Ekonomi Digital Asia Tenggara Diperkirakan Tembus Rp1.656 triliun pada 2025
Ekonomi digital Asia Tenggara diproyeksikan mencapai Rp1.656 triliun pada 2025, didorong oleh pertumbuhan e-commerce dan pemulihan sektor pariwisata.
(Bisnis.Com) 17/11/25 10:48 40267
Bisnis.com, JAKARTA — Nilai transaksi ekonomi digital atau gross merchandise value (GMV) di kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$99 miliar atau sekitar Rp1.656 triliun (asumsi kurs Rp16.737 per dolar AS) pada 2025.
Proyeksi ini tercantum dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2025 yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi digital Asia Tenggara terus tumbuh pesat dengan pertumbuhan dua digit setiap tahunnya, meski menghadapi tekanan makroekonomi global.
GMV kawasan tercatat sebesar US$76 miliar atau sekitar Rp1.271 triliun pada 2023, kemudian naik 15% menjadi US$87 miliar atau sekitar Rp1.455 triliun pada 2024, dan kembali diproyeksikan meningkat 14% menjadi US$99 miliar atau sekitar Rp1.656 triliun pada 2025.
Penambahan negara seperti Brunei, Kamboja, Laos, dan Myanmar dalam analisis terbaru menunjukkan kontribusi sekitar 2% terhadap total GMV regional. Sektor e-commerce tetap menjadi penyumbang terbesar dengan nilai GMV diperkirakan mencapai US$185 miliar atau sekitar Rp3.096 triliun pada 2025, naik dari US$181 miliar atau sekitar Rp3.029 triliun pada 2024.
Sektor perjalanan (travel) dan pariwisata digital yang sempat tertekan akibat pandemi kini menunjukkan pemulihan kuat dengan GMV mencapai US$51 miliar atau sekitar Rp853 triliun, sementara transportasi dan layanan makanan digital menyumbang US$34 miliar atau sekitar Rp569 triliun.
Adapun sektor media daring mencatat nilai transaksi sekitar US$31 miliar atau sekitar Rp519 triliun pada tahun yang sama.
Dari sisi pendapatan (revenue), ekonomi digital Asia Tenggara juga menunjukkan tren positif. Total pendapatan tercatat sebesar US$76 miliar atau sekitar Rp1.271 triliun pada 2023, naik menjadi US$87 miliar atau sekitar Rp1.455 triliun pada 2024, dan diperkirakan mencapai US$100 miliar atau sekitar Rp1.674 triliun pada 2025.
Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan efisiensi monetisasi di berbagai platform digital, dari e-commerce hingga media daring, yang kini makin canggih berkat integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Google, Temasek, dan Bain & Company menilai pertumbuhan pendapatan yang sejalan dengan kenaikan GMV mencerminkan kematangan industri digital di kawasan. Konsolidasi pasar yang tengah berlangsung membuat ekosistem digital Asia Tenggara semakin stabil, dengan pemain besar memperkuat efisiensi dan skala bisnis melalui inovasi serta strategi yang berorientasi pada pengguna.
#ekonomi-digital #asia-tenggara #gmv-2025 #e-commerce-asia-tenggara #pariwisata-digital #transportasi-digital #media-daring #pendapatan-digital #pertumbuhan-ekonomi-digital #laporan-e-conomy-sea #googl