Pengusaha Teriak Nasib Industri Ban RI di Ujung Tanduk, Ini Biang Keroknya

Pengusaha Teriak Nasib Industri Ban RI di Ujung Tanduk, Ini Biang Keroknya

Industri ban Indonesia tertekan akibat penurunan permintaan domestik dan hambatan ekspor seperti tarif tinggi dan kendala sertifikasi di pasar global.

(Bisnis.Com) 04/11/25 15:26 27084

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) membeberkan sejumlah tantangan berat yang dihadapi oleh para pelaku industri ban di pasar ekspor.

Ketua Umum APBI Aziz Pane mengatakan, sejatinya industri ban nasional sudah tertekan seiring dengan turunnya permintaan di pasar domestik akibat pelemahan daya beli konsumen.

"Sementara dari sisi ekspor, industri ban nasional juga menghadapi sejumlah hambatan di beberapa negara," katar Aziz kepada Bisnis, dikutip Selasa (4/11/2025).

Lebih lanjut, dia mengatakan, beberapa tantangan yang dihadapi meliputi tarif bea masuk yang tinggi, hingga kendala aturan terkait sertifikasi produk. Alhasil, nilai ekspor ban buatan Indonesia ke berbagai negara juga mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Adapun, nilai ekspor ban Indonesia tembus US$1,6 miliar sepanjang 2024. Namun, angka itu turun 10,78% (year-on-year/yoy) dibandingkan US$1,8 miliar pada 2023.

Amerika Serikat (AS) menjadi pasar ekspor ban terbesar bagi Indonesia, dengan nilai US$800,4 juta, disusul Jepang sebesar US$100,4 juta dan Malaysia senilai US$77,58 juta.

Aziz mengatakan, sebelumnya, ekspor ban ke AS menikmati tarif 0% berkat fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) untuk negara berkembang. Fasilitas GSP merupakan skema keringanan tarif impor yang diberikan oleh AS kepada negara-negara berkembang untuk membantu peningkatan ekspor.

"Namun setelah kebijakan baru sejak era Trump, tarifnya naik menjadi 19%, ditambah lagi tarif tambahan 25% untuk suku cadang otomotif. Akibatnya, total tarif ekspor ban Indonesia ke AS kini sekitar 21%, yang jelas menurunkan daya saing produk kita di pasar sana," jelasnya.

Sementara itu, lanjut Aziz, ekspor ban ke Thailand juga terkendala oleh kewajiban sertifikasi Thailand Industrial Standard (TIS) yang hingga sekarang belum terselesaikan, sehingga ekspor ke sana terhenti sejak 2024.

Beralih ke India, sejak 2023, ekspor ban ke India juga terhenti karena kendala sertifikasi Bureau of Indian Standards (BIS), dengan potensi kerugian sekitar US$2 juta per tahun.

"Padahal, Indonesia tidak pernah membekukan sertifikasi SNI untuk produk dari India. Berbagai upaya, termasuk di forum WTO, belum membuahkan hasil. Kami berharap pemerintah dapat mengambil langkah lebih tegas, baik secara bilateral maupun multilateral," jelasnya.

Selain itu, kendala tarif yang tinggi juga dialami oleh pelaku industri ban saat mengekspor produknya ke Turki dan Afrika Utara. Alhasil, APBI menilai perlu ada langkah government-to-government (G to G) agar kebijakan ini bisa ditinjau ulang demi hubungan dagang yang lebih adil dan saling menguntungkan.

10 Pasar Ekspor Ban Indonesia Terbesar 2024:

1. AS: US$800,4 juta

2. Jepang: US$100,44 juta

3. Malaysia: US$77,58 juta

4. Filipina: US$57,57 juta

5. Singapura: US$48,91 juta

6. Meksiko: US$47,75 juta

7. Kanada: US$46,06 juta

8. Inggris: US$27,67 juta

9. Thailand: US$26,75 juta

10. Italia: US$24,61 juta

#industri-ban #ekspor-ban #pasar-ekspor-ban #tarif-bea-masuk #sertifikasi-produk #daya-saing-produk #generalized-system-of-preferences #tarif-impor-as #ekspor-ban-indonesia #pasar-ekspor-as #sertifikas

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251104/257/1925972/pengusaha-teriak-nasib-industri-ban-ri-di-ujung-tanduk-ini-biang-keroknya