% lebih tinggi dari beberapa negara lain yang sekitar 13%,” kata Heru kepada Bisnis pada Jumat (2/1/2026)
Selain itu, Heru menyebut sektor seperti manufaktur dan administrasi mungkin kehilangan daya serap karena otomatisasi. Heru mengatakan AI hanya akan meningkatkan daya serap tenaga kerja dalam jangka panjang apabila didukung oleh kebijakan nasional yang jelas, sistem pendidikan yang visioner, serta alokasi anggaranreskillingdanupskillingyang terarah.
Sebagai perbandingan, Heru mencontohkan Singapura yang telah menyiapkan dukungan komprehensif untuk pengembangan keterampilan digital dan AI, termasuk investasi selama lima tahun untuk pengembangan dan adopsi AI. Selain itu, pemerintah setempat juga menambah alokasi National Productivity Fund guna mendorong otomatisasi dan pemanfaatan AI.
“Per individu, warga usia 40 tahun ke atas mendapatkan top-up kredit SkillsFuture untuk kursus AI dan digital, plus allowance pelatihan,” tutur Heru.
Selain berdampak pada ketenagakerjaan, Heru juga menyoroti berbagai risiko yang menyertai perkembangan AI. Menurutnya, risiko utama AI di Indonesia pada 2026 meliputi persoalan etika sepertideepfakedan misinformasi, kerentanan keamanan data terhadap peretasan, serta belum adanya regulasi yang komprehensif.
Dari sisi ekosistem, Heru menilai Indonesia sebenarnya telah menunjukkan kemajuan, terutama dalam pembangunan infrastruktur digital. Pusat data yang siap mendukung kebutuhan AI mulai tersedia, sementara jaringan telekomunikasi semakin luas dan cepat.
Namun demikian, dia menilai persoalan utama justru terletak pada absennya arah strategis yang jelas. Menurut dia, pengembangan AI di Indonesia masih cenderung bersifat simbolik dan naratif, tanpa peta jalan yang konkret.
Menurutnya, AI di Indonesia masih sebatas gimmick dan bahasa ‘jualan’ narasiagar seolah negara siap mengembangkan AI.
“Padahal AI mau dibawa ke mana, mengaturnya seperti apa, kesiapan talenta bagaimana dan sebagainya. masih terbatas; dibutuhkan lebih banyak data scientist dan engineer AI,” ujarnya.
Heru menambahkan, secara global Indonesia masih berada di peringkat menengah dalam Indeks Kesiapan AI. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pembenahan menyeluruh, baik dari sisi kebijakan, infrastruktur, maupun pengembangan sumber daya manusia.
“Secara keseluruhan, strategi nasional masih belum jelas, dan tentu juga infrastruktur dan kebijakan perlu ditingkatkan untuk percepatan adopsi. Indonesia saat ini masih ada di peringkat menengah di Indeks Kesiapan AI global,” kata Heru.
Dia menekankan pengembangan AI dalam konteks negara menuntut prosesre-imagining,re-thinking,re-planning, danre-skillingsecara menyeluruh. Namun, menurutnya, fokus pembangunan Indonesia saat ini masih lebih condong pada sektor lain, seperti penguatan militer, program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan hilirisasi, sementara pembangunan digital belum menjadi prioritas utama.
“Padahal, di semua negara kita bicara digital, baik militer, pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan dan lainnya,” tegasnya.
#ai-indonesia #kecerdasan-buatan #lapangan-kerja #tenaga-kerja #peluang-kerja-ai #dampak-ai-pekerjaan #ai-entry-level #otomatisasi-kerja #reskilling-upskilling #risiko-ai-indonesia #ai-deepfake #keaman