Asosiasi Keramik Sambut Harga Gas Industri Turun, Singgung Porsi HGBT
Asaki menyambut penurunan harga gas industri dan peningkatan alokasi HGBT, yang diharapkan dapat menurunkan biaya produksi, menjaga daya saing, dan mencegah PHK
(Bisnis.Com) 29/06/26 20:23 263065
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai bahwa langkah pemerintah dalam menurunkan harga gas alam cair (LNG) industri dan meningkatkan alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat menjadi angin segar bagi industri keramik nasional yang sebelumnya menghadapi tekanan biaya energi tinggi.
Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyampaikan bahwa harga regasifikasi LNG yang turun menjadi US$13 per MMBtu serta alokasi HGBT yang naik menjadi 50% akan dapat menghidupkan kembali optimisme pelaku industri dalam meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat daya saing sektor manufaktur nasional.
Di samping itu, kebijakan tersebut dinilai dapat memberi kepastian bagi dunia usaha di tengah tantangan industri yang cukup berat dalam beberapa tahun terakhir.
“Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangannya, Senin (29/6/2026).
Dia memandang bahwa kebijakan ini akan mampu mengurangi tekanan biaya energi gas pada industri keramik nasional, yang mencapai sekitar 50% dari total biaya produksi keramik.
Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, Asaki memperkirakan rata-rata biaya gas industri keramik dapat turun menjadi sekitar US$9,5 hingga US$10 per MMBtu, atau setara sekitar 38%–40% dari total biaya produksi.
Pihaknya menilai penurunan biaya ini penting, lantaran dapat membantu industri menjaga keberlanjutan operasional, sekaligus menekan risiko pengurangan tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kendati demikian, pihaknya berharap agar pemerintah dapat meningkatkan kembali porsi alokasi HGBT menjadi sekitar 70%–80% ke depan, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya. Hal ini dianggap penting guna memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari Cina dan India.
“Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, Asaki menilai kebijakan ini juga akan memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian,” imbuhnya.
Edy lantas menyampaikan bahwa kepastian pasokan gas dan iklim usaha mendorong industri keramik Tanah Air lebih optimistis untuk melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025–2029.
Rencana tersebut mencakup tambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
“Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional,” pungkas Edy.
#gas #harga-gas #harga-gas-industri #asosiasi-keramik #industri-keramik-nasional #harga-gas-bumi-tertentu #biaya-energi-tinggi #kapasitas-produksi #daya-saing-industri #kebijakan-energi #biaya-produksi