Harga CPO Turun ke Bawah 4.000 Ringgit per Ton Imbas Ekspor Lesu Malaysia

Harga CPO Turun ke Bawah 4.000 Ringgit per Ton Imbas Ekspor Lesu Malaysia

Harga CPO turun di bawah 4.000 ringgit per ton akibat ekspor Malaysia yang lesu dan pelemahan harga minyak kedelai. Ekspor CPO Malaysia turun 16% di Desember.

(Bisnis.Com) 16/12/25 17:03 74751

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) turun ke bawah 4.000 ringgit per ton dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan. Tekanan terhadap harga CPO mengikuti pelemahan harga minyak kedelai serta tekanan dari kinerja ekspor Malaysia yang lesu.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives turun sebanyak-banyaknya 0,9% ke 3.971 ringgit per ton. Harga sempat bergerak ke 3.985 ringgit per ton atau turun 11% sejak awal tahun (year-to-date/ytd). Sementara itu, harga minyak kedelai kontrak pengiriman Maret di Chicago turun 0,6%.

Adapun, minyak kedelai sebagai produk substitusi terdekat minyak sawit di pasar bahan bakar dan pangan sempat ditutup melemah 1,2% pada Senin (15/12/2025). Harga minyak kedelai ini sudah turun selama tiga hari berturut-turut.

Sementara itu, harga biji kedelai juga sempat merosot hingga 0,9% semalam dan menyentuh level terendah dalam lebih dari enam pekan. Penurunan harga ini disebabkan oleh perhatian pelaku pasar ke kemungkinan China akan memenuhi target pembelian 12 juta ton hasil panen AS hingga akhir tahun.

Selain itu, koreksi permintaan minyak sawit semakin menekan harga setelah ekspor Malaysia pada paruh pertama Desember turun 16% secara bulanan. Data Intertek Testing Services menunjukkan ekspor CPO Malaysia turun 15,89% secara bulanan.

Budiman Suwardi, Kepala Treasury dan Pasar di Prime EcoHarvest Commodities, menduga permintaan CPO pada akhir tahun ini kemungkinan tidak sekuat yang diantisipasi pasar.

"Curah hujan di Asia Tenggara juga menjadi faktor yang perlu dicermati hingga akhir tahun, meskipun sejauh ini belum memberikan dampak besar terhadap produksi maupun logistik," kata Suwardi, dikutip Bloomberg pada Selasa (16/12/2025).

Sementara itu, penguatan ringgit diperkirakan akan mengungguli mata uang Asia lainnya untuk tahun kedua berturut-turut. Sejumlah analis bahkan memperkirakan kinerja kuat ringgit berlanjut hingga 2026, sehingga komoditas tropis yang diperdagangkan dalam ringgit menjadi kurang menarik bagi pembeli luar negeri.

#harga-cpo #cpo-malaysia #ekspor-malaysia #minyak-sawit #harga-minyak-sawit #harga-minyak-kedelai #ekspor-cpo #harga-cpo-turun #ringgit-malaysia #pasar-bahan-bakar #pasar-pangan #permintaan-cpo #produk

https://market.bisnis.com/read/20251216/94/1937310/harga-cpo-turun-ke-bawah-4000-ringgit-per-ton-imbas-ekspor-lesu-malaysia