Arus Kontainer Dorong Ekspansi Terminal Peti Kemas

Arus Kontainer Dorong Ekspansi Terminal Peti Kemas

Pemerintah mempercepat konversi terminal multipurpose menjadi terminal peti kemas untuk mengimbangi peningkatan arus kontainer dan mendukung perdagangan nasional.

(Bisnis.Com) 05/06/26 10:40 240816

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mempercepat konversi terminal multipurpose menjadi terminal peti kemas seiring pertumbuhan arus kontainer yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir, untuk mengantisipasi kebutuhan kapasitas baru di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan, industri, dan distribusi barang nasional.

Realisasi arus peti kemas nasional menunjukkan tren peningkatan dalam 5 tahun terakhir. Sepanjang 2025, volume peti kemas yang dilayani Pelindo mencapai 19,79 juta TEUs atau tumbuh 5,2% dibandingkan tahun sebelumnya sekaligus melampaui target 18,8 juta TEUs.

Pada 2023, Pelindo berhasil melayani 17,65 juta TEUs. Sementara pada 2022 dan 2021, masing-masing arus peti kemas mencapai 17,22 juta TEUs dan 17,05 juta TEUs.

Kenaikan volume yang konsisten tersebut mendorong pemerintah mempercepat penambahan kapasitas layanan pelabuhan. Selain pembangunan dan modernisasi infrastruktur, salah satu langkah yang ditempuh adalah mengalihkan sejumlah terminal multipurpose menjadi terminal peti kemas untuk mengantisipasi kebutuhan layanan kontainer yang terus meningkat.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan, pemerintah terus mendorong badan usaha pelabuhan meningkatkan kapasitas dan layanan peti kemas untuk mengimbangi pertumbuhan volume yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengubah fungsi sejumlah terminal yang sebelumnya berstatus multipurpose menjadi terminal peti kemas.

"Selanjutnya, terminal tersebut ditetapkan sebagai terminal peti kemas oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP sebagai penyelenggara pelabuhan," ujar Masyhud, dikutip pada Kamis (4/6/2026).

Hingga April 2026, pemerintah telah menetapkan 12 lokasi terminal sebagai terminal peti kemas, termasuk Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Langkah tersebut dibarengi dengan penerapan standar kinerja pelayanan operasional serta evaluasi berkala terhadap produktivitas bongkar muat dan peralatan pelabuhan.

Di saat yang sama, pemerintah juga mempercepat peningkatan kapasitas pelabuhan melalui pengembangan terminal peti kemas, pendalaman alur pelayaran, penambahan kapasitas tambatan dan lapangan penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, hingga digitalisasi layanan kepelabuhanan.

Dalam periode 2025—2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik pemerintah dilakukan di 74 lokasi di berbagai wilayah Indonesia.

Penguatan infrastruktur tersebut diarahkan untuk memperkuat konektivitas logistik nasional, mendukung kawasan industri dan hilirisasi, serta mengantisipasi pertumbuhan perdagangan intra-Asia yang masih menjadi penopang utama perdagangan Indonesia.

"Pelabuhan Indonesia diharapkan mampu mengimbangi peningkatan arus peti kemas internasional maupun domestik yang diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

PERDAGANGAN MASIH KUAT

Peningkatan kapasitas tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan aktivitas perdagangan yang tercermin dari kinerja arus peti kemas nasional.

Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengatakan pertumbuhan volume hingga April 2026 mencapai 6,42 TEUs atau naik 7% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini ditopang oleh kenaikan arus internasional maupun domestik.

"Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11%, dengan ekspor tumbuh 10% dan impor naik 12%. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4%," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih berjalan baik. Distribusi barang antarpulau juga tetap kuat sehingga menopang konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah.

Struktur perdagangan Indonesia yang masih terkonsentrasi di kawasan Asia turut menjadi bantalan di tengah ketidakpastian global. Kawasan China dan Asean saat ini menyumbang sekitar 46,2% ekspor Indonesia dan 56,5% impor nasional.

Pertumbuhan juga terlihat di sejumlah pelabuhan utama. Tanjung Priok mencatat kenaikan arus domestik sekitar 8%, sementara Makassar tumbuh sekitar 7% seiring meningkatnya distribusi barang dan pergerakan komoditas pertanian menuju berbagai wilayah di Indonesia timur.

Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas manufaktur, perdagangan, dan distribusi nasional masih bergerak positif pada awal tahun yang dihadapkan dengan gejolak geopolitik dan berimbas pada penutupan sebagian jalur perdagangan.

EFISIENSI LOGISTIK

Kalangan pelaku usaha menilai peningkatan kapasitas terminal peti kemas memang diperlukan untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan yang terus terjadi.

Ketua Bidang Perhubungan dan Logistik Apindo Carmelita Hartoto mengatakan pertumbuhan sektor peti kemas relatif stabil dan bergerak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kalau kita lihat memang sektor peti kemas juga tumbuh yang baik, setidaknya sampai April ini tumbuh 7%. Peningkatan kapasitas dan layanan petikemas tentunya melihat pada kebutuhan dari pertumbuhan tersebut," katanya.

Menurut Carmelita, perubahan terminal konvensional menjadi terminal peti kemas berpotensi mempercepat proses bongkar muat dan meningkatkan efisiensi distribusi barang. Penggunaan kontainer memungkinkan proses penanganan barang berlangsung lebih cepat dibandingkan pola pengangkutan konvensional.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa peningkatan kapasitas pelabuhan tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan logistik nasional. Termasuk biaya logistik yang masih tinggi.

Menurutnya, biaya logistik Indonesia dibentuk oleh banyak mata rantai mulai dari angkutan darat, pelabuhan, pelayaran, pergudangan hingga distribusi ke konsumen akhir. Berbeda dengan negara kontinental seperti Singapura.

Karena itu, upaya efisiensi harus dilakukan secara menyeluruh apabila pemerintah ingin mencapai target penurunan biaya logistik menjadi 12,5% pada 2029

"Jadi memang bicara logistik kita mesti lebih komprehensif, bukan satu dua pos saja secara parsial," ujar Carmelita.

#kontainer #terminal-peti-kemas #arus-kontainer #pelabuhan-indonesia #ekspansi-terminal #perdagangan-internasional #distribusi-barang #kapasitas-pelabuhan #modernisasi-infrastruktur #logistik-nasional #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260605/98/1978593/arus-kontainer-dorong-ekspansi-terminal-peti-kemas